Indonesia perlu waspada di tengah eskalasi AS-Venezuela

id Amerika Serikat dan Venezuela,Venezuela,Amerika Serikat,eskalasi

Indonesia perlu waspada di tengah eskalasi AS-Venezuela

Pengunjuk rasa dari berbagai aliansi membakar bendera AS dan poster bergambar presiden AS Donald Trump saat menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Selasa (6/1/2026). Dalam aksi solidaritas tersebut mereka mengecam tindakan penyerangan dan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro berserta istrinya oleh Amerika Serikat dan meminta agar Indonesia untuk menyatakan sikap resmi, serta mendukung rakyat Venezuela menentukan nasib negaranya tanpa intervensi asing. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU

Jakarta (ANTARA) -

Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam menekankan pentingnya Indonesia meningkatkan kewaspadaan strategis di tengah eskalasi geopolitik global menyusul langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela yang berpotensi meluas ke kawasan lain.

Menurut Umam, Indonesia perlu memperkuat kedaulatan energi, ketahanan ekonomi, serta konsistensi politik luar negeri bebas aktif agar tidak terseret dalam konflik kekuatan besar.

"Indonesia harus membaca perkembangan ini dengan jernih. Penguatan kedaulatan energi, ketahanan ekonomi, dan konsistensi politik luar negeri bebas aktif menjadi kunci agar tidak terjebak dalam pusaran konflik kekuatan besar," katanya dalam keterangan yang diterima ANTARA di Jakarta, Minggu.

Umam menilai Venezuela bukan target terakhir dalam rangkaian operasi geopolitik dan militer Amerika Serikat. Eskalasi tersebut menandai fase baru politik kekuatan global yang menyasar negara kaya sumber daya strategis yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan Washington.

"Venezuela hanyalah satu bab dalam narasi yang lebih besar. Operasi militer serupa sangat mungkin diarahkan ke negara atau wilayah lain yang memiliki nilai strategis energi dan posisi tawar ekonomi-politik," ujarnya.

Ia menyebut wilayah seperti Greenland, Iran, Kolombia, Chili, serta sejumlah negara Selatan Global memiliki kerentanan serupa karena peran strategisnya bagi kepentingan energi dan ekonomi jangka panjang AS.

Umam menilai langkah Washington juga merupakan demonstrasi kekuatan militer dan politik untuk menegaskan kapasitas koersif global, meskipun pengaruh ekonomi-politik AS dinilai relatif menurun.

Selain itu, operasi tersebut disebut sebagai bagian dari perang psikologis untuk mengirim sinyal bahwa tatanan global masih diharapkan bergerak sesuai kepentingan AS melalui efek gentar dan tekanan geopolitik.

Baca juga: Pemerintah Rusia tetap patuhi perjanjian kemitraan strategis dengan Venezuela

Dia mengingatkan strategi koersif semacam ini berisiko memicu eskalasi konflik lintas kawasan, mendorong perimbangan kekuatan, perlawanan asimetris, atau konsolidasi kekuatan alternatif yang dapat meningkatkan instabilitas keamanan global.

Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan operasi militer di Venezuela bertujuan membatasi pendanaan narkoterorisme serta memberi Washington kendali lebih besar atas sumber daya energi global.

Dalam wawancara dengan Salem News Channel pada Selasa (6/1), Vance menyatakan Amerika Serikat menginginkan yang terbaik bagi rakyat Venezuela dan rakyat AS.

"Siapa pun pemimpin negara itu nantinya, dia harus mau bekerja sama dengan Amerika Serikat," katanya.

Baca juga: Rusia menilai penyitaan kapal tanker oleh AS langgar hukum maritim

Vance menambahkan kebijakan Venezuela sebelumnya memungkinkan pesaing asing memperoleh akses energi murah, sementara pendapatannya digunakan untuk mendanai aktivitas yang dinilai mengancam AS.

Kepala negara di negeri Paman Sam itu, Donald Trump juga mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat.

Sebelumnya pada 3 Januari, AS melancarkan serangan besar ke Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta istrinya, Cilia Flores, untuk dibawa ke New York.

Trump menyatakan Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narko-terorisme dan dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi kepentingan AS.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Akademisi: Indonesia perlu waspada di tengah eskalasi AS-Venezuela

Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.