Cerpen - Perempuan dalam jeda malam

id cerpen,perempuan,malam,pembunuhan,pengadilan,mira Oleh Abdul Hakim

Cerpen - Perempuan dalam jeda malam

Ilustrasi - Mira (ANTARA/HO - AI)

Mataram (ANTARA) - Di ruang sidang itu, nama Mira diucapkan lebih sering daripada nama korban.

Ia tidak duduk di kursi terdakwa.
Ia juga tidak terbaring sebagai jenazah yang fotonya dicetak buram di berkas perkara.

Namun namanya berulang, berulang, dan berulang seperti gema di lorong panjang yang tak pernah menemukan dinding.

Hakim menyebutnya singkat. Jaksa menyebutnya hati-hati. Pengacara menyebutnya dengan jeda yang sengaja dipanjangkan.

Di bangku pengunjung, para jurnalis mencatat namanya sambil mengingat paragraf mana yang aman untuk menyebut seorang perempuan tanpa membuat redaktur mengernyit.

Mira tahu, sejak hari itu, hidupnya tidak lagi utuh. Ia telah menjadi bagian dari kalimat orang lain.

1

Malam itu bermula seperti banyak malam lain yang tidak pernah masuk berita.

Sebuah vila di pinggir kota. Dinding putih, kolam renang yang airnya jarang dipakai, pendingin udara yang berdengung terlalu dingin. Di luar, laut hanya terdengar sebagai desis jauh seperti napas seseorang yang sedang tidur dengan mimpi buruk.

Mira datang tanpa membawa apa pun kecuali tas kecil dan kebiasaan untuk tidak banyak bertanya.

Ada tiga laki-laki di sana.
Dua berpangkat.
Satu berpakaian biasa.

Yang berpangkat pertama—sebut saja Y—berbicara dengan suara rendah, tertata, seolah setiap kalimatnya telah melalui pemeriksaan internal. Yang kedua A—lebih banyak diam, sesekali tertawa pendek, tawa yang terdengar seperti engsel pintu tua. Yang terakhir N—tampak letih, duduk agak terpisah, memandangi ponsel tanpa benar-benar membaca layar.

Mira memperhatikan detail kecil, seperti jurnalis yang terlatih untuk melihat pinggiran peristiwa: botol minuman yang diletakkan terlalu dekat dengan tepi meja, jam tangan mahal yang dilepas dan ditaruh sembarangan, bayangan wajah di kaca jendela yang tampak terpecah.

Ia tidak tahu mengapa ia ada di sana. Atau mungkin ia tahu, tapi memilih tidak merumuskannya dalam kata-kata. Dalam banyak ruang kekuasaan, perempuan sering dihadirkan sebagai penetral—seperti karpet yang meredam suara langkah.

Percakapan berputar. Tentang tugas. Tentang tekanan. Tentang atasan yang tak pernah benar-benar hadir kecuali sebagai bayang-bayang. Mira mendengar namanya dipanggil sekali, lalu tidak lagi. Ia menjadi penonton yang terlalu dekat dengan panggung.

2

Peristiwa itu tidak datang sebagai ledakan.

Ia datang sebagai perubahan suhu.

Sebelumnya, ruangan terasa pengap, dipenuhi asap dan alkohol. Lalu tiba-tiba udara menjadi dingin, seperti seseorang membuka pintu ke ruang lain yang lebih gelap.

Mira ingat suara benda jatuh. Bukan suara keras—lebih seperti tubuh yang menyerah pada gravitasi. Ia menoleh dan melihat N tergeletak. Kepala miring. Mata terbuka.

Ada jeda. Jeda yang panjangnya tidak bisa diukur dengan jam.

Y berdiri. A juga berdiri. Wajah mereka berbeda, tapi keduanya sama-sama tidak menatap N terlalu lama. Mira merasa dadanya ditekan dari dalam.

“Tenang,” kata seseorang. Kata itu melayang di udara, tidak benar-benar mendarat.

Mira mundur. Kakinya menyentuh kursi. Ia ingin berteriak, tapi suaranya terjebak di tenggorokan, seperti berita yang tak pernah lolos sensor.

Telepon berdering. Pesan diketik. Instruksi pendek dilontarkan, seperti potongan berita kilat. Mira menangkap kata atur, aman, nanti.

Malam itu berakhir tanpa penutup yang jelas. Tidak ada kesimpulan. Tidak ada pengakuan. Hanya tubuh yang dibawa pergi, dan seorang perempuan yang ditinggalkan dengan ingatan yang terlalu berat untuk dibawa pulang.

3

Keesokan harinya, Mira duduk di ruangan pemeriksaan.

Lampu putih. Meja besi. Kursi yang terlalu keras. Seorang penyidik bertanya dengan suara datar, seolah sedang membaca laporan cuaca.

Jam berapa datang.
Siapa saja yang hadir.
Minum apa.
Melihat apa.

Mira menjawab. Ia mencoba jujur, tapi kejujuran selalu terfragmentasi ketika masuk ke ruang formal. Ada hal-hal yang ia lihat jelas. Ada hal-hal yang kabur. Ada hal-hal yang tubuhnya rasakan, tapi tak bisa ia jelaskan tanpa terdengar berlebihan.

Ia tidak ditahan. Tidak pula dipulangkan dengan lega. Ia berada di wilayah abu-abu. Wilayah orang-orang yang tahu sesuatu, tapi tidak sepenuhnya.

Beberapa hari kemudian, namanya muncul di berita.

Tidak di judul.
Tidak di lead.

Ia muncul di paragraf tengah, diapit kutipan pejabat dan penjelasan hukum. “Seorang perempuan yang berada di lokasi kejadian.”

