Mataram (ANTARA) - Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Zefanya Andryan Girsang mengingatkan durasi hunian kamar hotel yang singkat mempengaruhi aspek ekonomi dan keberlanjutan industri pariwisata secara jangka panjang di Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Length of stay yang pendek secara langsung menurunkan pendapatan rata-rata per wisatawan, sehingga menekan kinerja finansial hotel dan pelaku usaha pariwisata," ujarnya di Mataram, Selasa.
Zefanya memaparkan kondisi hunian hotel yang singkat tersebut secara jangka panjang dapat memicu penutupan usaha, terutama bagi pelaku skala kecil dan menengah yang memiliki daya tahan finansial terbatas.
Pendapatan yang menurun berdampak terhadap stabilitas ketenagakerjaan di sektor pariwisata mulai dari pengurangan jam kerja, pemutusan hubungan kerja, hingga penurunan kualitas layanan menjadi risiko yang sulit dihindari.
Lebih jauh menurutnya dampak lain dari hunian kamar hotel yang singkat berpotensi menurunkan minat investor untuk menanamkan modal di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Ketika prospek pertumbuhan industri pariwisata terlihat stagnan dan berisiko tinggi, imbuh Zefanya, maka investor cenderung menahan atau mengalihkan modal ke sektor lain.
"Hal ini pada akhirnya menghambat inovasi, pengembangan fasilitas baru, serta daya saing destinasi NTB di tingkat nasional maupun internasional," pungkas lulusan Master of Tourism and Sport Management dari Nicolaus Copernicus University di Polandia tersebut.
Sepanjang Januari hingga November 2025, total jumlah tamu hotel yang menginap di Nusa Tenggara Barat sebanyak 2,42 juta orang yang terdiri dari 1,3 juta orang tamu domestik dan 1,12 juta orang tamu mancanegara.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata lama menginap tamu hotel non bintang hanya selama 1,59 hari pada November 2025. Durasi menginap itu mengalami penurunan sebesar 0,06 hari dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 1,66 hari.
Sedangkan, rata-rata lama menginap tamu hotel bintang saat periode yang sama tercatat sebesar 1,85 hari. Durasi menginap tersebut mengalami penurunan sebesar 0,02 hari dibandingkan data Oktober 2025 yang tercatat selama 1,87 hari.
Kepala BPS NTB Wahyudin menyarankan pemerintah maupun pihak-pihak terkait lainnya untuk memperbanyak pertunjukan atraksi budaya agar para tamu semakin lama menginap di hotel-hotel yang tersebar di wilayah Nusa Tenggara Barat.