Workshop Communique AHEC diikuti perguruan tinggi

id Bogor, ASEAN, AHEC,Commmunique,perguruan tinggi

Workshop Communique AHEC diikuti perguruan tinggi

Rektor IPB Arif Satria (kedua dari kanan, depan) saat menghadiri acara Workshop Communique ASEAN Higher Education Conference (AHEC), Sabtu (6/8/2023). (ANTARA/Linna Susanti)

Kota Bogor (ANTARA) - Rektor IPB University Arif Satria menerangkan bahwa dalam rangkaian agenda keketuaan Indonesia di ASEAN, Workshop Communique ASEAN Higher Education Conference (AHEC) telah membahas tiga isu penting yang strategis ke depan. 

Arif Satria saat dikonfirmasi di Kota Bogor, Minggu, menyampaikan tiga isu itu ialah inovasi dan transformasi digital, konektivitas industri dengan universitas dan respon keamanan pangan terhadap perubahan iklim. "Yang pertama Ini respons terhadap distrupsi, policy dan revolusi industri 4.0 hadir dalam pemikiran inovasi dan transformasi digital," kata Arif. 

Selanjutnya, sambung Arif, yang kedua tentang konektivitas industri, kampus juga harus memberi sumbangan bagi tumbuh industri di ASEAN. Sebanyak 38 universitas dalam negeri berharap ke depan tidak ada yang tidak selaras antara industri dengan universitas. Pemikiran itu akan dibawa melalui buku Communique AHEC 2023 yang juga disusun oleh 50 personalia yang secara kolektif untuk menjadi pegangan dalam rangkaian kegiatan keketuan Indonesia di ASEAN.

Workshop Communique ASEAN Higher Education Conference (AHEC) telah berlangsung di Kota Bogor pada tanggal 3-5 Agustus 2023.  Menurut Arif, konektivitas industri dengan universitas adalah sesuatu yang perlu segera diwujudkan. 

Indeks inovasi yang tinggi akan berdampak pada indeks ekonomi yang baik. Begitupun dengan talenta sumber daya manusia (SDM) yang baik akan menyumbang pada pertumbuhan ekonomi yang baik. Penghubung itu adalah inovasi yang terkoneksi dengan hilirisasi industri. 

Baca juga: Ketua DPR pimpin Sidang Komite Eksekutif AIPA di Jakarta
Baca juga: Puan Maharani tandatangani MoU kerja sama dengan parlemen Vietnam


Selanjutnya yang ketiga adalah merespon perubahan iklim. Semua negara sedang meraba-raba cara menghadapi dan mengatasi dampak perubahan iklim. Respons yang mungkin adalah resiliensi atau penyesuaian dan keberlanjutan sumber daya alam. Ini adalah tekanan dunia untuk memperkuat bio-ekonomi yang sudah menjadi platform global yang ini sudah diperkuat oleh negara-negara di ASEAN. "Di antaranya adalah keamanan pangan. Pola pangan yang pintar baik produksi yang lebih ekologis dan produksi pangan jangan sampai berdampak pada perubahan iklim," katanya.