Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan komoditas hortikultura berkontribusi dalam mendongkrak inflasi bulanan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar 0,34 persen pada November 2025.

Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan komoditas hortikultura yang mengalami kenaikan harga adalah tomat dan bawang merah.

"Kenaikan harga kedua komoditas tersebut terjadi karena produksi menurun akibat telah melewati musim panen," ujarnya di Mataram, Senin.

Lima komoditas penyumbang inflasi bulan ke bulan adalah tomat dengan andil sebesar 0,09 persen, emas perhiasan 0,08 persen, angkutan udara 0,05 persen, ikan teri 0,05 persen, dan bawang merah 0,05 persen.

Baca juga: Pemantauan tanaman hortikultura di NTB ditingkatkan antisipasi dampak La Nina

Wahyudin menuturkan sebagian besar hasil produksi bawang merah dikirim ke luar daerah, sehingga stok lokal berkurang dan mendorong kenaikan harga.

Harga emas perhiasan juga ikut memberikan tekanan inflasi seiring dengan tren kenaikan harga emas dunia. Kenaikan tarif angkutan udara turut menambah dorongan terhadap inflasi bulan November 2025.

BPS NTB melaporkan tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga komoditas daging ayam ras, beras, dan cabai rawit yang masing-masing memberikan andil terhadap deflasi sebesar 0,06 persen, 0,05 persen, dan 0,02 persen.

Baca juga: Kelompok tani binaan PLN UIP Nusra kembali panen hasil budidaya hortikultura

Stok daging ayam ras di pasaran cukup melimpah, sehingga mampu memenuhi permintaan baik dari masyarakat maupun dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Penurunan harga beras dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah terkait penetapan harga eceran tertinggi beras," pungkas Wahyudin.

Lebih lanjut dia menyampaikan inflasi tahun kalender Nusa Tenggara Barat sebesar 2,27 persen dan inflasi tahunan mencapai 2,74 persen.

Baca juga: Bima mendorong warga kembangkan tanaman hortikultura hadapi El Nino



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026