Konvensi, Insentif, dan Event Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Achyaruddin menantang
Institut Pertanian Bogor mempunyai laboratorium ekowisata.
"Laboratorium Ekowisata itu bukan sekadar dapat meluluskan sarjana S2 dan S3 melainkan di dalamnya ada proses pembelajaran di mana masyarakat bisa melihat aplikasi teori dan praktiknya," katanya pada lokakarya bertema "Optimasi Program Studi Pascasarjana Manajemen
Ekowisata dan Jasa Lingkungan (MEJL) di Fakultas Kehutanan IPB, Kampus
Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa.
Dalam lokakarya yang dibuka Dekan Fahutan Prof Bambang Hero Saharjo itu, juga dihadirkan beberapa narasumber yakni Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Ditjen PHKA Kemenhut Bambang Supriyanto, Ketua Asosiasi Pariwisata Alam Indonesia (APPI) David Makes, dan Adi Buana, yang mewakili Dirut Perum Perhutani Bambang Sukmananto.
Kemudian, mantan Kasubid Taman Nasional Dephut 1986-1988 Adjat
Sudradjat yang kini menjadi praktisi, serta Ketua Program Studi
Pascasarjana Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan Fahutan IPB Dr Ir
Ricky Avenzora, MSc.F.
Menurut Achyaruddin, jika IPB mempunyai laboratorium ekowisata, maka akan menjadi rujukan paripurna, yakni secara teori maupun praktik.
Ia mengemukakan bahwa dalam ekowisata itu terkandung dua hal, yakni alam dan budaya, sehingga dibutuhkan studi dan kajian, serta bagaimana aplikasinya di dalam upaya "menjual" potensi wisata Indonesia yang beragam dan kaya.
Dikemukakannya bahwa pada 2000-2010 rata-rata pertumbuhan
kedatangan wisatawan mancanegara ke Indoneia sebesar 4,39 persen per
tahun atau lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan dunia sebesar 3,47
persen per tahun.
"Kondisi ini mengindikasikan kuatnya daya tahan pariwisata Indonesia," katanya dan menambahkan peluang peningkatan daya tarik pariwisata di Nusantara cukup besar.
"Indonesia memiliki potensi untuk meningkatkan sikap terhadap
pengunjung asing dengan menerapkan sikap terbuka, ramah dan santun,"
tambahnya.
Hak kelola kawasan
Sementara itu, Adjat Sudrajat yang sempat memaparkan tentang Taman
Nasional Grand Canyon di Amerika Serikat menyarankan IPB melalui
Fahutan mempunyai hak mengelola sebuah kawasan konservasi.
"Hal itu bisa dilakukan melalui kerja sama dengan taman nasional
terkenal yang ada di Indonesia," katanya.
Kerja sama itu, kata dia, bisa dilakukan pengelola atau pemegang hak usaha wisata alam.
"Kurikulum S2 dan S3 perbanyak di lapangan, setidaknya di taman
nasional dan taman wisata alam (TWA), dan itu bisa dimulai dengan
membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Kemhut atau pemegang izin
usaha usaha," katanya.
Adi Buana dari Perum Perhutani menjelaskan, pihaknya
memiliki lebih dari 190 lokasi pariwisata alam yang tersebar di Pulau
Jawa.
Bentuknya berupa rekreasi hutan, pantai, air terjun, telaga, kawah maupun gua.
"Lokasi itu tersebar dari hutan pantai hingga hutan pegunungan
menyuguhkan pemandangan alam yang sangat menarik serta alami sehingga
merupakan asset yang potensial bagi pengembangan usaha wisata alam,"
katanya.
Menurut Bambang Supriyanto, menurut riset LIPI dan BATAN, Indonesia akan mengalami krisis energi pada tahun 2020 sebesar 69 GW
(gigawatt), dan yang bisa disediakan adalah hanya 29 GW.
"Namun kita sebenarnya punya sumber energi berlimpah di hutan dan
kawasan konservasi, tinggal bagaimana memanfaatkannya," katanya.
Dikemukakannya bahwa ada dua sumber energi dimaksud, yakni panas bumi dam energi air, yang semuanya ada di kawasan hutan alam dan
konservasi.
Ketua APPI David Makes mengatakan bahwa pemanfaatan dari wisata alam tidak harus mengandalkan kemewahan, terlebih Indonesia memiliki
keanekaragaman hayati yang bisa menjadi daya tarik.
Hanya saja, kata dia, tantangan mengembangkan potensi wisata alam itu membutuhkan waktu yang sifatnya jangka panjang, dan juga butuh potensi sumber daya manusia yang kompeten.
Sementara itu, Ricky Avenzora menambahkan bahwa dengan paradigma baru dari kurikulum yang diperbarui di Program Studi Pascasarjana
Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan (MEJL) di Fahuta IPB,
pihaknya bisa melahirkan SDM yang kompeten dengan tuntutan
pembangunan ekowisata.
"Dari sisi kompetensi dosen dan pengajar serta kurikulum yang
diperbarui, kita siap dengan tantangan untuk mengisi SDM kompeten di
bidang pembangunan ekowisata Indonesia," katanya. (*)
Let's visit the most credible news portal
www.antaranews.com. One click away, Indonesia!
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026