Bima, NTB (ANTARA) - Polisi hingga kini belum berani menyimpulkan apakah ledakan di salah satu ruangan sekretariat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, bom atau bukan.
"Memang tim labfor telah melakukan identifikasi, tapi hasilnya 'kan menunggu tes di Polda Bali," kata Kapolres Kota Bima, AKBP Kumbul KS (26/10).
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Bali yang telah melakukan identifikasi masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Tim
telah membawa serpihan-serpihan yang diduga bekas ledakan dan beberapa alat bukti pendukung lainnya.
Kendati begitu, polisi belum berani menyimpulkan, ledakan yang terjadi pada Minggu (24/10) tengah malam itu apakah akibat ledakan dari bom atau bukan.
"Daya ledaknya memang tinggi, namun jenis alat ledaknya belum bisa diketahui," kata Kumbul.
Pascaledakan polisi dari Polres Kota Bima, memasang garis polisi. KPU Kabupaten Bima berada di wilayah hukum Polres Kota Bima.
Sejumlah anggota polisi ditempatkan di lokasi yang masih berada di areal perkantoran Bupati Bima itu guna menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan.
"Pengamanan dilakukan untuk mengatisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Selain itu, pengamanan di lokasi, untuk mengamankan lokasi agar tidak dijarah orang," katanya.
Polisi hingga kini masih menyelidiki pelaku peledakan itu. Polisi juga belum menyimpulakn motif peledakan itu, karena masih dalam tahap penyelidikan.
Situasi di sekitar lokasi peledakan saat ini kondusif, bahkan aksi unjuk rasa yang terjadi kemarin, tidak tampak lagi.
Aksi unjuk rasa itu yang dilakukan massa yang menolak hasil pemilihan kepala daerah pada 7 Juni itu, sempat bentrok. Beberapa anggota polisi dari Polres Kota Bima dan pengunjuk rasa terluka akibat adu fisik.
Aktivitas para pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bima juga tidak terpengaruh dengan pemasangan garis polisi maupun keberadaan anggota Polres Kota Bima yang berjaga di sekitar lokasi ledakan.
Namun, warga dilarang mendekati lokasi kejadian, karena dikhawatirkan akan menghilangkan barang bukti.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026