Mira membaca kalimat itu berulang kali. Ia merasa dirinya mengecil, dipadatkan menjadi frasa yang bisa dihapus tanpa mengubah makna keseluruhan.

4

Persidangan dimulai berbulan-bulan kemudian.

Gedung pengadilan dipenuhi suara langkah dan bau kertas. Di luar, para jurnalis menunggu dengan ponsel di tangan, menimbang sudut berita mana yang paling aman dan paling menarik.

Mira duduk di bangku saksi. Ia mengenakan pakaian sederhana, warna netral. Ia tidak ingin menjadi gambar.

Dua perwira itu kini duduk di kursi terdakwa. Jas rapi. Wajah yang dikendalikan. Nama mereka dibacakan lengkap, dengan pangkat yang terasa seperti gelar dari kehidupan lain.

Ketika Mira dipanggil, ruangan terasa menyempit.

“Saudari berada di mana saat kejadian?” tanya jaksa.

“Di vila,” jawab Mira.

“Apakah saudari melihat langsung—”

Pertanyaan itu terhenti sejenak. Mira tahu, ada kata-kata yang terlalu tajam untuk diucapkan utuh.

“Saya melihat sebagian,” katanya.

Kata sebagian menjadi perisai. Ia jujur, sekaligus melindungi dirinya sendiri. Dalam hukum, kebenaran harus presisi. Dalam hidup, ia sering datang sebagai potongan-potongan.

Pengacara bertanya dengan nada yang lebih halus, tapi menusuk. Tentang relasi. Tentang motif. Tentang keberadaannya di sana.

Mira menjawab sebisanya. Ia menolak menjadi narasi yang disederhanakan.

5

Di luar ruang sidang, dunia terus berjalan.

Media menulis. Publik menafsir. Nama Mira berpindah dari satu platform ke platform lain, sering kali tanpa wajah, tapi penuh prasangka.

Ia menerima pesan-pesan aneh. Ada yang menyalahkan. Ada yang bersimpati. Ada pula yang hanya ingin tahu, seolah tragedi itu adalah tontonan.

Mira berhenti membaca komentar. Ia lebih sering berjalan sendiri di sore hari, menyusuri jalan yang basah oleh hujan. Ia memperhatikan orang-orang biasa—penjual gorengan, pengendara motor, anak-anak yang berlari di genangan air.

Ia berpikir tentang Nur. Tentang bagaimana seseorang bisa menjadi berita utama, lalu perlahan menghilang dari percakapan, menyisakan keluarganya dengan lubang yang tak bisa ditambal putusan apa pun.

Ia juga berpikir tentang dirinya. Tentang bagaimana ia akan selalu dikenang sebagai “perempuan yang berada di lokasi kejadian,” bukan sebagai dirinya sendiri.

6

Sidang mendekati akhir.

Argumentasi disusun. Fakta diperdebatkan. Kata-kata hukum berputar seperti roda yang terus berderak.

Mira duduk di bangku pengunjung, mendengar ulang malam itu diceritakan oleh orang-orang yang tidak berada di sana. Versi-versi bertabrakan. Kronologi diluruskan paksa, seperti sungai yang dipagari beton.

Ia tahu, apa pun putusannya nanti, tidak semua pertanyaan akan terjawab.

Ada jeda yang tidak tercatat.
Ada tatapan yang tidak masuk berita acara.
Ada rasa takut yang tidak bisa diuji silang.

7

Malam sebelum putusan, Mira tidak bisa tidur.

Ia duduk di dekat jendela, memandangi hujan yang turun tanpa pola. Ia membayangkan semua kata yang telah diucapkannya di ruang sidang, dan kata-kata yang ia telan dalam diam.

Ia menyadari satu hal: menjadi saksi bukan berarti menjadi suara. Kadang, ia hanya berarti menjadi arsip.

Hujan semakin deras. Mira menutup jendela. Di dalam kamar, sunyi terasa lebih jujur.

8

Putusan dibacakan keesokan harinya.

Mira tidak ingin mengingat detailnya. Ia hanya ingat suara palu yang jatuh, dan napas orang-orang di sekitarnya yang terdengar serempak, seperti gelombang kecil.

Setelah itu, semua orang berdiri. Bergerak. Menutup buku catatan. Mengirim berita.

Mira keluar gedung pengadilan tanpa menoleh ke belakang.

Ia tahu, hidupnya tidak akan kembali seperti sebelum malam di vila itu. Tapi ia juga tahu, ia tidak bisa selamanya hidup sebagai catatan kaki dalam tragedi orang lain.

9

Beberapa minggu kemudian, nama Mira mulai jarang muncul.

Berita baru datang. Perhatian publik berpindah. Mesin informasi menemukan kisah lain untuk digiling.

Di kamar kecilnya, Mira menuliskan namanya sendiri di selembar kertas. Ia menatap tulisan itu lama, seperti memastikan ia masih ada.

Ia melipat kertas itu, menyimpannya di laci.

Di luar, sore turun perlahan. Tidak ada kesimpulan. Tidak ada penutup yang rapi.

Hanya seorang perempuan yang mencoba berdamai dengan ingatan, di tengah dunia yang lebih suka jawaban singkat daripada kebenaran yang retak.


Catatan Redaksi
Cerpen ini merupakan karya fiksi sastra yang terinspirasi peristiwa nyata, disajikan melalui pendekatan jurnalistik-sastra untuk menghadirkan refleksi kemanusiaan, bukan fakta hukum. Seluruh tokoh, alur, dan detail difiksikan demi kepentingan estetik dan etika. Karya ini bukan berita, opini, atau putusan hukum, melainkan ruang refleksi atas sisi manusiawi di balik peristiwa publik.


Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.