Surabaya (ANTARA) - Tanggal 12 Agustus 2025, dunia memperingati Hari Gajah Sedunia. Namun di balik perayaan itu, ada duka mendalam: Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) terus berguguran. Dalam tiga tahun terakhir, puluhan gajah mati terbunuh—hampir satu setiap bulan. Tragisnya, sebagian besar publik diam, dan para pecinta satwa seakan kehilangan suara.
Rentetan Kematian yang Mengkhawatirkan
Hanya dalam kurun lima bulan, di Barumun, empat gajah tewas:
Dargo, jantan usia 50 tahun (25 September 2022)
Fitrie, betina remaja usia 4 tahun (17 Oktober 2022)
Kery, betina usia 45 tahun (18 Desember 2022)
Dwiki, jantan usia 35 tahun (14 Februari 2023)
Kasus serupa terjadi di berbagai daerah: Aceh, Bengkulu, Riau, hingga Lampung. Ada yang mati tersengat listrik, diracun, atau tubuhnya membusuk tanpa diketahui penyebab pasti. Bahkan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), dalam setahun terakhir, empat gajah ditemukan mati, termasuk anak gajah bernama Rubado dan gajah soliter bernama Dugul yang sebelumnya terlihat kurus.
Konflik Manusia dan Gajah yang Kian Meningkat
Data BKSDA Aceh mencatat 761 konflik manusia-gajah sejak 2019 hingga 2024. Sebelum perkebunan skala besar masuk, konflik jarang terjadi. Kini, habitat menyempit karena deforestasi, kebun sawit, dan tambang. Gajah kehilangan hutan, sementara warga kehilangan lahan yang aman dari perambahan satwa.
Akibatnya, gajah masuk kebun mencari makan, merusak tanaman, dan memicu kemarahan warga. Solusinya bukan membunuh gajah, melainkan mengembalikan keseimbangan habitat.
Langkah Nyata: Dari Arahan Presiden hingga Program Lapangan
Presiden Prabowo Subianto telah menyerahkan 90.000 hektar lahan di Aceh untuk perlindungan gajah. Lahan ini menjadi basis Program PECI Aceh yang meliputi:
Pendataan populasi dengan teknologi geospasial
Perbaikan habitat (penanaman pakan alami, pembuatan salt licks, dan kubangan air)
Pemberdayaan 12 desa penyangga melalui agroforestri ramah gajah (kopi, kakao, pinang, durian)
Penyediaan pakan transisi agar gajah tidak masuk permukiman
Upaya ini diharapkan menurunkan konflik dan mengembalikan gajah ke habitat alaminya.
Tantangan Konservasi
Perlindungan gajah di Indonesia terhambat oleh tumpang tindih status lahan, minimnya patroli, peralatan medis yang belum memadai, hingga ancaman virus mematikan EEHV pada anak gajah. Perburuan liar gading juga terus menghantui.
Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah sebenarnya sudah ada, namun implementasinya masih lemah karena kurang kolaborasi dan pendanaan. Padahal, penyelamatan gajah harus menjadi gerakan kolektif semua pihak—pemerintah, LSM, masyarakat, dan dunia usaha.
Hidup Berdampingan, Bukan Saling Menghilangkan
Gajah bukan sekadar satwa, tapi bagian dari ekosistem yang menjaga keseimbangan alam. Kehilangannya akan menjadi kerugian besar bagi Indonesia. Hari Gajah Sedunia seharusnya menjadi momen refleksi: maukah kita melihat gajah hanya tinggal cerita?
Jika manusia dan gajah bisa saling menghormati serta menjaga jarak aman, masa depan keduanya bisa diselamatkan. Semua berawal dari kesadaran, lalu bergerak bersama.
"Kau Peduli, Aku Lestari."
*) Penulis adalah Pemerhati Satwa Liar – Koordinator APECSI
COPYRIGHT © ANTARA 2026