Mataram (ANTARA) - Dinas Perdagangan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, segera membagikan 24 gerobak yang dilengkapi dengan etalase aluminium kepada pedagang di pasar malam Rembiga.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Uun Pujianto di Mataram, Rabu, mengatakan, sebanyak 24 gerobak yang akan dibagi itu sebagai bagian dari upaya memotivasi pedagang yang mau berjualan hingga malam.

"Gerobak itu sudah kami desain sedemikian rupa, sehingga bisa digunakan untuk berjualan kuliner, minuman, sembako, sayur-sayuran dan lainnya," katanya.

Untuk membuka pasar malam tersebut, lanjutnya, saat ini sedang dilakukan persiapan pemasangan jaringan listrik, pendataan pedagang dan jenis dagangan yang akan dijual.

Setelah itu, barulah dilakukan pembagian gerobak dengan menempati areal Pasar Rembiga bagian barat, menghadap ke Lapangan TNI AU Rembiga.

"Untuk persiapan pembuatan los, lapak, dan gerobak pedagang sudah selesai kami siapkan dengan anggaran sekitar Rp190 juta. Kami tinggal tunggu pemasangan jaringan listrik dan pedagang tinggal menempati," katanya.

Pedagang di pasar malam ini selain menjual kuliner juga menjual berbagai kebutuhan pokok masyarakat seperti pasar tradisional pada umumnya yang menjual sembako dan lainnya.

Hanya saja, Pasar Rembiga ini dibuka sampai malam untuk  membantu masyarakat mencari kebutuhan pokok pada malam hari. "Jika ibu-ibu pagi tidak bisa ke pasar karena harus kerja, pasar malam Rembiga bisa jadi solusi masyarakat untuk belanja berbagai kebutuhan," katanya.

Menurutnya, apabila pasar malam ini bisa berjalan dengan baik, tidak menutup kemungkinan Pasar Rembiga akan dibuka 24 jam seperti di daerah-daerah Pulau Jawa, sehingga dapat mengoptimalkan aset yang ada serta pendapatan daerah. "Tidak seperti sekarang ini pukul 10.00 Wita atau 11.00 Wita pasar sudah sepi," katanya.

Menurutnya, Pasar Rembiga merupakan salah satu dari 19 pasar tradisional di Kota Mataram, hanya saja keberadaannya kurang efektif karena berada di belakang rumah toko (ruko).

Bahkan jumlah pedagang di Pasar Rembiga saat pagi hanya 29 orang sehingga retribusi yang dapat dalam sehari hanya sekitar Rp120 ribu.

Karena itu, lanjut Uun, konsep Pasar Rembiga menjadi pasar malam diharapkan bisa mengoptimalkan fungsi Pasar Rembiga sebagai pusat transaksi masyarakat.

Potensi Pasar Rembiga terjadi pada sore hari terutama pada bagian depan utara. Pada waktu sore lapak Pasar Rembiga dipenuhi pedagang makanan, seperti sate, urap, dan jajanan tradisional lainnya.

"Potensi itulah yang ingin kami kembangkan, agar Pasar Rembiga tetap ramai dari sore hingga malam. Pasar Rembiga akan jadi pasar malam kuliner dan sembako, bahkan kami akan siapkan 'live music' untuk menarik pengunjung," katanya.
 

Pewarta : Nirkomala
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024