Kairo (ANTARA/AFP) - Mesir pada Selasa menyambut baik pernyataan para pemimpin Hamas bahwa mereka siap bersatu dengan lawan politik mereka, Fatah, namun mengatakan cetak biru Kairo bagi rekonsiliasi Palestina belum rampung dirundingkan.

"Mesir menyambut baik pernyataan-pernyataan dari para pemimpin Hamas yang mencerminkan bahwa mereka juga ingin mencapai rekonsiliasi Palestina," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, Hossam Zaki.

Namun ia mengesampingkan keinginan Hamas untuk memperbarui rancangan dokumen akhir yang diajukan Mesir untuk mendorong rekonsiliasi antara faksi Hamas dan Fatah pimpinan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

"Keinginan Hamas untuk memperbarui dokumen usulan Mesir itu dapat menangguhkan rekonsiliasi untuk jangka waktu tak terbatas," kata Zaki dalam satu pernyataan.

"Membuka jalan untuk perubahan dokumen itu menunjukkan langkah mundur," kata dia merujuk pada upaya Hamas untuk memperbarui draf dokumen usulan rekonsiliasi yang diajukan Mesir.

Usaha Mesir untuk menyatukan kembali dua faksi bertikai itu selalu gagal dan Kairo telah menangguhkan dua kali rencana penandatanganan perjanjian rekonsiliasi akibat pertikaian kedua faksi.

Hamas menolak menandatangani perjanjian rekonsiliasi itu yang sedianya berlangsung di Kairo Oktober lalu.

Perjanjian rekonsiliasi tersebut diharapkan dapat meratakan jalan bagi pemilihan anggota parlemen dan presiden.

Faksi Fatah telah menandatangani perjanjian rekonsiliasi tersebut.

Pernyataan Mesir menyambut baik keinginan Hamas tersebut disampaikan menyusul pernyataan Khaled Meshaal, pemimpin Hamas di pengasingan, mengatakan akhir pekan lalu bahwa pihaknya ingin rekonsiliasi dengan Fatah bila diundang lagi ke Mesir.

"Rekonsiliasi segera akan dicapai," kata Meshaal di Damaskus, Suriah pada Ahad saat menyampaikan belasungkawa kepada Mahmud Mabhuh, tokoh Hamas yang tewas dibunuh di Dubai, Uni Arab Emirat, 20 Januari lalu.

Ia menyerukan Mesir untuk "menerima kami di Kairo, dan Anda akan menyaksikan bahwa rekonsiliasi dengan Fatah akan segera tercapai. Ini adalah pesan saya kepada Mesir."

Hamas mengusir Fatah dari Jalur Gaza pada Juni 2007 setelah bentrokan berdarah antara kedua pihak, setahun setelah Hamas meraih kemenangan dalam pemilu Palestina.

Ketegangan dengan Mesir memuncak setelah Hamas menolak menandatangani perjanjian itu, dan diperburuk lagi dengan pembangunan tembok oleh Mesir di perbatasannya dengan Gaza guna mencegah penyelundupan senjata lewat terowongan bawah tanah.(*)

Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2024