Mataram (ANTARA) - Harga daging ayam boiler yang diperdagangkan di sejumlah pasar tradisionasl di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melonjak memasuki bulan suci Ramadhan akibat kurangnya pasokan dari para peternak.

  "Harga daging ayam boiler dari Rp28.000 naik menjadi Rp32.000 per kilogram (kg). Kenaikan harga terjadi di seluruh pasar tradisional di Pulau Lombok yang menjadi sasaran pemantauan kami," kata Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi NTB Hj Husnanidiaty Nurdin, di Mataram.

  Ia mengatakan, pihaknya melakukan pemantauan harga kebutuhan pokok di enam pasar tradisional seperti pasar tradisional Mandalika, pasar tradisional Kebon Roek, pasar tradisional Pagesangan, di Kota Mataram.

  Tim survei harga kebutuhan pokok yang terdiri dari BKP NTB, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB dan Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) NTB, juga melakukan pemantauan di pasar tradisional Kecamatan Gerung dan Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, serta pasar tradisional Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

  Pemantauan tersebut bertujuan untuk mengetahui kondisi riil perubahan harga kebutuhan pokok menjelang bulan puasa Ramadhan 1433 Hijriyah.

  Selain daging ayam boiler, kata Husnanidiaty, komoditas yang juga mengalami kenaikan menjelang bulan puasa adalah gula pasir dari Rp12.000 naik hingga Rp14.000 per kg dan telur ayam ras dari Rp1.100 per butir naik menjadi Rp1.200 per butir.

  Komoditas yang juga mengalami kenaikan cukup tinggi, yakni cabai merah keriting dari Rp20.000 naik hingga Rp28.000.

  "Jika dihitung rata-rata seluruh pasar tradisional yang dipantau, persentase kenaikan komoditas tersebut mencapai 14,85 persen," ujarnya.

  Sementara harga komoditas beras, kata dia, saat ini masih relatif stabil, bahkan cenderung mengalami penurunan karena adanya panen padi di beberapa kabupaten yang memiliki irigasi teknis dan belum mengalami kekeringan meskipun musim kemarau.

  Berdasarkan hasil pantauan di pasar tradisional Kebon Roek, harga beras C4 kualitas super dari Rp8.500 turun menjadi Rp8.125 per kg, sedangkan di pasar tradisional Pagesangan dari Rp8.500 turun menjadi Rp8.000 per kg.

  Sementara di pasar tradisional Mandalika, Kota Mataram dan pasar tradisional Tanjung, harga komoditas itu masih bertahan di kisaran Rp8.000 per kg.

  Harga beras medium jenis IR 64 dan Ir 36 juga masih relatif stabil di kisaran Rp7.500 per kg.

  Untuk harga jagung pipilan kuning mengalami penurunan dari Rp4.250 turun hingga di kisaran harga Rp3.250 per kg, sedangkan jagung pipilan putih dari Rp5.000 turun menjadi Rp3.000 per kg. Penurunan harga jagung pipilan putih hanya terjadi di pasar tradisional Gerung, Kabupaten Lombok Barat.

  "Harga bawang merah juga turun dari Rp13.000 turun menjadi Rp8.000 per kg. Merosotnya harga komoditas itu karena ada musim panen di Kabupaten Bima, yang merupakan sentra produksi terbesar di NTB," katanya.

  Husnanidiaty mengatakan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait, terutama Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta Dinas Peternakan untuk memecahkan persoalan minimnya pasokan ayam boiler ke pasaran menjelang bulan puasa.

  Pihaknya juga akan terus melakukan pemantauan kondisi harga kebutuhan pokok terutama pada hari-hari besar keagamaan sehingga bisa diambil langkah cepat jika terjadi gejolak harga yang bisa meresahkan masyarakat. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026