Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyatakan Cirebon menjadi simpul pergerakan wisata dan ekonomi saat angkutan Natal dan Tahun Baru 2025/2026, menghubungkan jalur utara dan selatan Jawa, perjalanan antarkota, provinsi, hingga destinasi wisata.
"Aktivitas perjalanan di Cirebon selama Natal dan tahun baru mencerminkan tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat sekaligus meningkatnya minat perjalanan wisata berbasis kereta api," kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangan di Jakarta, Minggu.
Anne menyampaikan peran strategis itu terlihat dari padatnya layanan kereta api yang melayani naik turun pelanggan di Stasiun Cirebon dan Stasiun Cirebon Prujakan.
Selama periode Natal dan tahun baru, dalam satu hari operasional tercatat sebanyak 63 kereta api reguler dan 17 kereta api tambahan dari arah timur ke barat, serta 66 kereta api reguler dan 17 kereta api tambahan dari arah barat ke timur yang melayani naik turun pelanggan di kedua stasiun tersebut.
Sebanyak 17 kereta api tambahan tersebut mencakup layanan penumpang motor gratis (Motis) Natal dan Tahun Baru yang mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi kendaraan roda dua antarwilayah.
"Cirebon memiliki peran khas karena menghubungkan jalur utara seperti Jakarta dan Semarang dengan jalur selatan menuju Purwokerto dan Yogyakarta," beber Anne.
Menurutnya posisi itu membuat Cirebon menjadi titik transit penting bagi pelanggan yang melanjutkan perjalanan ke berbagai wilayah. Berdasarkan data Angkutan Natal dan tahun baru, Daerah Operasi 3 Cirebon hingga Minggu, 4 Januari 2026 pukul 10.00 WIB, volume pelanggan secara kumulatif pada periode 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 mencapai 274.400 pelanggan, terdiri atas 136.081 pelanggan naik dan 138.319 pelanggan turun.
Pada hari yang sama, pergerakan harian tercatat 16.867 pelanggan, dengan 9.423 pelanggan naik dan 7.444 pelanggan turun. Di Stasiun Cirebon, volume kumulatif mencapai 114.821 pelanggan, dengan pergerakan harian pada Minggu, 4 Januari 2026 sebanyak 6.385 pelanggan.
Sementara itu, Stasiun Cirebon Prujakan mencatat volume kumulatif 45.232 pelanggan, dengan pergerakan harian 2.830 pelanggan. Data ini menegaskan peran kedua stasiun sebagai pintu masuk dan keluar utama kawasan Cirebon selama periode libur panjang.
Tingginya mobilitas tersebut sejalan dengan capaian penjualan tiket di wilayah Daop 3 Cirebon. Dari kapasitas 74.988 tempat duduk, tiket yang terjual mencapai 81.244 tiket atau setara 108 persen.
Tingkat keterisian ini dipengaruhi oleh pola perjalanan pelanggan yang dinamis, dengan naik dan turun di berbagai stasiun sepanjang rute perjalanan. Selain pergerakan domestik, Cirebon juga mencatat pertumbuhan wisatawan mancanegara.
Sepanjang tahun 2025, sebanyak 21.806 wisatawan mancanegara tercatat berangkat menggunakan kereta api jarak jauh dari wilayah Daop 3 Cirebon, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 19.280 wisatawan mancanegara.
Stasiun Cirebon menjadi yang tertinggi dengan melayani 12.566 wisatawan mancanegara.
Anne menjelaskan konektivitas kereta api memudahkan wisatawan mengakses berbagai destinasi unggulan Cirebon, mulai dari kawasan keraton dan heritage, wisata religi, hingga pusat kuliner serta menuju kota dan kabupaten penyangga seperti Majalengka, Indramayu dan Kuningan.
Baca juga: Arus balik Nataru terkendali, logistik nasional tetap bergerak
Pergerakan wisatawan tersebut mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk pelaku UMKM, perajin, pedagang kuliner, serta penyedia jasa transportasi dan akomodasi di sekitar stasiun dan kawasan wisata.
“Arus pelanggan dan wisatawan yang melalui Cirebon memberi dampak langsung bagi perekonomian lokal. Aktivitas ini menguatkan peran kereta api sebagai penghubung wilayah sekaligus penggerak ekonomi daerah,” kata Anne.
Baca juga: Pasca-nataru sebanyak 324.208 kendaraan kembali ke Jabotabek
Secara nasional, hingga Minggu, 4 Januari 2026 pukul 08.00 WIB, penjualan tiket Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 telah mencapai 4.135.783 tiket, meningkat 10,86 persen dibandingkan periode Natal dan tahun baru sebelumnya.
“Cirebon menjadi contoh bagaimana simpul transportasi berperan dalam menjaga kelancaran mobilitas sekaligus mendukung pariwisata dan ekonomi lokal,” kata Anne.