Pasar Seni Senggigi menunggu sentuhan pemerintah
Rabu, 13 September 2023 18:05 WIB
Pasar Seni Senggigi, Lombok Barat saat ini menunggu sentuhan dari pemerintah daerah setempat untuk mengembalikan popularitasnya seperti era 1990-an.
Mataram (ANTARA) - Pasar Seni Senggigi, Lombok Barat saat ini menunggu sentuhan dari pemerintah daerah setempat untuk mengembalikan popularitasnya seperti era 1990-an.
Pasar seni yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Mataram tersebut, dahulunya menjadi tempat favorit para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk melihat-lihat maupun berbelanja produk seni lokal Pulau Lombok.
Dari pantauan ANTARA, Rabu, nuansa lesu dan kusam Pasar Seni Senggigi tersebut sudah terasa sejak dari pintu masuk atau plang nama yang tertulis di tembok kecil. Lorong kios kurang mengenakkan pandangan mata, karena banyak kios yang ditutup.
Pengunjung tidak terlihat sama sekali. Hanya terlihat, sejumlah pedagang yang duduk-duduk santai saja sembari bercengkerama guna membuang waktu kosong mereka. Jika melihat potensi sebenarnya masih bisa bangkit, mengingat di belakangnya terhampar Pantai Senggigi yang berpasir putih hingga akan memanjakan mata wisatawan.
Dolah, karyawan toko di Pasar Seni Senggigi, mengatakan, pasar tersebut mulai sepi pengunjung semenjak pandemi COVID-19.
"Sebenarnya dari Juni sampai Agustus kemarin, pengunjung sudah mulai kembali berdatangan dari wisatawan lokal hingga wisatawan mancanegara, tetapi tidak seramai sebelumnya," katanya.
Hal tersebut mengakibatkan, kata dia, omset atau pendapatan para pedagang di pasar seni itu menurun drastis. Dari sebelumnya berpenghasilan per bulan mencapai Rp20 juta, menjadi Rp2 juta per bulan. Akibat kondisi demikian, banyak pedagang yang beralih profesi ke bidang lain.
Sementara itu, Azim, warga Kota Mataram, menyayangkan kondisi Pasar Seni Senggigi saat ini, padahal jika dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat bisa menjadi destinasi wisata unggulan.
"Posisi pasar seni ini benar-benar strategis dengan latar belakang pantai dan air laut yang indah dan bersih. Sayang sekali jika tidak dikelola dengan maksimal," katanya.
Pasar seni yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Mataram tersebut, dahulunya menjadi tempat favorit para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk melihat-lihat maupun berbelanja produk seni lokal Pulau Lombok.
Dari pantauan ANTARA, Rabu, nuansa lesu dan kusam Pasar Seni Senggigi tersebut sudah terasa sejak dari pintu masuk atau plang nama yang tertulis di tembok kecil. Lorong kios kurang mengenakkan pandangan mata, karena banyak kios yang ditutup.
Pengunjung tidak terlihat sama sekali. Hanya terlihat, sejumlah pedagang yang duduk-duduk santai saja sembari bercengkerama guna membuang waktu kosong mereka. Jika melihat potensi sebenarnya masih bisa bangkit, mengingat di belakangnya terhampar Pantai Senggigi yang berpasir putih hingga akan memanjakan mata wisatawan.
Dolah, karyawan toko di Pasar Seni Senggigi, mengatakan, pasar tersebut mulai sepi pengunjung semenjak pandemi COVID-19.
"Sebenarnya dari Juni sampai Agustus kemarin, pengunjung sudah mulai kembali berdatangan dari wisatawan lokal hingga wisatawan mancanegara, tetapi tidak seramai sebelumnya," katanya.
Hal tersebut mengakibatkan, kata dia, omset atau pendapatan para pedagang di pasar seni itu menurun drastis. Dari sebelumnya berpenghasilan per bulan mencapai Rp20 juta, menjadi Rp2 juta per bulan. Akibat kondisi demikian, banyak pedagang yang beralih profesi ke bidang lain.
Sementara itu, Azim, warga Kota Mataram, menyayangkan kondisi Pasar Seni Senggigi saat ini, padahal jika dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat bisa menjadi destinasi wisata unggulan.
"Posisi pasar seni ini benar-benar strategis dengan latar belakang pantai dan air laut yang indah dan bersih. Sayang sekali jika tidak dikelola dengan maksimal," katanya.
Pewarta : Magang UIN Mataram
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Seni bercerita penting bagi komunikasi anak dan orang tua, kata Raffi Ahmad
16 November 2025 14:51 WIB
Terpopuler - Suara Publik
Lihat Juga
SPMB 2026/2027 Surabaya: Ujian etik kota layak anak dan sekolah ramah anak
11 February 2026 15:28 WIB
Mengurai dugaan penyimpangan program swasembada bawang putih di Lombok Timur
06 February 2026 14:04 WIB
Uang pajak untuk bayar bunga utang negara, Jalan menuju kesejahteraan atau menjadi beban fiskal?
05 February 2026 10:52 WIB