Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) drh Aminurrahaman, MSI, di Mataram, Rabu, mengatakan, NTB masih menjadi daerah bebas rabies, sementara hampir seluruh wilayah di Indonesia sudah tertular rabies.
"Karena itu, upaya nyata seperti depopulasi dan sterilisasi ternak anjing terus dilakukan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota agar tetap bebas rabies," ujarnya.
Upaya nyata lainnya, kata Aminurrahman, yakni melakukan survailance wilayah yaitu mengabil sampel darah hewan, dan diperiksa di laboratorium.
Untuk tahun 2010 telah dilakukan pengambilan 1.000 sampel kemudian diperiksa di laboratorium dan hasilnya 100 persen negatif.
Pihaknya juga melakukan registrasi atau pendataan kepada hewan-hewan (anjing) yang tidak bertuan, serta eliminasi anjing yang tidak bertuan dari fasilitas umum.
"Anjing yang dieliminasi akan dimusnahkan, namun sebelumnya disosialisasikan kepada masyarakat agar dipahami," ujarnya.
Aminurrahman mengakui, sebagian daerah NTB relatif dekat dengan wilayah NTT seperti Bima yang dipisahkan oleh selat Sape dengan Pulau Flores, NTT.
Arus lalu lintas ternak dari Pulau Flores melalui kapal penyeberangan ferry pun cukup lancar sehingga bukan tidak mungkin rabies yang ditularkan anjing pengidap rabies merambah wilayah NTB melalui pulau Sumbawa.
Karena itu, upaya yang dilakukan pemerintah kabupaten/kota di Pulau Sumbawa untuk mencegah penyebaran rabies di daerah itu patut didukung Pemerintah Provinsi NTB dan pihak-pihak terkait lainnya.
Catatan Direktorat Jenderal Peternakan, rabies yang mewabah di NTT terutama di Kabupaten Manggarai sejak tahun 2005 telah mengakibatkan belasan orang meninggal dunia.
Penderita penyakit rabies di Kabupaten Manggarai pada tahun 2005 mencapai 746 orang yang menyebar di 12 kecamatan, enam orang diantaranya meninggal dunia.
Ratusan kasus mencuat di tahun 2006 dan 2007 serta puluhan kasus di awal tahun 2008.
Ia mengharapkan dukungan semua pihak untuk mempertahankan historik daerah bebas rabies di wilayah NTB, terutama para pemilik anjing peliharaan agar selalu mewaspadai kemungkinan penyebaran rabies.
Meskipun bebas rabies, dinas teknis terkait di wilayah NTB telah menyediakan vaksin anti rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) agar dapat segera melumpuhkan rabies pada anjing tertular.
"Penyuluhan kepada masyarakat tentang ciri-ciri pengidap rabies pun terus dilakukan. Penderita rabies menunjukkan gejala-gejala sesak napas, sulit menelan, sakit tenggorokan, takut air, takut cahaya, takut angin, gelisah dan air liur terus meleleh," ujarnya. (*/Riko)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026