Langit yang tak lagi tenang

id langit,cuaca ekstrem,ntb,bibit siklon tropis Oleh Abdul Hakim

Langit yang tak lagi tenang

Arsip - Kapal feri berlayar di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (22/12/2025). PT ASDP Indonesia Ferry menghimbau pengguna jasa untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menyusul peringatan BMKG terkait bibit Siklon Tropis 93s yang berpotensi memicu gelombang laut hingga 2,5 meter. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/rwa.)

Mataram (ANTARA) - Cuaca ekstrem kian sering hadir bukan sekadar sebagai peristiwa alam, melainkan menjadi pengingat rapuhnya ruang hidup manusia di banyak tempat.

Hujan yang turun tak lagi selalu membawa kesejukan, angin yang berembus tak selalu menenangkan, dan laut yang bergelombang tinggi acap kali datang bersamaan, menguji kesiapan manusia dalam membaca tanda-tanda alam.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), cuaca tidak lagi hadir sebagai latar yang tenang bagi aktivitas warganya. Dalam beberapa hari terakhir Januari 2026, hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi datang beruntun, seperti menguji daya tahan ruang hidup dan kesiapsiagaan bersama.

Pagi hari yang seharusnya menjadi awal rutinitas berubah menjadi kecemasan. Pohon tumbang menutup jalan, rumah nelayan rusak diterjang gelombang, sungai meluap ke permukiman, dan sebagian warga terpaksa mengungsi ke masjid atau rumah kerabat.

Fenomena ini bukan kejadian tunggal. Data BMKG menunjukkan NTB sedang berada pada fase puncak musim hujan dengan dinamika atmosfer yang kompleks. Bibit siklon tropis di selatan perairan NTB, aktivitas gelombang atmosfer, dan suplai udara basah memperkuat hujan dengan intensitas tinggi.

Dalam satu dasarian, curah hujan di sejumlah wilayah, bahkan menembus angka ratusan milimeter. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan penjelasan mengapa banjir dan angin kencang terjadi hampir serempak di Pulau Lombok, hingga Pulau Sumbawa.

Di sinilah cuaca ekstrem menjadi isu pelayanan publik. Ia menyentuh keselamatan warga, keberlanjutan pangan, transportasi, dan ketahanan sosial.

Cuaca ekstrem bukan hanya soal apa yang terjadi di langit, tetapi juga tentang seberapa siap sistem di darat menanggung dampaknya.


Bibit siklon tropis

Cuaca ekstrem di NTB dalam pekan terakhir memperlihatkan pola yang saling terhubung. Bibit siklon tropis di Samudera Hindia selatan NTB memperkuat konvergensi angin di wilayah Indonesia bagian selatan.

Dampaknya terasa dalam bentuk hujan lebat, angin kencang, dan gelombang laut yang masuk kategori tinggi, hingga sangat tinggi. Sejumlah perairan, bahkan masuk zona merah pelayaran dengan tinggi gelombang mencapai empat hingga enam meter.

Di daratan, dampak itu menjelma cepat. Banjir merendam ribuan rumah di Lombok Barat dan Lombok Tengah. Di Kota Mataram, gelombang pasang merusak rumah nelayan dan memaksa puluhan keluarga mengungsi.

Angin kencang merobohkan pohon dan tiang listrik, mengganggu lalu lintas dan pasokan energi. Di Lombok Timur, empat pelajar menjadi korban tertimpa pohon tumbang. Ini sebuah pengingat bahwa cuaca ekstrem dapat menyasar siapa saja, bahkan dalam perjalanan singkat menuju sekolah.

Hal yang menarik untuk dicermati, wilayah terdampak tidak hanya kawasan pesisir atau dataran rendah. Lereng Gunung Rinjani dan Tambora, yang menjadi sentra produksi pangan NTB, justru masuk dalam peta risiko tinggi.

