Raperda Masyarakat Adat berpengaruh dalam percepatan pembangunan
Jumat, 29 April 2016 14:55 WIB
Ilustrasi - Seorang masyarakat adat Semende berdiri di samping pengumuman yang dipasang warga tentang hutan adat bukan hutan negara. (Foto istimewa/Aman Bengkulu) (1)
Sumbawa (Antara NTB) - Rancangan Peraturan Daerah Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat dinilai penting karena berpengaruh dalam percepatan pembangunan daerah.
"Keberadaan raperda ini sebenarnya sangat diperlukan Pemda untuk mempercepat pembangunan," kata Sekjen LSM Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Abdon Nababan, di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat.
Karena kejelasan status lahan, menurutnya penting untuk dapat dilakukan pembangunan di wilayah tersebut.
"Banyak program pemerintah terhenti (pelaksanaannya), karena konflik lahan, tidak jelas siapa pemegang haknya. Kalau batas-batas desa saja tidak jelas mana desa administratif, mana desa adat, maka program-program pembangunan yang sudah dirancang di level desa pun akan terhambat," tuturnya.
Selain menghambat pembangunan daerah, ia juga menilai adanya moratorium perizinan pertambangan salah satunya disebabkan konflik atas kepemilikan tanah.
Menurutnya bila pengakuan mengenai wilayah adat dan masyarakat adat terakomodasi, maka moratorium tersebut bisa segera dicabut.
Pihaknya menilai pengakuan dan hak-hak masyarakat adat di beberapa daerah, termasuk di Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, masih tidak jelas.
Pasalnya di Badan Pertanahan Negara (BPN) tidak mengakui adanyak hak wilayah masyarakat adat. "Hanya sertifikasi tanah individual saja yang (tercatat) di BPN. Hak wilayah masyarakat adat enggak ada," ucapnya.
Kabupaten Sumbawa tercatat memiliki sekurangnya 17 komunitas masyarakat adat. Kendati demikian belasan komunitas adat tersebut belum diakui secara hukum.
LSM Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) berupaya mendorong belasan masyarakat adat dan hak-hak mereka untuk diakui secara hukum melalui peraturan daerah yang saat ini masih berupa rancangan.
Editor : C. Hamdani
(*)
"Keberadaan raperda ini sebenarnya sangat diperlukan Pemda untuk mempercepat pembangunan," kata Sekjen LSM Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Abdon Nababan, di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat.
Karena kejelasan status lahan, menurutnya penting untuk dapat dilakukan pembangunan di wilayah tersebut.
"Banyak program pemerintah terhenti (pelaksanaannya), karena konflik lahan, tidak jelas siapa pemegang haknya. Kalau batas-batas desa saja tidak jelas mana desa administratif, mana desa adat, maka program-program pembangunan yang sudah dirancang di level desa pun akan terhambat," tuturnya.
Selain menghambat pembangunan daerah, ia juga menilai adanya moratorium perizinan pertambangan salah satunya disebabkan konflik atas kepemilikan tanah.
Menurutnya bila pengakuan mengenai wilayah adat dan masyarakat adat terakomodasi, maka moratorium tersebut bisa segera dicabut.
Pihaknya menilai pengakuan dan hak-hak masyarakat adat di beberapa daerah, termasuk di Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, masih tidak jelas.
Pasalnya di Badan Pertanahan Negara (BPN) tidak mengakui adanyak hak wilayah masyarakat adat. "Hanya sertifikasi tanah individual saja yang (tercatat) di BPN. Hak wilayah masyarakat adat enggak ada," ucapnya.
Kabupaten Sumbawa tercatat memiliki sekurangnya 17 komunitas masyarakat adat. Kendati demikian belasan komunitas adat tersebut belum diakui secara hukum.
LSM Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) berupaya mendorong belasan masyarakat adat dan hak-hak mereka untuk diakui secara hukum melalui peraturan daerah yang saat ini masih berupa rancangan.
Editor : C. Hamdani
(*)
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor : Awaludin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Majelis Adat Sasak Lombok usung paradigma baru yang inklusif dan egaliter
09 December 2025 17:03 WIB
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB, 2025
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024