Indonesia usung lima target bidang kesehatan pada KTT G20
Selasa, 21 Juni 2022 20:41 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kanan) menyambut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus yang melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/6/2022). ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan Indonesia mengusung lima target bidang kesehatan yang diharapkan bisa disampaikan kepada para pemimpin negara dalam acara puncak Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali pada November nanti.
Kelima target tersebut adalah membentuk dana cadangan mengatasi pandemi, akses terhadap dana cadangan secara adil dan cepat untuk tindakan medis darurat pandemi, integrasi lab genome sequence di seluruh dunia, harmonisasi standar perjalanan antarnegara di tengah pandemi, dan standardisasi atau regoinalisasi dari hub manufaktur serta riset vaksin.
Menurut Menkes di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, kelima target itu sudah sempat disampaikan Indonesia dalam Pertemuan Menteri Kesehatan (Health Minister Meeting/HMM) G20 I yang berlangsung sejak Senin (20/6) kemarin di Yogyakarta.
Saat menyampaikan keterangan pers setelah mendampingi Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, Menkes menyampaikan bahwa target pertama sudah tercapai dalam gelaran HMM G20 di Yogyakarta.
"Yang pertama pembentukan financial intermediary fund, ini adalah dana cadangan untuk mengatasi pandemi," kata Menkes dalam keterangan pers yang disiarkan kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden, Senin.
Menkes mengapresiasi bantuan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi serta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam pembentukan dana cadangan tersebut.
Ia juga mengungkapkan bahwa sudah ada lebih dari 1 miliar dolar AS yang menjadi komitmen beberapa negara maupun institusi untuk menyumbang dana cadangan itu.
"Yang kedua kita juga membicarakan bersama WHO bagaimana uang yang ada di fund ini bisa dipakai untuk mengakses secara adil dan cepat, istilahnya emergency medical countermeasures, jadi vaksin, obat-obatan dan alat diagnostik," kata Menkes.
Menkes menjelaskan WHO nantinya bakal mendapat otoritas untuk menentukan negara mana yang perlu mendapat bantuan maupun segmen orang-orang seperti apa yang bisa diprioritaskan apabila di terjadi pandemi berikutnya.
Baca juga: RSUD Bali Mandara siapkan 10 ruang rawat inap VVIP delegasi G20
Baca juga: Telaah - Bali tata Tahura Ngurah Rai untuk KTT G20
Laboratorium tersebut berfungsi untuk mengidentifikasi virus, varian, maupun bakteri baru dan Menkes menambahkan dalam HMM G20 I di Yogyakarta telah dibicarakan upaya pengintegrasian data dari laboratorium serupa di dunia.
Aspek tersebut penting untuk bisa memastikan apabila pandemi berikutnya terjadi dan perlu respons penerapan karantina wilayah atau lockdown, maka orang-orang yang sehat dan sudah divaksin tetap bisa melakukan pergerakan antarnegara demi menjaga arus barang serta perputaran ekonomi.
Kelima target tersebut adalah membentuk dana cadangan mengatasi pandemi, akses terhadap dana cadangan secara adil dan cepat untuk tindakan medis darurat pandemi, integrasi lab genome sequence di seluruh dunia, harmonisasi standar perjalanan antarnegara di tengah pandemi, dan standardisasi atau regoinalisasi dari hub manufaktur serta riset vaksin.
Menurut Menkes di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, kelima target itu sudah sempat disampaikan Indonesia dalam Pertemuan Menteri Kesehatan (Health Minister Meeting/HMM) G20 I yang berlangsung sejak Senin (20/6) kemarin di Yogyakarta.
Saat menyampaikan keterangan pers setelah mendampingi Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, Menkes menyampaikan bahwa target pertama sudah tercapai dalam gelaran HMM G20 di Yogyakarta.
"Yang pertama pembentukan financial intermediary fund, ini adalah dana cadangan untuk mengatasi pandemi," kata Menkes dalam keterangan pers yang disiarkan kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden, Senin.
Menkes mengapresiasi bantuan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi serta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam pembentukan dana cadangan tersebut.
Ia juga mengungkapkan bahwa sudah ada lebih dari 1 miliar dolar AS yang menjadi komitmen beberapa negara maupun institusi untuk menyumbang dana cadangan itu.
"Yang kedua kita juga membicarakan bersama WHO bagaimana uang yang ada di fund ini bisa dipakai untuk mengakses secara adil dan cepat, istilahnya emergency medical countermeasures, jadi vaksin, obat-obatan dan alat diagnostik," kata Menkes.
Menkes menjelaskan WHO nantinya bakal mendapat otoritas untuk menentukan negara mana yang perlu mendapat bantuan maupun segmen orang-orang seperti apa yang bisa diprioritaskan apabila di terjadi pandemi berikutnya.
Baca juga: RSUD Bali Mandara siapkan 10 ruang rawat inap VVIP delegasi G20
Baca juga: Telaah - Bali tata Tahura Ngurah Rai untuk KTT G20
Laboratorium tersebut berfungsi untuk mengidentifikasi virus, varian, maupun bakteri baru dan Menkes menambahkan dalam HMM G20 I di Yogyakarta telah dibicarakan upaya pengintegrasian data dari laboratorium serupa di dunia.
Aspek tersebut penting untuk bisa memastikan apabila pandemi berikutnya terjadi dan perlu respons penerapan karantina wilayah atau lockdown, maka orang-orang yang sehat dan sudah divaksin tetap bisa melakukan pergerakan antarnegara demi menjaga arus barang serta perputaran ekonomi.
Pewarta : Gilang Galiartha
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Dompu gandeng RSUP NTB tingkatkan akses layanan kesehatan warga miskin
11 February 2026 19:26 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
Menkes teken aturan baru, Layanan kesehatan wajib jalan saat krisis dan wabah
04 February 2026 15:20 WIB