New York (ANTARA) - Wall Street merosot tajam dan membukukan kinerja hari terburuknya tahun ini pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena investor menafsirkan rebound dalam aktivitas bisnis AS pada Februari berarti suku bunga harus tetap lebih tinggi lebih lama untuk mengendalikan inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun tajam 697,10 poin atau 2,06 persen, menjadi menetap di 33.129,59 poin. Indeks S&P 500 merosot 81,75 poin atau 2,0 persen, menjadi ditutup pada 3.997,34 poin. Indeks Komposit Nasdaq merosot 294,97 poin atau 2,5 persen, menjadi berakhir 11.492,3.

Untuk S&P 500 dan Komposit Nasdaq, ini adalah sesi ketiga berturut-turut ditutup lebih rendah, sementara penurunan Dow Jones menghapus kenaikannya untuk 2023.

Semua dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor konsumer non-primer merosot 3,3 persen memimpin kerugian.

Penurunan terjadi setelah Indeks Pembelian Manajer (PMI) manufaktur S&P Global, yang mencerminkan aktivitas bisnis di Amerika Serikat, kembali berekspansi untuk pertama kalinya dalam delapan bulan pada Februari. Pembacaan 50,2, naik dari 46,8 pada Januari, didukung oleh sektor jasa yang kuat, menurut sebuah survei.

Laporan tersebut menambah banyaknya data ekonomi baru-baru ini yang telah melukiskan gambaran ekonomi yang tangguh, yang terus bekerja dengan latar belakang beberapa kenaikan suku bunga oleh bank sentral pada 2022 yang bertujuan untuk menekan inflasi.

Dengan inflasi yang masih jauh dari target Fed 2,0 persen, dan ekonomi mempertahankan sebagian besar kekuatannya, pelaku pasar uang telah merevisi naik perkiraan suku bunga dana Fed memuncak-saat ini di 5,35 persen pada Juli dan bertahan di dekat level tersebut sepanjang tahun.

"Hari ini, realisasinya adalah bahwa Fed tidak main-main tentang (suku bunga) lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, dan faktanya mungkin sedikit lebih tinggi untuk sedikit lebih lama," kata Carol Schleif, Kepala Investasi di BMO Family Office.

Saham AS memiliki awal yang optimis untuk tahun ini setelah penampilan tahunan terburuk mereka dalam lebih dari satu dekade pada 2022, karena investor berharap siklus kenaikan suku bunga bank sentral mendekati akhir. Kepositifan seperti itu membuat pasar ekuitas rentan terhadap kemunduran, ketika data merusak ekspektasi tersebut.

"Pasar terus mencari perubahan arah dovish, dan mereka tidak akan mendapatkannya," kata Schleif. Investor akan melihat risalah yang merinci diskusi pada pertemuan kebijakan terakhir Fed, yang dijadwalkan pada Rabu, untuk petunjuk lebih lanjut tentang sikap bank sentral terhadap suku bunga.

Di antara mereka yang terkena penurunan yang meluas pada Selasa (21/2) adalah saham-saham teknologi besar, dengan Tesla Inc, Amazon.com Inc, Microsoft Corp, dan Alphabet-induk Google Inc semuanya jatuh antara 2,1 persen dan 5,3 persen.

Yang tidak membantu mereka adalah fakta bahwa obligasi Pemerintah AS 10-tahun mencapai level tertinggi baru dalam tiga bulan. Imbal hasil yang lebih tinggi biasanya membebani saham pertumbuhan, yang valuasinya cenderung didasarkan pada keuntungan masa depan yang didiskon besar-besaran karena suku bunga semakin tinggi.

Baca juga: Wall Street beragam, S&P 500 berakhir turun
Baca juga: Wall Street ditutup beragam karena inflasi

Di tempat lain, Home Depot Inc merosot 7,1 persen ke level terendah tiga bulan setelah jaringan toko perbaikan rumah domestik nomor satu itu memperingatkan melemahnya permintaan dan mengeluarkan perkiraan laba suram untuk 2023.

Saingannya yang lebih kecil, Lowe's Cos Inc anjlok 5,1 persen jelang rilis laporan keuangannya minggu depan. Walmart memperkirakan pendapatan setahun penuh di bawah perkiraan dan melukiskan gambaran suram inflasi makanan yang lebih panas dari perkiraan menekan margin keuntungan. Namun, saham pengecer terbesar di dunia itu naik 0,6 persen.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 11 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,62 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

 

 

Pewarta : Apep Suhendar
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024