Distan Mataram siapkan perwal izin mendatangkan telur dari luar daerah
Kamis, 21 Oktober 2021 19:52 WIB
Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli. (Foto: ANTARA/Nirkomala)
Mataram (ANTARA) - Dinas Pertanian Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, segera menyiapkan peraturan wali kota (perwal) terkait izin mendatangkan telur ayam dari luar daerah sebagai upaya pengendalian harga.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram Mutawalli di Mataram, Kamis mengatakan keberadaan perwal tersebut saat ini dinilai mendesak karena banyaknya stok telur dari luar daerah yang masuk dan merusak harga telur lokal.
"Untuk mengendalikan masuknya telur dari luar, kami sudah berkoordinasi dengan Balai Karantina, tapi ternyata boleh atau tidaknya telur luar masuk bukan menjadi kewenangan mereka. Jadi selama ada izin, telur luar tetap bisa masuk," katanya.
Terkait dengan itulah, Distan menyiapkan perwal sebagai payung hukum untuk mengendalikan pemasukan telur dari luar daerah untuk saat ini, guna menstabilkan harga dan menyerap produksi telur lokal.
"Perwal ini khusus untuk mengendalikan pemasukan telur lokal ke Kota Mataram, kalau untuk ke daerah lain silakan, karena masing-masing daerah memiliki kebijakan berbeda. Khusus Mataram, belum bisa kita izinkan," katanya.
Menurutnya, permintaan rekomendasi pemasukan telur dari Pulau Bali, Banyuwagi dan Jember saat ini sangat banyak bahkan mencapai sekirar 20-30 perusahaan dengan jumlah sekitar satu juta butir telur.
"Namun, rekomendasi itu belum mau saya tandatangani sampai kondisi normal," katanya.
Lebih jauh, Mutawalli mengatakan, jumlah telur luar daerah yang sudah masuk mencapai sekitar 75 ton, dengan harga Rp1.200-1.400 per butir, sementara telur lokal harganya Rp1.600 per butir. Dengan demikian, para agen telur mengaku produksi mereka kalah saing.
"Karena itulah, untuk sementara pemasukan telur dari luar kita setop sambil menunggu harga normal. Kasihan petani," katanya.
Pihaknya mengakui, daerah ini tidak bisa mengandalkan produksi telur sendiri karena produksi relatif kecil. Hanya saja, lanjutnya, selama ini produksi banyak pembeli sedikit dan telur dari luar datang lagi.
Kebutuhan telur di Kota Mataram, mencapai 75 ton per bulan, tetapi saat peringatan hari-hari besar seperti Maulid Nabi kebutuhan bisa mencapai 125 ton per bulan.
"Sementara dari kebutuhan itu produksi telur dalam daerah sekitar 30-40 persen. Artinya, lebih banyak didatangkan dari luar," katanya.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram Mutawalli di Mataram, Kamis mengatakan keberadaan perwal tersebut saat ini dinilai mendesak karena banyaknya stok telur dari luar daerah yang masuk dan merusak harga telur lokal.
"Untuk mengendalikan masuknya telur dari luar, kami sudah berkoordinasi dengan Balai Karantina, tapi ternyata boleh atau tidaknya telur luar masuk bukan menjadi kewenangan mereka. Jadi selama ada izin, telur luar tetap bisa masuk," katanya.
Terkait dengan itulah, Distan menyiapkan perwal sebagai payung hukum untuk mengendalikan pemasukan telur dari luar daerah untuk saat ini, guna menstabilkan harga dan menyerap produksi telur lokal.
"Perwal ini khusus untuk mengendalikan pemasukan telur lokal ke Kota Mataram, kalau untuk ke daerah lain silakan, karena masing-masing daerah memiliki kebijakan berbeda. Khusus Mataram, belum bisa kita izinkan," katanya.
Menurutnya, permintaan rekomendasi pemasukan telur dari Pulau Bali, Banyuwagi dan Jember saat ini sangat banyak bahkan mencapai sekirar 20-30 perusahaan dengan jumlah sekitar satu juta butir telur.
"Namun, rekomendasi itu belum mau saya tandatangani sampai kondisi normal," katanya.
Lebih jauh, Mutawalli mengatakan, jumlah telur luar daerah yang sudah masuk mencapai sekitar 75 ton, dengan harga Rp1.200-1.400 per butir, sementara telur lokal harganya Rp1.600 per butir. Dengan demikian, para agen telur mengaku produksi mereka kalah saing.
"Karena itulah, untuk sementara pemasukan telur dari luar kita setop sambil menunggu harga normal. Kasihan petani," katanya.
Pihaknya mengakui, daerah ini tidak bisa mengandalkan produksi telur sendiri karena produksi relatif kecil. Hanya saja, lanjutnya, selama ini produksi banyak pembeli sedikit dan telur dari luar datang lagi.
Kebutuhan telur di Kota Mataram, mencapai 75 ton per bulan, tetapi saat peringatan hari-hari besar seperti Maulid Nabi kebutuhan bisa mencapai 125 ton per bulan.
"Sementara dari kebutuhan itu produksi telur dalam daerah sekitar 30-40 persen. Artinya, lebih banyak didatangkan dari luar," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tak mau kecolongan, Mataram bangun menara pantau peringatan dini bencana di pantai
06 February 2026 17:29 WIB
Bapanas pastikan harga pangan di NTB stabil jelang Imlek, Ramadhan, dan Lebaran 2026
05 February 2026 5:10 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Harga emas hari ini UBS Rp2,961 juta/gr dan Galeri24 Rp2,946 juta/gr, Sabtu 7 Februari 2026
07 February 2026 11:09 WIB
Bulan K3 Nasional, Pelindo Lembar edukasi portir tentang keselamatan kerja
07 February 2026 4:43 WIB
Geopolitik bergejolak, Emas jadi raja: Permintaan dunia cetak rekor 5.002 Ton
06 February 2026 9:14 WIB