BMKG menetapkan status siaga, hingga awas, untuk curah hujan di beberapa kecamatan dengan peluang hujan ekstrem lebih dari 70 persen. Artinya, ancaman bukan hanya banjir dan longsor, tetapi juga gangguan terhadap produksi pangan daerah.

Cuaca ekstrem, dengan demikian memperlihatkan wajah gandanya. Di satu sisi, ia fenomena alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah.

Di sisi lain, ia mengungkap kerentanan struktural, mulai dari tata ruang, kondisi drainase, hingga kesiapan sistem peringatan dini. Ketika hujan deras bertemu sungai yang menyempit, atau angin kencang bertemu pohon tua yang rapuh, bencana menjadi sulit dihindari.


Negara hadir

Respons pemerintah daerah dan pusat menjadi kunci dalam konteks pelayanan publik. Dalam beberapa hari terakhir, langkah-langkah mitigasi dan penanganan darurat telah digerakkan.

Pemerintah daerah mengaktifkan posko siaga, membuka dapur umum, menyiapkan logistik, serta mengkaji peningkatan status bencana dari siaga menjadi tanggap darurat. Belanja Tidak Terduga disiapkan untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi dan infrastruktur vital dapat segera diperbaiki.

Di tingkat provinsi, koordinasi lintas organisasi perangkat daerah diperkuat melalui komando terpadu. Informasi prakiraan cuaca BMKG diteruskan ke daerah rawan, pemetaan titik banjir dan longsor dilakukan, serta sektor pertanian mendapat perhatian khusus agar sentra pangan tetap terlindungi.

Langkah-langkah ini menunjukkan kehadiran negara dalam situasi krisis, sebuah prinsip penting dalam public service obligation.

Di satu sisi, cuaca ekstrem juga menguji konsistensi. Peringatan dini sudah tersedia, tetapi belum selalu diterjemahkan menjadi perubahan perilaku kolektif.

Sebagian warga masih beraktivitas di wilayah rawan, nelayan tetap melaut di tengah gelombang tinggi, dan kawasan bantaran sungai tetap padat hunian.

Ini bukan soal menyalahkan, melainkan refleksi bahwa mitigasi bencana tidak cukup hanya dengan informasi, tetapi memerlukan pendidikan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks nasional, apa yang terjadi di NTB sejatinya cermin dari tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan yang rentan bencana hidrometeorologi.

Ketahanan menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya tanggung jawab satu daerah, tetapi bagian dari agenda nasional dalam menjaga keselamatan warga dan keberlanjutan pembangunan.


Belajar berbenah

Cuaca ekstrem di NTB memberi pelajaran penting. Pertama, sistem peringatan dini harus terus diperkuat, tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi kepercayaan publik. Informasi cuaca perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan disertai panduan praktis yang relevan dengan kondisi lokal.

Kedua, tata ruang dan infrastruktur perlu diselaraskan dengan realitas iklim. Drainase perkotaan, pengelolaan daerah aliran sungai, dan perlindungan kawasan pesisir tidak bisa ditunda. Investasi pada pencegahan sering kali lebih murah daripada biaya pemulihan pascabencana.

Ketiga, masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek, bukan sekadar objek mitigasi. Edukasi kebencanaan di sekolah, pelatihan kesiapsiagaan di desa, dan penguatan komunitas relawan akan membangun daya lenting sosial. Di sinilah unsur mendidik, memberdayakan, dan mencerahkan dari PSO menemukan maknanya.

Akhirnya, cuaca ekstrem mengingatkan bahwa Indonesia, termasuk NTB, adalah negeri yang hidup berdampingan dengan risiko alam. Menghadapi badai bukan hanya soal bertahan hari ini, tetapi tentang membangun kebijakan dan kesadaran jangka panjang.

Ketika negara hadir, masyarakat berdaya, dan alam dipahami dengan bijak, cuaca ekstrem tidak lagi semata ancaman, melainkan ujian yang memperkuat ketangguhan bersama.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Langit NTB dan ujian ketangguhan



COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.