"Sudah saatnya terjadi islah antara NU dengan 'Ahlus Sunnah Waljamaah' agar bersama-sama PKB memajukan bangsa dan negara ini," kata Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhamin Iskandar, saat menyampaikan pidato politik pada pelantikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Nusa Tenggara Barat (NTB), di Mataram, Rabu.
Ia mengatakan, islah itu dianggap penting karena banyak ulama Nahdlatul Ulama (NU) dan jejaringnya mengkhawatirkan berbagai tingkah laku radikal yang muncul belakangan ini.
Kekhawatiran itu kemudian disikapi PKB dengan upaya penggalangan atau merangkul keluarga besar PKB yakni NU dan "Ahlus Sunnah Waljamaah" untuk bersatu membangun partai demi kemajuan bangsa dan negara hingga masa mendatang.
"Ahlus Sunnah Waljamaah" merupakan golongan yang mengikuti sunnah-sunnah nabi dan "jamaatus shohabah".
Di masa lalu, saat itu muslimin terpecah dalam dua bagian, satu bagian dikenal sebagai golongan-golongan ahli bid’ah, atau kelompok-kelompok sempalan dalam Islam, seperti Mu’tazilah, Syiah (Rawafid), Khowarij dan lain-lain.
Sedangkan bagian yang satu lagi adalah golongan terbesar, yaitu golongan orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada apa-apa yang dikerjakan dan diyakini oleh Rasulullah SAW bersama sahabat-sahabatnya, yang kemudian disebut Ahlus Sunnah Waljamaah.
Muhaimin mengaku sudah melakukan koordinasi dengan para tokoh NU termasuk Ketua Umum Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) Alwi Shihab, untuk bersatu.
"Kami ajak yang mau bergabung dengan visi yang sama, tetapi tentu yang tidak mau diajak, ya ditinggalkan saja," ujarnya.
Muhaimin yang masih menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) itu menyebut upaya penggalangan itu sebagai satu dari tiga hal penting yang sedang digalakkan PKB.
Dua hal penting lainnya pertahankan tradisi politik yang sehat dan dinamis, dan membantu kelancaran percepatan pembangunan bangsa dan negara yang dicanangkan pemerintah.
Menurut dia, PKB sudah pernah mengalami kondisi pahit yakni adanya perpecahan di kubu PKB, namun pada akhirnya kembali bersatu setelah menempuh berbagai upaya islah.
Bahkan, kader-kader PKB pernah dilarang berpolitik selama 30 tahun dan harus bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Ujian terberat pada Pemilu 2009, yang diperkirakan banyak kalangan PKB akan runtuh, ternyata mampu meraih dukungan suara lima persen.
"Pak Presiden pernah mengatakan, PKB merupakan partai yang telah teruji dan mampu mengelola konflik hingga keluar dari masalah," ujarnya.
Mengenai dukungan percepatan pembangunan, Muhaimin menegaskan bahwa PKB selalu berupaya mendukung percepatan pembangunan baik di tingkat pusat maupun daerah.
"Kami yakin, Pmeilu 2014 merupakan peluang kejayaan PKB, karena Partai Demokrat sudah meraihnya di Pemilu 2009, PDIP di 2004 dan sebelumnya Partai Golkar," ujarnya. (war)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026