Dalam aksinya itu KAMMI NTB didukung Aliansi Mahasiswa Anti Amerika seperti Puskomda Nusra Raya, namun jumlah mahasiswa yang menggelar demo penolakan itu hanya 20 orang lebih.
Aksi massa itu dikoordinir oleh Rapi'i dari Puskomda Nusra Raya sekaligus Koordinator Aliansi Anti Amerika di wilayah NTB dan Mawardi Khairi yang juga Ketua KAMMI NTB.
Mereka melakukan "long march" di Jalan Langko, Kota Mataram sambil membawa atribut KAMMI NTB, hingga memasuki kompleks Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Rapublik Indonesia (RRI) Mataram, guna menyampaikan aspirasinya.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala LPP RRI Mataram, Drs Dewa Made Darma Yasa, bersedia menerima perwakilan aksi massa untuk melakukan dialog dengan para mahasiswa itu.
Menurut Rapi'i, kedatangan mereka di Kantor LPP RRI Mataram itu bukan untuk menyoroti kinerja RRI, melainkan untuk menyampaikan aspirasi melalui siaran radio agar didengar seluruh masyarakat NTB.
"Kami mohon maaf kalau mengganggu aktivitas RRI, kami hanya ingin menyuarakan aspirasi agar didengar seluruh masyarakat NTB terkait penolakan terhadap kunjungan Menlu AS di Indonesia," ujar Rapi'i.
Menanggapi hal itu, Darma Yasa yang didampingi Kasi Penyiaran, Dedi Sukardi, SH, mempersilahkan perwakilan mahasiswa itu memasuki studi penyiaran untuk menyampaikan aspirasinya.
"Silahkan sampaikan aspirasinya, kami akan rekam dan siarkan pada waktu penyiaran siaran regional tahap berikutnya karena baru saja terlewati waktu penyiaran regional itu," ujarnya.
Rapi'i dan empat orang rekan mahasiswanya kemudian menyampaikan pernyataan sikap mereka di studio penyiaran LPP RRI Mataram yang pada intinya menyatakan menolak kunjungan Menlu AS ke Indonesia.
Alasan mereka, AS merupakan sekutu Israel yang melakukan agresi ke Palestina.
Menlu AS dijadwalkan berkunjung ke Indonesia, Rabu (18/2) dan dilaporkan akan tiba di Jakarta sore nanti, setelah melakukan kunjungan kerja selama tiga hari di Tokyo, Jepang.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026