Mataram (ANTARA) - Cuaca ekstrem kian sering hadir bukan sekadar sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai penanda rapuhnya ruang hidup manusia.
Hujan tidak lagi selalu membawa kesejukan, angin tak selalu menenangkan, dan gelombang laut yang meninggi kerap datang bersamaan. Fenomena ini menuntut kesiapan sistem, bukan hanya kewaspadaan sesaat.
Di Nusa Tenggara Barat (NTB), rangkaian hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi pada akhir Januari 2026 memperlihatkan bagaimana dinamika atmosfer dapat berkelindan dengan kerentanan sosial.
Puncak musim hujan, bibit siklon tropis di selatan perairan NTB, aktivitas gelombang atmosfer, serta suplai udara basah menciptakan kondisi cuaca yang kompleks.
Curah hujan dalam satu dasarian di sejumlah wilayah bahkan menembus ratusan milimeter, memicu banjir, longsor, dan gangguan pesisir secara hampir serempak.
Cuaca ekstrem dalam konteks ini bukan lagi sekadar urusan meteorologi. Ia telah menjadi isu pelayanan publik yang menyentuh keselamatan warga, keberlanjutan pangan, transportasi, energi, hingga ketahanan sosial.
Dampak di daratan dan lautan menunjukkan keterhubungan antarsektor yang menuntut respons terpadu. Banjir, pohon tumbang, rumah rusak akibat gelombang pasang, serta korban luka akibat cuaca ekstrem menjadi pengingat bahwa risiko tidak mengenal ruang dan waktu.
Yang patut dicermati, wilayah terdampak tidak hanya kawasan pesisir atau dataran rendah. Lereng Gunung Rinjani dan Tambora, yang selama ini menjadi penyangga pangan NTB, justru masuk dalam peta risiko tinggi.
Status siaga hingga awas curah hujan yang ditetapkan BMKG di beberapa kecamatan membuka ancaman ganda: bencana hidrometeorologi dan gangguan terhadap produksi pangan daerah.
Cuaca ekstrem dengan demikian memperlihatkan dua wajah. Di satu sisi, ia dapat dijelaskan secara ilmiah melalui data dan model atmosfer. Di sisi lain, ia mengungkap kerentanan struktural di darat mulai tata ruang yang belum adaptif, drainase yang tak memadai, kawasan bantaran sungai yang padat hunian, hingga sistem peringatan dini yang belum sepenuhnya mengubah perilaku kolektif.
Respons pemerintah daerah dan pusat menjadi krusial. Aktivasi posko siaga, penyediaan logistik, dapur umum, hingga kesiapan Belanja Tidak Terduga menunjukkan kehadiran negara dalam situasi krisis.
Koordinasi lintas perangkat daerah, penyebaran informasi prakiraan cuaca, dan perhatian terhadap sektor pertanian merupakan langkah penting yang patut diapresiasi.
Namun, cuaca ekstrem juga menguji konsistensi kebijakan dan kesadaran bersama. Peringatan dini yang tersedia belum selalu diikuti kepatuhan publik.
Aktivitas di wilayah rawan masih berlangsung, nelayan tetap melaut di tengah gelombang tinggi, dan relokasi dari zona berisiko kerap terkendala faktor sosial-ekonomi.
Ini bukan soal menyalahkan, melainkan refleksi bahwa mitigasi tidak cukup berhenti pada informasi, tetapi memerlukan pendidikan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.
Pelajaran dari cuaca ekstrem di NTB setidaknya mencakup tiga hal. Pertama, penguatan sistem peringatan dini yang komunikatif dan mudah dipahami publik.
Kedua, penataan ruang dan infrastruktur yang selaras dengan realitas iklim. Ketiga, penempatan masyarakat sebagai subjek mitigasi melalui edukasi, pelatihan, dan penguatan komunitas.
Langit yang tak lagi tenang menegaskan bahwa hidup berdampingan dengan risiko adalah keniscayaan.
Tantangannya bukan sekadar bertahan dari satu musim hujan, melainkan membangun kebijakan, kesiapsiagaan, dan kesadaran jangka panjang agar cuaca ekstrem menjadi ujian yang memperkuat ketangguhan bersama, bukan krisis yang terus berulang.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Kebon Kongok, ujian keseriusan pengelolaan sampah NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ketika bukit dikeruk, banjir menagih Sekotong
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Lobster NTB: Kaya benih, miskin nilai
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Hiu Paus: Titik uji konservasi NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Amahami dan Gili Gede, Reklamasi dan krisis tata kelola
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Broken Strings dan sunyi perempuan di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Banjir NTB dan sungai yang menagih jawaban
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tambang ilegal Sekotong dan ujian wibawa Negara
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - NTB di pusaran imigran ilegal
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Misri dan ujian keadilan di Gili Trawangan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menakar diplomasi NTB di panggung global
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Sukardi dan taruhan masa depan Unram