Mataram, 4/9 (ANTARA) - Brankas Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terletak di Jalan Lingkar Selatan, Karang Pule, Ampenan, Kota Mataram, dibobol maling, Jumat dini hari, hingga uang tunai Rp10 juta yang akan disiapkan untuk Tunjangan Hari Raya (THR) raib.
Kasat Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Mataram, AKP Andi Dady Cahyo, di Mataram, Jumat, mengatakan, aksi pembobolan brankas itu diduga melibatkan orang dalam.
"Ada dugaan keterlibatan orang dalam berdasarkan hasil olah TKP (Tempat Kejadian Perkara)," ujar Andi setelah merampungkan olah TKP dan membawa barang bukti beserta sejumlah orang yang patut dimintai keterangan.
Olah TKP itu menggunakan anjing pelacak untuk mempermudah identifikasi tersangka sekaligus memperjelas bukti-bukti petunjuknya.
Andi menjelaskan, dugaan keterlibatan orang dalam dalam kasus pembobolan brankas di ruang keuangan Kantor Bahasa Provinsi NTB itu antara lain terlihat dari kondisi kerusakan di TKP.
Jendela ruang keuangan yang berjeruji besi tampak dicongkel dari bagian dalam ruangan namun ada sejumlah goresan di bagian luar seolah-olah dicongkel dari luar.
Pintu dan jendela lain tidak mengalami kerusakan namun brankas berukuran sedang (1 x 0,45 meter dengan diameter 0,30 meter) rusak dijebol dengan benda keras.
Anjing pelacak juga mengendus-endus di meja kerja tertentu dalam ruang keuangan kantor itu.
"Saat aksi pembobolan brankas itu penjaga kantor tidak bekerja dengan alasan sakit," ujar Andi sambil tersenyum.
Untuk memperjelas dugaan keterlibatan orang dalam itu, penyidik mengamankan sejumlah karyawan kantor bahasa itu untuk dimintai keterangan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Ikut diamankan sembilan orang pemuda yang menjadi buruh pekerja drainase di belakang kantor bahasa itu dan dimintai keterangan sebagai saksi.
Sementara itu, Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTB, Prof. DR. Mahsun, MS, yang ditemui di lokasi kejadian mengaku sudah pernah mengingatkan petugas penjaga malam, Suhaili, untuk lebih berhati-hati karena pagar bagian belakang kantor itu sedang dijebol untuk kepentingan penataan drainase.
"Saya sudah ingatkan penjaga malam, tetapi saat kejadian tidak tahu ia berada dimana. Saya serahkan masalah ini kepada pihak berwajib," ujar guru besar bidang linguistik itu.
Ia pun membenarkan kalau uang Rp10 juta dalam brankas yang telah raib itu hendak digunakan untuk THR karyawananya.
Kasus kelima
Berdasarkan catatan Polres Mataram, kasus pembobolan brankas di Kantor Bahasa Provinsi NTB itu merupakan kasus kelima di Kota Mataram, ibukota Provinsi NTB selama tahun 2009.
Kasus pertama pada tanggal 28 Januari 2009, yakni brankas Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB dibobol maling dan uang tunai sebesar Rp75 juta milik Badan PBB Urusan Anak-anak atau United Nations Children's Fund (Unicef) yang akan dikembalikan kepada pemiliknya raib.
Kasus pembobolan brankas yang kedua terjadi di Kantor PT Telkom NTB awal Maret lalu dengan nilai kerugian hampir Rp50 juta, namun pelakunya pun belum teridentifikasi.
Kasus ketiga berupa pembobolan brankas kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Sweta, di Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, 11 April lalu, hingga uang tunai sebanyak Rp93 juta raih, namun pelakunya belum teridentifikasi.
Kasus pembobolan brankas yang keempat terjadi 13 April 2009 di kantor PT Sinar Sosro yang terletak di Jalan Dr Soejono, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram.
Dalam kasus itu uang tunai yang diperkirakan sebanyak Rp133 juta raib digondol kawanan maling yang diperkirakan berjumlah 5-6 orang.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026