Mataram, 3/6 (ANTARA) - Dua kepala keluarga imigran asal Afghanistan yang kini ditampung di Hotel Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menolak disensus petugas dengan alasan status belum jelas.
"Dua imigran itu sampai hari ini tidak mau dimintai keterangan. Petugas sudah mendatangi dan diterima dengan baik. Tetapi kalau ditanya data keluarga, mereka tutup mulut," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Soegarenda, di Mataram, Kamis.
Menurut informasi dari masyarakat di sekitar tempat penampungan, keberadaan dua kepala keluarga imigran asal Afghanistan tersebut sudah lebih dari sepuluh tahun.
"Masing-masing kepala keluarga sudah memiliki empat orang anak dan semuanya bersekolah sekitar lokasi penampungan," katanya.
Ia mengatakan para imigran itu enggan disensus karena masih menunggu kejelasan status dari Lembaga PBB urusan Pengungsi (UNHCR), apakah mereka akan dikirim ke negara pemberi suaka dan tetap mendapat bantuan kebutuhan sehari-hari.
"Informasi yang diperoleh menyebutkan mereka sudah tidak lagi mendapat bantuan untuk kebutuhan hidup dari UNHCR sejak delapan tahun lalu. Ini informasi dari masyarakat," katanya.
Menurut dia para imigran itu wajib hukumnya untuk disensus karena mereka sudah tinggal cukup lama di wilayah NTB, meski mereka belum resmi menjadi warga negara Indonesia.
Ia mengatakan pihaknya tetap akan mendekati imigran tersebut untuk memberikan keterangan yang dibutuhkan. Selain itu, koordinasi dengan UNHCR perwakilan NTB juga terus dilakukan.
"Kami juga sudah bersurat resmi ke lembaga-lembaga terkait seperti imigrasi dan UNHCR untuk melakukan pendataan terhadap para imigran di NTB. Itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.
Soegarenda mengatakan berbeda dengan para imigran yang sudah lama tinggal di Kota Mataram, sensus yang dilakukan tidak menemui kendala.
"Mereka menerima petugas dengan baik dan memberikan keterangan sesuai fakta," katanya.
Menurut dia pihaknya memperkirakan kemudahan mendata imigran yang ditampung di Kota Mataram juga akan terjadi di Sumbawa, namun kenyatannya tidak.
"Meski demikian petugas akan terus mendekati mereka agar mau disensus," katanya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026