Mataram, 11/5 (ANTARA) - Empat orang warga yakni tiga wanita dan seorang pria diamankan aparat gabungan yang melakukan penggerebekan di lokasi prostitusi terselubung, di kawasan wisata Senggigi, Dusun Tanak Ambet, Desa Batulayar, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat.

  Ketiga wanita yang diduga berprofesi pekerja seks komersil, dan seorang pria pengunjung lokalisasi terselubung itu, kemudian digelandang ke Kantor Camat Batulayar, untuk dimintai keterangan.

  Aparat gabungan itu, terdiri dari Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Kabupaten Lombok Barat, satuan TNI dari Koramil Senggigi, polri dari Polres Lombok Barat dan Polsek Senggigi, serta aparat kecamatan dan beberapa tokoh masyarakat. 

  Lokasi prostitusi terselubung itu, berada sekitar 100 meter arah timur jalan raya wisata senggigi, tak kurang satu kilometer arah utara melewati gerbang kawasan wisata Senggigi.

  Lokasi itu dijangkau dengan jalan tanah, dengan lorong-lorong yang berimpit dengan bangunan-bangunan permanen dan pagar tanaman hidup.

  Area di dalam kawasan terdiri daribeberapa bagian yang tiap bagiannya dibatasi dengan pagar tanaman hidup, dengan pintu penghubung sempit yang terbuat dari seng.

  Di setiap bagian dipenuhi deretan bangunan kamar dengan luas tak kurang lima meter persegi beratap asbes. Di dalam beberapa kamar, terdapat sehelai kasur dan beberapa bantal di atas dipan yang dibuat permanen berbahan semen dan batu bata. Umumnya kasur dan bantal terlihat kumal.

  Sementara sebagian kamar lain, hanya terdapat sehelai tikar tanpa bantal di atas dipan permanen. Di ujung atas dipan setiap kamar, terdapat ruang kecil dengan keran air. Ruang itu hanya dibatasi tembok setengah meter.

  Setiap lampu di kamar itu menyala temaram, sementara di setiap halaman, ada warung-warung bedek, yang menjual aneka makanan ringan, dan minuman beralkohol.

  Namun, hanya tiga kamar yang berpenghuni, yang letaknya berderatan di bagian paling belakang area.

  Di kamar itu, tiga perempuan ditemukan dengan pakaian seadanya terlelap di dua kamar terpisah. Satu kamar lain, lelaki berambut gondrong, terlelap berselimut sarung.

  Mereka terkaget-kaget ketika keluar kamar dan melihat aparat gabungan. Setelah diminta berpakaian yang pantas, tiga perempuan dan satu laki-laki itu dibawa dengan truk Pol PP ke Kantor Camat Batulayar, setengah kilometer utara lokasi prositusi itu untuk dimintai keterangan.

  Saat berada di dalam truk, dua perempuan terlihat menangis tertunduk. Sementara tak seorangpun terkait pengelola atau pemilik area itu yang dimintai keterangan.

  Kepala Satpol PP Provinsi NTB Ibnu Salim yang memimpin penggerebekan mengatakan, tindakan itu ditempuh karena sudah terlalu banyak pengaduan masyarakat yang menyoroti praktik asusila itu.

  "Ini sudah sangat meresahkan, sehingga digerebek dan ditutp saja aktivitasnya. Ini bukti keseriusan aparat dalam menyikapi pengaduan masyarakat," ujar Ibnu.

  Sementara itu, Camat Batulayar Mujitahidin mengatakan, sudah ada keputusan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (FKPK) atau yang dulu disebut Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Batulayar pada 24 April 2012, untuk menutup aktivitas prostitusi terselubung itu.

  Pengelola area prostitusi terselubung itu juga sudah dipanggil dan diminta membuat perjanjian yang isinya segera mengakhiri ativitas tersebut. Bahkan, diharuskan membongkar kamar-kamar prostitusi itu.

  "Ternyata hari ini masih ada, padahal sudah ada kesepakatan. Kita berikan waktu seminggu, jika tidak dibongkar, maka aparat keamanan yang akan membongkar paksa," ujar Mujitahidin.

  Informasi yang dihimpun, sewa kamar yang memakai kasur dan bantal di area prostitusi itu sebesar Rp30.000. Sementara kamar yang hanya beralas tikar hanya bertarif Rp15.000.  (*)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026