Mataram,  (ANTARA) - Pengusaha pengiriman kerajinan buah kering di Nusa Tenggara Barat mengungapkan bahwa usaha tersebut saat ini terus menggeliat seiring bergairahnya permintaan pasar luar negeri.

  Salah seorang pengusaha pengiriman buah kering ke luar negeri, Ari Aditya, di Mataram (16/7), mengungkapkan bahwa ekspor kerajinan buah kering saat ini masih cukup bergairah.

  Negara-negera tujuan ekspor seperti Eropa dan Amerika Serikat, masih membantu kelangsungan produksi perajin lokal di Nusa Tenggara Barat (NTB).

  "Kerajinan buah kering masih lebih banyak diminta oleh pasar Eropa dan Amerika kendati belum bisa diekspor secara direct (langsung)," katanya ketika berkonsultasi dengan Kepala Badan Pengembangan Pendidikan dan Promosi Ekonomi Daerah (BP3ED) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB. Hj. Farida.

  Ia mengatakan, kendati pasar ekspor masih lesu namun permintaan buah kering cukup signifikan.

  Ari mengaku, mampu mengirimkan "order" dengan nilai sekitar Rp200 juta pada 2009. Pada 2008, angka penjualan bahkan sempat menyentuh Rp400 juta.

  "Nilainya masih relatif kecil, namun untuk kerajinan buah kering angka ini cukup bagus," ujarnya.

  Menurut dia, buah kering yang keberadaannya masih cukup banyak di NTB. Buah-buah itu jika dipoles sedemikian rupa akan menghasilkan karya yang bernilai ekonomi tinggi.

  Ari mengolah buah kering tersebut membentuk produk unik yang diinginkan pasar, seperti menempelkannya dalam bingkai foto atau cermin.

  Saat ini, dirinya masih belum memperoleh nilai tambah yang besar dari usahanya karena dalam proses pemasaran ke luar negeri masih mengandalkan pengiriman melalui "trader" di luar daerah seperti Bali, Jakarta dan Yogyakarta.

  "Produksi masih tergantung dari orderan. Sebelumnya memang kita juga menawarkan produk melalui email, menampilkan foto-foto produk, setelah ada order baru diproduksi," katanya.

  Kepala BP3ED, Disperindag NTB Hj. Farida, mengatakan produk naturalis seperti buah kering memang banyak diminati pasar luar negeri. Berbeda dengan produk kerajinan gerabah yang sudah lama digeluti pengrajin NTB mulai mengalami reorientasi.

  "Dulunya gerabah besar-besar yang banyak laku, sekarang bergeser ke gerabah kecil. Permintaan itu umumnya disesuaikan dengan tipe rumah konsumen luar negeri," ujarnya.

  Menurut dia, tipe konsumen di Amerika Serikat belakangan ini lebih tertarik ke gerabah kecil seperti "Plasmet" dan "Koster". Kerajinan ini umumnya dipergunakan sebagai tatakan atau tempat botol minuman atau makanan.

  Sebaliknya di Australia, dengan tekstur rumah yang besar masih merupakan pasar utama penjualan gerabah besar seperti gentong.

  "Negara Eropa dan Amerika Latin juga mempunyai tipikal sendiri. Italia lebih menyukai "Plasmet" dengan motif batik, sedangkan Chili dan Peru lebih menyukai motif dengan pinggiran rotan," ujar Farida.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026