Mataram (ANTARA) - Koordinator pengungsi Ahmadiyah di Kota Mataram, Syahidin membantah pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Nusa Tenggara Barat, H Lalu Syafi'i, kalau anak-anak pengungsi Ahmadiyah telah memperoleh beasiswa miskin.
  "Tidak ada bantuan apapun yang diterima oleh anak-anak pengungsi Ahmadiyah yang ada di asrama Transito Majeluk Kota Mataram," katanya usai menerima kunjungan jajaran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin.
  Ia juga membantah pernyataan Kepala Dinas Dikpora NTB yang menyatakan bahwa pihaknya telah beberapa kali melakukan kunjungan untuk memantau kondisi anak-anak usia sekolah yang ada di lokasi pengungsian warga Ahmadiyah.
  "Yang paling sering ke sini dari Dinas Sosial Lombok Barat, kalau bapak-bapak yang tadi baru pertama kali. Mungkin mereka menyuruh utusannya. Tapi setahu saya dari lembaga pendidikan baru kali ini," ujarnya sambil menunjukkan daftar pengunjung yang ada dalam buku tamu.
  Zulkhair, warga Ahmadiyah lainnya juga mengaku sangat terbebani dengan harga buku pelajaran yang harus dibeli oleh anaknya. Padahal, pemerintah sudah menggratiskan buku pelajaran bagi siswa sekolah dasar.
  Ia menyebutkan beberapa buku pelajaran yang harus dibeli seperti buku pelajaran Agama Islam dan buku lembar kegiatan siswa (LKS). Ia
enggan menyebutkan berapa harga buku tersebut. Namun, hal itu dinilai memberatkan bagi para pengungsi yang tidak memiliki pekerjaan tetap.
  "Jumlah buku yang dibeli ada beberapa jenis. Belum lagi kami harus membeli seragam sekolah. Tentu itu berat bagi kami di pengungsian yang tidak memiliki penghasilan memadai. Ada yang jadi tukang ojek dengan penghasilan pas-pasan," katanya.
  Syahidin dan Zulkhari yang sudah berada hampir lima tahun di lokasi pengungsian juga mengaku, sebelumnya anak-anak mereka disekolahkan di kampung halaman di Desa Ketapang, Kecamatan Lingsar. Namun, karena mendapat perlakukan yang tidak layak dari anak-anak lainnya, mereka terpaksa dipindahkan ke sekolah yang berada di sekitar lokasi pengungsian.
  "Awal mereka masuk sekolah di Mataram, anak-anak juga sempat mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan dari teman-teman barunya di sekolah. Tapi sekarang kondisinya sudah agak lebih baik," katanya.
  Kepala Dinas Dikpora NTB, H. Lalu Syafi'i, mengaku kunjungannya ke lokasi pengungsian warga Ahmadiyah, bertujuan untuk memastikan bahwa anak-anak warga Ahmadiyah memperoleh haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
  Selain itu, untuk memberikan keyakinan yang kuat kepada anak-anak bahwa pemerintah daerah tidak membeda-bedakan siapa dan dari mana anak yang bersekolah.
  "Kami juga memberikan pesan kepada seluruh sekolah yang menampung anak-anak warga Ahmadiyah, agar tidak mempersulit mereka dalam melaksanakan kegiatan sekolah," katanya.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026