Mataram, 4/10 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengajukan usulan pembatalan peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara di Lombok, yang sudah diagendakan Sekretariat Negara untuk diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Pak Sekda segera sampaikan ke Setneg kalau PLTU itu belum bisa diresmikan agar tidak diagendakan dalam kunjungan Presiden," kata Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH M. Zainul Majdi, saat memimpin rapat persiapan kunjungan Presiden ke wilayah NTB, di Mataram, Selasa.
Dalam rapat koordinasi itu dibahas tiga agenda kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke wilayah NTB yang dijadwalkan 19-21 Oktober 2011.
Ketiga agenda itu yakni peresmian Bandara Internasional Lombok (BIL), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara di Lombok, dan "groundbreaking" pembangunan kawasan pariwisata nasional Mandalika Resort.
Sebelum memerintahkan Sekretaris Daerah (Sekda) NTB H. Muhammad Nur untuk mengajukan usulan pembatalan peresmian PLTU Lombok, gubernur lebih dulu meminta manajemen PLN Wilayah NTB untuk menjelaskan progres PLTU Lombok itu.
Pejabat yang mewakili General Manager (GM) PT PLN Wilayah NTB menjelaskan bahwa PLTU itu belum bisa diresmikan karena dikhawatirkan akan terjadi kekeliruan pemahaman di kalangan masyarakat di Pulau Lombok.
Pembangunan PLTU Lombok itu belum memasuki tahapan komersial sistem sehingga jika dipaksakan peresmiannya maka masyarakat akan menuntut pelayanan sambungan baru jaringan listrik PLN.
"Berarti belum bisa diresmikan, dan Setneg harus tahu agar hal ini. Memang sejak awal saya ragu PLTU itu bisa segera diresmikan," ujar Zainul saat menyimpulkan perkembangan pembangunan PLTU Lombok yang sempat diagendakan untuk diresmikan Presiden itu.
Sebelumnya, Zainul mendapat pemberitahuan dari Manager Unit Pelaksana Konstruksi Pembangkit dan Jaringan Nusa Tenggara II PT PLN (Persero) M Dahlan Djamaludin, yang memastikan bahwa PLTU itu belum bisa diresmikan.
Menurut Dahlan, PLTU Lombok itu baru boleh diresmikan pemanfaatannya jika telah memasuki tahapan komersial operasi atau yang dikenal dengan sebutan Commercial Operating Date (COD).
Saat ini, tahapan pembangunan PLTU Batubara itu baru memasuki tahapan "Curing" (pelembaban dan perendaman) berupa pengoperasian batu tahan api (refraction) dalam "broiler" yang membutuhkan waktu paling sedikit delapan hari.
Tahapan pemanasan itu baru akan rampung 3 Oktober mendatang, dan jika telah sesuai baru memasuki tahap berikutnya yang disebut 'Stim Blow" atau kegiatan seperti memasak air yang waktunya normalnya 14 hari sampai derajat pemanasan yang dikehendaki yakni 500 derajat dengan tekanan 90 bar.
Tahapan selanjutnya, yakni sinkroninasi sistem namun harus diawali dengan persiapan "Silencer" yang membutuhkan waktu lima hari, kemudian masuk tahapan "loading test" yang juga butuh waktu lima hari.
Selanjutnya tahapan uji keandalan (reliability run test) sistem selama 30 hari tanpa mesin mati, guna mengukur kapasitas energi listrik yang dihasilkan yakni 25 Mega Watt (MW) sesuai perencanaan.
Setelah itu, baru memasuki tahapan komersial operasi atau COD, dan setelah itu boleh ada peresmian pemanfaatan PLTU Batubara berkapasitas 1 x 25 MW itu, dan jika berjalan sesuai rencana malam akhir Desember mendatang baru boleh ada peresmian.
Dengan demikian, rencana peresmian BIL belum bisa dipadukan dengan peresmian PLTU Batubara berkapasitas 1 x 25 MW yang baru akan rampung akhir Desember mendatang.
Apalagi PLTU Batubara berkapasitas 2 x 25 MW yang juga tengah dibangun di Jeranjang, yang baru akan rampung paling cepat pertengahan 2012. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026