Mataram (ANTARA) - Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, membangun aula di lokasi hunian sementara (huntara) nelayan Pondok Perasi yang terdampak eksekusi lahan.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Mataram HM Kemal Islam di Mataram, NTB, Kamis, mengatakan aula tersebut dapat digunakan untuk berbagai kegiatan warga selama berada di lokasi pengungsian di Kelurahan Bintaro.

"Aula itu bisa digunakan sebagai tempat pertemuan, pelayanan kesehatan dan kegiatan kemasyarakatan lainnya oleh para pengungsi," katanya.

Dikatakan, meskipun pembangunan lokasi pengungsian nelayan hanya sebatas huntara, namun pemerintah kota berkomitmen membuatkan hunian yang layak dan sehat. Walaupun dalam kondisi yang darurat.

"Karenanya, setiap gang di huntara ini akan kami pasang paving block agar akses masyarakat lebih baik dan aman," ujarnya.

Lebih jauh, Kemal mengatakan, pembangunan huntara bagi warga nelayan yang akan dibangun sebanyak delapan blok dengan ukuran 17 meter kali 20 meter. Satu blok dapat menampung delapan kepala keluarga (KK), sehingga jumlah huntara yang akan dibuat sebanyak 64 unit.

"Akan tetapi, huntara yang bisa dihuni sebanyak 62 unit, sedangkan dua unitnya akan dijadikan satu sebagai aula multiguna," katanya.

Menyinggung tentang masih adanya penolakan terhadap 30 KK warga Pondok Perasi, untuk tinggal di huntara oleh 51 KK warga yang sudah tinggal sebelumnya, Kemal mengatakan, dalam hal ini pihaknya tidak masuk ke ranah tersebut.

"Prinsipnya, kita sudah siapkan hunian sebagai solusi jangka menengah sebelum rumah susun sederhana sewa (rusunawa) nelayan dibangun. Silakan, warga menempati," katanya.

Kemal menargetkan, pembangunan huntara nelayan itu rampung Januari ini, agar nelayan yang saat ini menempati tenda-tenda darurat bisa segera pindah ke huntara.

"Kalau cuacanya tetap bersahabat seperti saat ini, insya Allah akhir bulan Januari huntara rampung. Tapi kalau terjadi cuaca ekstrem, kemungkinan mundur sedikit," katanya.

Pasalnya, lanjut Kemal, selain para pekerja bekerja menggunakan tenaga listrik untuk pemasangan konstruksi huntara, areal huntara juga tergenang sehingga kendaraan yang membawa material tidak masuk.

Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026