Mataram, 3/6 (ANTARA) - Puluhan warga melempari PT PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat dengan barang elektronik bekas saat berunjuk rasa di depan kantor perusahaan tersebut, Kamis, sekitar pukul 10.00 WITA.
Aksi melempar barang elektronik bekas itu dilakukan setelah lebih dari 30 menit kelompok warga yang tergabung dalam Federasi Serikat Nelayan Tani Buruh Indonesia dengan koordinator Edy Irwanto menggelar unjuk rasa disertai orasi memprotes pemadaman listrik secara bergilir.
Barang elektroknik bekas seperti kipas angin, "keyboard" dan "printer" dilemparkan ke halaman Kantor PT PLN Wilayah NTB yang dijaga aparat kepolisian.
Pengunjuk rasa juga membawa monitor dan "CPU" namun belum sempat dilemparkan karena aparat kepolisian sudah melarang aksi tersebut.
Saat barang elektronik bekas itu dilempari ke halaman kantor PLN, sejumlah pengunjuk rasa berteriak histeris dan menyoraki instansi tersebut bahwa barang elektronik yang rusak itu akibat listrik padam secara tiba-tiba.
"Ini akibat listrik sering padam, pegawai PLN pakai saja komputer bekas ini untuk bekerja biar tahu rasanya listrik padam," teriak seorang pengunjuk rasa dari tengah kerumunan.
Dalam unjuk rasa itu mereka juga membawa beragam spanduk antara lain bertuliskan "Stop pemadaman listrik di NTB", "PLN = Perusahaan Lilin Negara".
Spanduk lainnya bertuliskan "Listrik mati, IPM NTB rendah, ekonomi terpuruk, pendidikan tertinggal, perut melilit".
Dalam orasi secara bergantian mereka mendesak PLN Wilayah NTB untuk menghentikan pemadaman bergilir saat ini juga, dan mendesak PLN memberikan kompensasi atau ganti rugi kepada pelanggan listrik karena listrik sering padam.
Mereka bahkan mengancam akan membawa ribuan orang untuk berunjuk rasa lagi jika permintaan tidak disanggupi manajemen PLN NTB.
Unjuk rasa yang dilakukan kelompok Federasi Serikat Nelayan Tani Buruh Indonesia itu merupakan aksi kedua, sedangkan aksi pertama dilakukan pada 3 Mei lalu ketika Direktur Utama PT PLN Dahlan Iskan berkunjung ke NTB.
Dalam aksi pertama itu mereka melempari kantor PT PLN NTB dengan tomat busuk.
Defisit 40,2 MW
Manager SDM dan Komunikasi Hukum Administrasi PT PLN Wilayah NTB Ahmad Zudjadj sebelumnya mengatakan pemadaman bergilir semakin meluas karena defisit energi di Sistem Lombok meningkat dari 28,2 mega watt (MW) menjadi 40,2 MW.
Beban puncak Sistem Lombok sudah mencapai 110,2 MW lebih sementara daya mampu hanya 70 MW, sehingga terjadi defisit pasokan listrik sebesar 40,2 MW.
Semula Sistem Lombok hanya defisit 28,2 MW sehingga pemadaman bergilir berlangsung tiga atau empat hari sekali, selama tiga hingga empat jam sekali pemadaman.
Namun kini dengan defisit sebesar 40,2 MW pemadaman bergilir menjadi dua hari sekali dalam jangka waktu lima hingga enam jam sekali pemadaman.
"Sekali lagi kami mohon maaf atas ketidaknyamanan pelayanan listrik, terutama di Pulau Lombok yang defisit 40,2 MW itu. Kami tengah mengupayakan solusinya," ujar Sudjadj.
Ia mengakui bertambahnya defisit energi listrik Sistem Lombok itu karena sejumlah mesin pembangkit listrik rusak cukup parah.
"Ada beberapa mesin yang rusak cukup parah sehingga defisit bertambah, dan pemadaman semakin meluas," ujarnya.(*)
***1***
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026