Mataram, 16/7 (ANTARA) - Badan Ketahanan Pangan Nusa Tenggara Barat, mencatat jumlah lumbung pangan tradisional yang dimanfaatkan masyarakat untuk menyimpan gabah sebanyak 2.941 unit.

   "Itu hasil pendataan kami bersama dengan Badan Ketahanan Pangan (BKP) di sepuluh kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak Januari-Mei 2011," kata Kepala BKP NTB, Hj. Husnanidiaty Nurdin, pada acara Lokakarya Ketahanan Pangan dan Perberasan di Mataram, Sabtu.

   Ia menyebutkan, kabupaten yang memiliki lumbung pangan tradisional paling banyak adalah Kabupaten Bima sebanyak 864 unit dengan jumlah cadangan gabah kering giling (GKG) yang disimpan sebanyak 62,49 ton, Kabupaten Lombok Timur 548 unit dengan jumlah gabah yang disimpan 750 ton dan Kabupaten Lombok Tengah 530 unit menyimpang 34.750 ton.

   Untuk Kabupaten Dompu jumlah lumbung pangan tradisional sebanyak 479 unit dengan jumlah cadangan gabah yang disimpan 202,40 ton dan beras 65 ton, Kabupaten Sumbawa 203 unit dengan jumlah gabah  197 ton dan beras 124,20 ton, Kabupaten Lombok Utara 187 lumbung dengan jumlah cadangan GKG 62,75 ton.

   Husnanidiaty menambahkan, Kabupaten Sumbawa Barat memiliki 56 lumbung pangan tradisional, namun cadangan gabah nol, Kabupaten Lombok Barat 52 lumbung dengan jumlah cadangan gabah 99,50 ton dan beras 1,50 ton, Kota Mataram 22 lumbung dengan cadangan beras 2.212 ton, sedangkan Kota Bima tidak terdapat lumbung pangan tradisional.

   "Dari hasil identifikasi lumbung pangan tradisional tersebut, jumlah cadangan pangan berupa  GKG sebanyak 36.124 ton dan beras 192,91 ton," ujarnya.

   Ia menjelaskan, tujuan dilakukannya identifikasi jumlah lumbung pangan tradisional untuk mengetahui berapa besar cadangan pangan yang ada di masyarakat.

   Proses pendataan dilakukan dengan melibatkan para penyuluh pertanian yang ada di setiap desa/kelurahan. Data lumbung pangan tradisional tersebut direkapitulasi oleh BKP di masing-masing kabupaten.

   Selain bertujuan mengetahui kondisi cadangan pangan masyarakat, kata Husnanidiaty, upaya mengidentifikasi lumbung pangan tradisional tersebut juga untuk menghidupkan kembali kearifan lokal dalam hal ketahanan pangan.

   "Lumbung pangan tradisional yang ada sejak jaman nenek moyang kita sekarang  terancam punah, sehingga perlu dihidupkan kembali. Lumbung pangan tradisional itu punya nilai estetika dan budaya, sehingga bisa menjadi aset pariwisata yang bisa dipromosikan kepada wisatawan," ujarnya.

   Selain melakukan pendataan terhadap lumbung pangan tradisional, kata dia, pihaknya juga mendata tempat penyimpanan cadangan pangan lainnya seperti gudang dan di bawah rumah panggung serta di lumbung modern yang dibangung dari dana APBN dan APBD NTB.

   Jumlah tempat penyimpanan cadangan pangan seperti gudang dan di bawah rumah panggung sebanyak 105.445 unit dengan jumlah GKG yang tersimpan sebanyak 19.298 ton dan beras 12.518 ton.

   Untuk jumlah lumbung pangan modern yang dibangun dari dana pemerintah, kata dia, sebanyak 132 unit dengan jumlah GKG yang tersimpan sebanyak 397.800 ton dan beras 42.750 ton.

   "Kami akan terus memperbanyak lumbung pangan modern sebagai salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan di wilayah pedesaan. Lumbung pangan tersebut dikelola oleh gabungan kelompok tani," ujarnya. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026