Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan dua kawasan industri agromaritim pengolahan udang untuk mendorong hilirisasi perikanan dan menarik investasi ekspor berbasis komoditas unggulan daerah.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim mengatakan kawasan strategis tersebut adalah Labuhan Lombok di Kabupaten Lombok Timur dan Teluk Santong di Kabupaten Sumbawa.
"Kedua kawasan itu berstatus clean and clear. Lokasi dekat dengan pelabuhan perikanan serta telah dilengkapi dengan studi kelayakan dan detail engineering design yang menunjukkan kelayakan tinggi," ujar dia di Mataram, Jumat.
Pemerintah NTB memproyeksikan Labuan Lombok dan Teluk Santong menjadi pusat pengelolaan udang terintegrasi dengan dukungan bahan baku melimpah dan akses langsung ke pasar internasional.
Pada 2025, Nusa Tenggara Barat memproduksi udang vaname sebanyak lebih dari 198 ribu ton. Jumlah produksi yang melimpah tersebut menjadi modal kuat untuk pengembangan industri pengolahan udang.
Muslim menilai prospek industri pengolahan udang masih sangat besar berupa permintaan langsung dari pasar global yang terus tumbuh sekitar 5 sampai 7 persen per tahun, seperti Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, China, dan Asia Tenggara.
"Sektor kelautan dan perikanan memiliki prospek besar untuk dikembangkan melalui investasi strategis," ucap dia.
Pemerintah NTB memberikan dukungan penuh berupa insentif investasi serta kemudahan perizinan sebagai bentuk karpet merah bagi para investor yang menanamkan modal, terkhusus Labuan Lombok dan Teluk Santong.
Baca juga: NTB membangun ekosistem agromaritim terintegrasi
Muslim menyampaikan pemerintah daerah saat ini sedang berupa membangun Pelabuhan Soroadu di Kabupaten Dompu untuk mendukung Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 573 sebagai pusat bongkar muat dan pengolahan pasca tangkapan.
Komoditas tuna, tongkol, dan cakalang Nusa Tenggara Barat juga telah memiliki sertifikat Marine Stewardship Council (MSC) standar internasional dalam hal tata kelola penangkapan.
Baca juga: Ketika darat dan laut bertaut
Standar keberlanjutan global MSC membuat produk perikanan tangkap lebih mudah masuk ke berbagai supermarket di Eropa, Amerika, dan Jepang. Sertifikasi MSC menuntut pengelolaan stok ikan di laut agar tidak habis, sehingga menjamin usaha nelayan tetap berlanjut hingga jangka panjang.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026