Jakarta (ANTARA) - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memproyeksikan sekitar 3,5 juta orang yang terdiri dari penutur muda, guru, dan pegiat bahasa akan terlibat dalam program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) tahun 2023.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek Aminudin Aziz mengatakan angka tersebut masih rasional jika melihat cakupan program RBD tahun 2022 sebelumnya yang berhasil menggaet 2,9 juta orang di 13 provinsi.

"Tahun 2022 lalu kami targetkan 1,4 juta, tapi data mencatat ada 2.9 juta orang yang terlibat. Semoga saja tahun ini bisa lebih dari 3.5 juta peserta," kata Aminudin kepada wartawan , di Jakarta, Selasa.

Dia menyampaikan sasaran utama dalam program ini yaitu, penutur muda di bangku Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di 19 provinsi karena para siswa merupakan pewaris bahasa ibu di daerahnya masing-masing.

Menurutnya, peranan guru dan komunitas pecinta bahasa dalam program RBD sangat penting, karena mereka memiliki cara tersendiri untuk mengajak para penutur muda melestarikan bahasa daerahnya.

Dia mengatakan kajian yang dilakukan pada tahun 2021 di 25 bahasa daerah menunjukkan minat para penutur muda terhadap bahasa daerah terus mengalami penurunan. Hal tersebut juga diperkuat melalui data Long Form Sensus Penduduk 2020 (LF SP2020) Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukan, hanya 61--62 persen kalangan generasi Z dan generasi Alfa yang menggunakan bahasa daerahnya ketika bersosialisasi.

Baca juga: Kemendikbudristek menepis tudingan literasi masyarakat Indonesia rendah
Baca juga: Program magang tiket emas ke dunia kerja bagi mahasiswa

Oleh karena itu, Aminudin berargumen, dengan proyeksi lebih dari 3,5 juta masyarakat yang terlibat dalam RBD 2023, diharapkan mampu mencegah hilangnya bahasa daerah.

 

Pewarta : Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024