NTB lakukan gerakan penyusunan definitif kebutuhan petani
Kamis, 6 Juni 2013 15:32 WIB
Kebutuhan pupuk (ist)
Mataram, (Antara Mataram) - Badan Koordinasi Penyuluh Nusa Tenggara Barat akan melaksanakan gerakan penyusunan rencana definitif kebutuhan kelompok agar jangan ada petani yang tidak mendapatkan pupuk pada saat musim tanam sehingga perlu dilakukan secara serentak.
"Usulan kebutuhan pupuk ke provinsi maupun ke pusat bisa kita pastikan mengakomodir semua petani. Sebenarnya stok pupuk sudah mencukupi, namun karena ada petani yang menggunakan pupuk secara berlebihan menyebabkan terjadi kekuarangan pupuk," kata Kepala Sekretariat Bakoluh NTB, H Mashur di Mataram, Kamis.
Ia mengatakan, gerakan penyusunan RDKK itu merupakan salah satu upaya yang dilakuan untuk mendukung pencapaian target produksi beras secara nasional pada 2013 sebanyak 76 juta ton atau surplus 10 juta ton beras. Upaya lainnya adalah gerakan tanam jajar loegowo dan penyediaan benih unggul.
"Kalau tiga komponenan itu bisa dilaksakan, maka target secara nasional, yakni produksi beras sebanyak 76 juta ton atau surplus 10 juta ton beras akan bisa diwujudkan," ujarnya.
Badan Koordinasi Penyuluh Nusa Tenggara Barat menggagas gerakan tanam "jajar legowo" untuk mendukung program pencapaian produksi 76 juta ton atau surplus 10 juta ton beras secara nasional.
Dia mengatakan "jajar legowo" adalah teknologi pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi menjadi lebih tinggi dari teknologi yang diterapkan selama ini.
"Untuk mencapai target tersebut bukan pekerjaan ringan, karena itu kami mencoba mengkonkretkan gerakan kita untuk mendukung surplus beras nasional itu. Kita tidak bisa berdiri sendiri meskipun produksi beras di NTB dalam kondisi cukup aman, bahkan surplus," katanya.
Mashur mengatakan, pada prinsipnya tanam jajar legowo adalah salah satu upaya meningkatkan populasi tanam agar produktivitas tinggi.
Dengan teknologi tanam jajar legowo ini, menurut Mashur, akan bisa menambah produktivitas padi. Untuk menerapkan teknologi itu harus dikawal oleh penyuluh, karena itu dinamakan gerakan tanam jajar legowo yang dimotori para penyuluh.
Menurut dia, gerakan tanam jajar legowo hingga kini masih sedikit yang melaksanakannya. Evaluasi secara nasioanal menyebutkan penerapan teknologi itu baru sekitar tujuh persen.
"Kalau ini bisa dilaksanakan secara bertahap, kita yakin akan ada peningkatan produktivitas. Kalau penerapan teknologi ini tidak kita kawal, petani akan menanam secara biasa, sehingga produksi tidak bisa kita kontrol," ujarnya.
Dia mengakui para petani akan mengalami kesulitan menerapkan teknologi karena mereka menganggap baru, padahal sebenarnya hal ini bukan teknologi baru.
Teknologi tanam jajar legowo, menurut Mashur, adalah cara menanam padi yang diberikan jarak tertentu untuk memudahkan petani melakukan penyiangan (pembersihan).
"Kalau ini bisa diterapkan mungkin akan berpengaruh signifikan terhadap upaya peningkatan produksi padi," katanya. (*)
"Usulan kebutuhan pupuk ke provinsi maupun ke pusat bisa kita pastikan mengakomodir semua petani. Sebenarnya stok pupuk sudah mencukupi, namun karena ada petani yang menggunakan pupuk secara berlebihan menyebabkan terjadi kekuarangan pupuk," kata Kepala Sekretariat Bakoluh NTB, H Mashur di Mataram, Kamis.
Ia mengatakan, gerakan penyusunan RDKK itu merupakan salah satu upaya yang dilakuan untuk mendukung pencapaian target produksi beras secara nasional pada 2013 sebanyak 76 juta ton atau surplus 10 juta ton beras. Upaya lainnya adalah gerakan tanam jajar loegowo dan penyediaan benih unggul.
"Kalau tiga komponenan itu bisa dilaksakan, maka target secara nasional, yakni produksi beras sebanyak 76 juta ton atau surplus 10 juta ton beras akan bisa diwujudkan," ujarnya.
Badan Koordinasi Penyuluh Nusa Tenggara Barat menggagas gerakan tanam "jajar legowo" untuk mendukung program pencapaian produksi 76 juta ton atau surplus 10 juta ton beras secara nasional.
Dia mengatakan "jajar legowo" adalah teknologi pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi menjadi lebih tinggi dari teknologi yang diterapkan selama ini.
"Untuk mencapai target tersebut bukan pekerjaan ringan, karena itu kami mencoba mengkonkretkan gerakan kita untuk mendukung surplus beras nasional itu. Kita tidak bisa berdiri sendiri meskipun produksi beras di NTB dalam kondisi cukup aman, bahkan surplus," katanya.
Mashur mengatakan, pada prinsipnya tanam jajar legowo adalah salah satu upaya meningkatkan populasi tanam agar produktivitas tinggi.
Dengan teknologi tanam jajar legowo ini, menurut Mashur, akan bisa menambah produktivitas padi. Untuk menerapkan teknologi itu harus dikawal oleh penyuluh, karena itu dinamakan gerakan tanam jajar legowo yang dimotori para penyuluh.
Menurut dia, gerakan tanam jajar legowo hingga kini masih sedikit yang melaksanakannya. Evaluasi secara nasioanal menyebutkan penerapan teknologi itu baru sekitar tujuh persen.
"Kalau ini bisa dilaksanakan secara bertahap, kita yakin akan ada peningkatan produktivitas. Kalau penerapan teknologi ini tidak kita kawal, petani akan menanam secara biasa, sehingga produksi tidak bisa kita kontrol," ujarnya.
Dia mengakui para petani akan mengalami kesulitan menerapkan teknologi karena mereka menganggap baru, padahal sebenarnya hal ini bukan teknologi baru.
Teknologi tanam jajar legowo, menurut Mashur, adalah cara menanam padi yang diberikan jarak tertentu untuk memudahkan petani melakukan penyiangan (pembersihan).
"Kalau ini bisa diterapkan mungkin akan berpengaruh signifikan terhadap upaya peningkatan produksi padi," katanya. (*)
Pewarta : Oleh Masnun
Editor : Masnun
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB, 2025
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024