"Jangan kita lawan produk china masuk, tetapi bagaimana memanfaatkan produk China untuk meningkatkan "advantage" melalui pengembangan SMK," katanya di sela kegiatan Lokakarya Pembiayaan Pendidikan serta Lokakarya Kewirausahaan, Akuntansi dan Perpajakan, di Mataram, Sabtu.
Ia mengatakan, ACFTA atau perjanjian perdagangan bebas antara negara-negara anggota ASEAN dengan China, bertujuan meningkatkan daya saing ekonomi negara-negara ASEAN dengan menjadikan negara-negara ASEAN sebagai basis produksi pasar dunia dengan menarik investasi dan meningkatkan perdagangan.
Namun, masuknya produk China dalam kesepakatan perdagangan bebas itu dinilai berpotensi mengancam industri dalam negeri karena produk yang dihasilkan industri lokal termasuk SMK masih dianggap belum sepadan dengan produk dari negeri tirai bambu tersebut.
"Kita tidak bisa memang mengalahkan produk China terutama produk manufaktur. Kita masih perlu berguru ke negeri tersebut," ujarnya.
Menurut dia, untuk menciptakan SMK sebagai solusi dalam menghadapi persaingan pasar bebas dunia yakni dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar yang ada di luar negeri termasuk China.
Kerjasama tersebut bisa dalam bentuk perjanjian pembelian suku cadang atau bahan baku untuk kemudian melalukan produksi barang jadi di Indonesia. Dengan demikian, SMK bisa mengambil margin keuntungan dengan mitra industrinya.
"Model seperti itu akan coba kita terapkan sampai pada akhirnya SMK mampu memproduksi suku cadang atau bahan baku yang sebelumnya kita datangkan dari luar negeri," ujarnya.
Ia menambahkan, upaya untuk menuju ke arah itu memang membutuhkan fasilitas dan sarana prasarana yang jauh lebih baik dari yang ada sekarang. Ia mengakui bahwa fasilitas dan sarana SMK masih belum berimbang dengan volume siswa yang terus mengalami peningkatan.
Pihaknya tengah berupaya agar bagaimana SMK bisa menciptakan peralatan sendiri dengan mitra perusahaan baik dari dalam maupun luar negeri.
"Misalnya SMK Negeri 3 Mataram, sudah kita arahkan untuk merakit mesin CNC sendiri, sehingga tidak perlu membeli barang dalam bentuk yang sudah jadi. Model seperti itu juga bisa memberikan nilai tersendiri bagi sekolah tersebut," ujarnya.
Sutrisno merasa yakin meskipun masih dalam kondisi keterbatasan sarana dan prasarana, SMK akan mampu menghasilkan produk berkualitas, sehingga bisa bersaing dengan produk dari China di pasar bebas dunia.
Kondisi keterbatasan sarana dan prasarana itu tidak perlu disesali, namun harus diatasi dengan berbuat sesuatu untuk bisa "survive" di tengah persaingan pasar bebas dunia.
"Saya punya "feeling" kita bisa. ujar Sutrisno yang didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Mataram, H. Lalu Syafi'i, ketika menjadi nara sumber pada lokakarya pembiayaan pendidikan dan lokakarya kewirausahaan, akuntansi dan perpajakan.
Kegiatan lokakarya pembiayaan pendidikan dan lokakarya kewirausahaan, akuntansi dan perpajakan yang diikuti ratusan guru dan kepala sekolah se-NTB itu bertujuan memberikan penyegaran dan pemerataan informasi tentang program pendidikan nasional dan meningkatkan pemahaman manajemen sekolah khususnya tentang pembiayaan.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026