Bank Indonesia dorong peningkatan produktivitas cabai merah
Minggu, 14 Mei 2023 5:35 WIB
Kegiatan penanaman bibit cabai di Nias. ANTARA/HO-BI Sibolga
Sibolga, Sumut (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sibolga mendorong peningkatan produktivitas pertanian di di Nias, Sumatera Utara, dengan menginisiasi replikasi model bisnis pengembangan klaster pangan melalui penerapan budi daya cabai merah organik dari decomposer MA-11.
Kepala Unit Data Statistik dan Kehumasan BI Sibolga Muhammad Fajar Andrianto di Sibolga, Sumut, Sabtu, mengatakan replikasi model bisnis tersebut dilakukan pada demplot cabai merah seluas satu hektare yang dikelola Poktan Hasara Dodo, Desa Somi, Kecamatn Gido, Kabupaten Nias.
Program tersebut bertujuan mendukung pengembangan ekonomi daerah melalui peningkatan kinerja UMKM yang tergabung dalam klaster, meliputi proses usaha tani dari hulu sampai hilir antara lain dari aspek budi daya, pengolahan pascapanen, hingga pemasaran produk.
"Kegiatan ini mengimplementasikan budi daya pertanian organik menggunakan MA-11 yang menghemat biaya pemupukan serta meningkatkan produktivitas, serta potensi implementasi KAD antara Kabupaten Nias dan Kota IHK Gunungsitoli," katanya.
Ia mengharapkan implementasi budi daya pertanian cabai merah organik menggunakan MA-11 menjadi role model bagi kelompok tani lainnya yang ada di Kabupaten Nias, sehingga produktivitas cabai merah semakin meningkat dan dapat memperkuat pasokan.
"Setelah implementasi demplot cabai merah di Poktan Hasaradodo, selanjutnya akan dilakukan penguatan kelembagaan, sehingga mindset anggota poktan tidak hanya bertani, melainkan mampu memiliki aspek kewirausahaan dan meningkatkan kesejahteraan petani ke depan," ucapnya.
Menurutnya, kegiatan itu menjadi simbol dukungan BI Sibolga menahan laju inflasi, serta meningkatkan ketahanan pangan di Nias, sekaligus memperkuat sinergi guna menjaga stabilitas harga dan meningkatkan ketahanan pangan untuk mendukung daya beli masyarakat dan pemulihan ekonomi nasional.
"Sejak 2006, Bank Indonesia telah melaksanakan program klaster UMKM produsen komoditas unggulan daerah, maupun komoditas ekspor, bekerja sama dengan pemerintah daerah maupun dinas terkait lainnya," ujarnya.
Baca juga: Launching payment collaboration with Singapore in 2nd half of 2023
Baca juga: Kasus korupsi KUR BRI Rp7,77 miliar: modusnya "nasabah topengan"
Sejak 2014, lanjutnya, pengembangan klaster lebih difokuskan pada komoditas yang mendukung ketahanan pangan, komoditas berorientasi ekspor, dan komoditas sumber tekanan inflasi akibat volatile food.
Kepala Unit Data Statistik dan Kehumasan BI Sibolga Muhammad Fajar Andrianto di Sibolga, Sumut, Sabtu, mengatakan replikasi model bisnis tersebut dilakukan pada demplot cabai merah seluas satu hektare yang dikelola Poktan Hasara Dodo, Desa Somi, Kecamatn Gido, Kabupaten Nias.
Program tersebut bertujuan mendukung pengembangan ekonomi daerah melalui peningkatan kinerja UMKM yang tergabung dalam klaster, meliputi proses usaha tani dari hulu sampai hilir antara lain dari aspek budi daya, pengolahan pascapanen, hingga pemasaran produk.
"Kegiatan ini mengimplementasikan budi daya pertanian organik menggunakan MA-11 yang menghemat biaya pemupukan serta meningkatkan produktivitas, serta potensi implementasi KAD antara Kabupaten Nias dan Kota IHK Gunungsitoli," katanya.
Ia mengharapkan implementasi budi daya pertanian cabai merah organik menggunakan MA-11 menjadi role model bagi kelompok tani lainnya yang ada di Kabupaten Nias, sehingga produktivitas cabai merah semakin meningkat dan dapat memperkuat pasokan.
"Setelah implementasi demplot cabai merah di Poktan Hasaradodo, selanjutnya akan dilakukan penguatan kelembagaan, sehingga mindset anggota poktan tidak hanya bertani, melainkan mampu memiliki aspek kewirausahaan dan meningkatkan kesejahteraan petani ke depan," ucapnya.
Menurutnya, kegiatan itu menjadi simbol dukungan BI Sibolga menahan laju inflasi, serta meningkatkan ketahanan pangan di Nias, sekaligus memperkuat sinergi guna menjaga stabilitas harga dan meningkatkan ketahanan pangan untuk mendukung daya beli masyarakat dan pemulihan ekonomi nasional.
"Sejak 2006, Bank Indonesia telah melaksanakan program klaster UMKM produsen komoditas unggulan daerah, maupun komoditas ekspor, bekerja sama dengan pemerintah daerah maupun dinas terkait lainnya," ujarnya.
Baca juga: Launching payment collaboration with Singapore in 2nd half of 2023
Baca juga: Kasus korupsi KUR BRI Rp7,77 miliar: modusnya "nasabah topengan"
Sejak 2014, lanjutnya, pengembangan klaster lebih difokuskan pada komoditas yang mendukung ketahanan pangan, komoditas berorientasi ekspor, dan komoditas sumber tekanan inflasi akibat volatile food.
Pewarta : Juraidi dan Tamy
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bank NTB Syariah meluncurkan RIMO, aplikasi mobile banking berbasis identitas lokal
17 March 2026 6:16 WIB
Bank Indonesia promosikan efisiensi transaksi keuangan lintas negara di China
11 March 2026 6:20 WIB
Rupiah menguat ke Rp16.886 per dolar AS, ambang Rp17.000 masih mengintai pasar
10 March 2026 11:00 WIB
Bank Indonesia umumkan penyesuaian kegiatan operasional selama libur Lebaran 2026
10 March 2026 7:04 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Harga emas UBS hari ini Rp2,933 juta/gr dan Galeri24 Rp2,920 juta/gr, Minggu 22 Maret 2026
22 March 2026 8:35 WIB
Harga emas Antam hari ini turun jadi Rp2.893.000 per gram, Jumat 20 Maret 2026
20 March 2026 10:35 WIB
Harga emas Antam hari ini turun jadi Rp2.943.000 per gram, Kamis `19 Maret 2026
19 March 2026 11:58 WIB
Harga emas Antam hari ini naik jadi Rp2,99 juta per gram, Rabu 18 Maret 2026
18 March 2026 10:57 WIB