"Kami mengundurkan diri karena merasa tidak mendapat manfaat dari organisasi Asita NTB yang saat ini dipimpin oleh Agus Mulyadi," kata Koordinator Bidang Pemasaran dan Hubungan Luar Negeri DPD Asita NTB M Basri, yang didampingi pengurus lainnya.Mataram (Antara Mataram) - Lima orang pengurus inti Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan mengundurkan diri dari organisasi karena kecewa dengan pola kepemimpinan ketua.
"Kami mengundurkan diri karena merasa tidak mendapat manfaat dari organisasi Asita NTB yang saat ini dipimpin oleh Agus Mulyadi," kata Koordinator Bidang Pemasaran dan Hubungan Luar Negeri DPD Asita NTB M Basri, yang didampingi pengurus lainnya, di Mataram, Selasa.
Pengelola usaha pariwisata Lombok Travel itu didampingi tiga orang pengurus DPD Asita NTB lainnya yang juga menyatakan mengundurkan diri, masing-masing J N Wirajagat (pengelola De Tropis Tours) selaku salah seorang wakil ketua, dan Mujihat Thohir (pengelola Lombok Travel) selaku salah seorang wakil sekretaris.
Dua pengurus DPD Asita NTB lainnya yang juga mengundurkan diri yakni Badrun (pengelola Top Tours Lombok) selaku Ketua Bidang Tata Niaga, dan Ali Syahbana (pengelola Lombok Island Tour) selaku anggota Bidang Pemasaran dan Hubungan Luar Negeri DPD Asita NTB.
"Kami sudah tidak bisa bertahan di organisasi yang dipimpin oleh orang yang cenderung arogan, mengambil keputusan sepihak tanpa meminta pertimbangan pengurus lainnya, dan merasa mampu bekerja sendiri tanpa pengurus lainnya," ujar Basri dibenarkan tiga pengurus lainnya.
Mereka mencontohkan sikap arogansi dan kecenderungan mengambil keputusan sepihak yang ditunjukan Ketua DPD Asita NTB Agus Mulyadi, yakni saat mengikuti kegiatan Asita di Bali.
Akhir Oktober 2013, Agus Mulyadi dianggap berangkat ke Bali secara sepihak meskipun mengatasnamakan organisasi Asita NTB.
Menurut mereka, semestinya Ketua DPD Asita NTB meminta pertimbangan pengurus sebelum memutuskan mewakili Asita NTB dalam pertemuan di Bali.
"Itu keputusan sepihak, kami pengurus inti tapi tidak tahu kegiatan di Bali itu. Itu contohkan pengambilan keputusan secara sepihak yang membawa-bawa organisasi, dan masih banyak keputusan sepihak lainnya," kata Wirajagat yang duduk bersebelahan dengan Basri.
Keputusan sepihak itu semakin dipersoalkan, ketika Ketua DPD Asita NTB itu terlibat dalam partai politik dan menjadi calon anggota legislatif (caleg). Padahal, suatu lembaga yang mengelola dana dukungan APBD tidak diperkenankan terlibat dalam partai politik.
Apalagi, menurut mereka, selama kepemimpinan Agus (pengelola Tiga Bidadari Wisata), tidak ada program kerja yang jelas, dan tidak ada rapat kerja.
Basri, Wirajagat, Thohir, dan Badrun, secara bersama-sama menyatakan bahwa tindakan sepihak itu harus berakhir, sehingga masalah tersebut dilaporkan ke pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asita di Jakarta.
Mereka pun menggalang dukungan dari pengurus Asita NTB lainnya, dan mengklaim telah dua pertiga dari total pengurus Asita NTB yang menyatakan mendukung langkah Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) DPD Asita NTB.
"Sudah dua pertiga dukungan Musdalub DPD Asita NTB, dan nanti tanggal 13 Februari 2014, Ketua DPP Asita H Asnawi Bahar, akan ke NTB guna meninjau persiapan pelaksanaan Musdalub itu," ujar Wirajagat.
Terkait pengunduran diri itu, Agus Mulyadi yang dikonfirmasi terpisah mengatakan, dirinya belum mendapat pemberitahuan resmi tentang pengunduran diri tersebut.
"Saya belum tahu ada yang mengundurkan diri, belum ada surat resmi yang bilang mundur. Kalau soal Musdalub juga belum ada rencana, tidak ada Musdalub," ujarnya ketika dihubungi melalui telepon selularnya.
Kendati demikian, Agus menanggapi dingin pengunduran diri sejumlah pengurus DPD Asita NTB itu, dan menurut dia, keputusan tersebut merupakan hak azasi anggota pengurus.
"Itu hak azasi mereka, yang terpenting asosiasi masih tetap berjalan," ujar Agus.
Agus memimpin DPD Asita NTB untuk periode 2012-2016, setelah terpilih dalam Musyawarah Daerah (Musda) Asita NTB. (*)
Pewarta : Oleh Anwar Maga
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026