Ahmad Basarah: Tak relevan mendikotonomikan nasionalisme-agama
Sabtu, 30 Maret 2024 14:19 WIB
Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah dalam acara peringatan Nuzul Quran di Masjid At Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta, Jumat (29/3/2024). (ANTARA/HO-PDIP)
Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menilai saat ini tak lagi relevan untuk mendikotomikan nasionalisme dan agama.
"Tak lagi tepat mendikotomikan nasionalisme dengan agama, agama dengan nasionalisme, karena pada hakikatnya nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang religius," kata Basarah dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurutnya, Bung Karno sebagai pendiri bangsa pun banyak meninggalkan warisan tentang keislaman meski dikenal sebagai tokoh nasionalis.
"Bung Karno yang oleh sejumlah kalangan disebut sebagai tokoh nasionalis, pada pemikiran dan legasinya justru menunjukkan dimensi keagamaan begitu sangat kuat," ujarnya.
Basarah menjelaskan Bung Karno mempelajari Islam secara mendalam sejak remaja atau tepatnya ketika Sang Proklamator itu dititipkan di rumah tokoh pimpinan islam, Haji Umar Said Tjokroaminoto.
"Di sana lah Bung Karno digembleng ajaran dan pemikiran Islam," ungkap Basarah dalam peringatan Nuzulul Quran yang digelar Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), organisasi sayap PDIP, di Masjid At Taufiq, Jakarta, Jumat (29/3).
Baca juga: Wakil Ketua MPR menanggapi putusan MK soal perbedaan sikap hakim
Bung Karno juga, sambung dia, mengakui Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah adalah guru utama yang dia ikuti.
Lalu, Bung Karno juga pernah berguru dengan Kiai Ahmad Hasan di Bandung.
"Ketika Bung Karno dibuang belanda ke Ende, tepi pantai yang sepi, Bung Karno melanjutkan pemikiran islamnya dengan melakukan yurisprudensi dengan Kyai Ahmad Hasan di Bandung, yang surat-surat itu sekarang sudah dibukukan," tambahnya.
Kemudian, saat Bung Karno dibuang ke Bengkulu, ia juga bertemu banyak tokoh Islam di sana. Adapun untuk pertama kalinya Soekarno memutuskan masuk organisasi Muhammadiyah.
Diketahui, Bung Karno diangkat jadi ketua majelis pengajaran di Muhammadiyah Bengkulu tahun 1938-1942.
Baca juga: Basarah: PDIP belum umumkan capres jaga suasana kondusif politik
Konsep keislaman yang dipelajari secara mendalam oleh Bung Karno sejak remaja itu kemudian dipakai dalam merumuskan dasar negara menjelang kemerdekaan Indonesia.
"Ketika beliau mengusulkan dasar Indonesia merdeka, Bung Karno mengusulkan dasar ketuhanan yang maha esa sebagai dasar yang fundamental bangsa Indonesia pada waktu itu," tutur dia.
Pemikiran Bung Karno yang merupakan tokoh nasionalis sekaligus religius itu pun bisa menjadi jalan tengah.
Baca juga: MPR mengingatkan Pancasila falsafah hidup bangsa Indonesia
Sebab, 66 tokoh yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) itu terbelah menjadi dua kelompok.
Ada kelompok yang ingin Indonesia menjadi negara nasionalis sekuler dan ada kelompok yang ingin Indonesia jadi negara Islam.
"Sebagai pembicara terakhir, Bung Karno mengusulkan jalan tengah, bukan negara nasionalis sekuler, tapi bukan negara islam. Bung Karno mengusulkan negara ketuhanan yang maha esa, di mana semua umat beragama diakui dalam bingkai hukum negara Pancasila," katanya.
Baca juga: Basarah mengkhawatirkan Medsos ambil alih pembentukan karakter bangsa
"Tak lagi tepat mendikotomikan nasionalisme dengan agama, agama dengan nasionalisme, karena pada hakikatnya nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang religius," kata Basarah dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurutnya, Bung Karno sebagai pendiri bangsa pun banyak meninggalkan warisan tentang keislaman meski dikenal sebagai tokoh nasionalis.
"Bung Karno yang oleh sejumlah kalangan disebut sebagai tokoh nasionalis, pada pemikiran dan legasinya justru menunjukkan dimensi keagamaan begitu sangat kuat," ujarnya.
Basarah menjelaskan Bung Karno mempelajari Islam secara mendalam sejak remaja atau tepatnya ketika Sang Proklamator itu dititipkan di rumah tokoh pimpinan islam, Haji Umar Said Tjokroaminoto.
"Di sana lah Bung Karno digembleng ajaran dan pemikiran Islam," ungkap Basarah dalam peringatan Nuzulul Quran yang digelar Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), organisasi sayap PDIP, di Masjid At Taufiq, Jakarta, Jumat (29/3).
Baca juga: Wakil Ketua MPR menanggapi putusan MK soal perbedaan sikap hakim
Bung Karno juga, sambung dia, mengakui Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah adalah guru utama yang dia ikuti.
Lalu, Bung Karno juga pernah berguru dengan Kiai Ahmad Hasan di Bandung.
"Ketika Bung Karno dibuang belanda ke Ende, tepi pantai yang sepi, Bung Karno melanjutkan pemikiran islamnya dengan melakukan yurisprudensi dengan Kyai Ahmad Hasan di Bandung, yang surat-surat itu sekarang sudah dibukukan," tambahnya.
Kemudian, saat Bung Karno dibuang ke Bengkulu, ia juga bertemu banyak tokoh Islam di sana. Adapun untuk pertama kalinya Soekarno memutuskan masuk organisasi Muhammadiyah.
Diketahui, Bung Karno diangkat jadi ketua majelis pengajaran di Muhammadiyah Bengkulu tahun 1938-1942.
Baca juga: Basarah: PDIP belum umumkan capres jaga suasana kondusif politik
Konsep keislaman yang dipelajari secara mendalam oleh Bung Karno sejak remaja itu kemudian dipakai dalam merumuskan dasar negara menjelang kemerdekaan Indonesia.
"Ketika beliau mengusulkan dasar Indonesia merdeka, Bung Karno mengusulkan dasar ketuhanan yang maha esa sebagai dasar yang fundamental bangsa Indonesia pada waktu itu," tutur dia.
Pemikiran Bung Karno yang merupakan tokoh nasionalis sekaligus religius itu pun bisa menjadi jalan tengah.
Baca juga: MPR mengingatkan Pancasila falsafah hidup bangsa Indonesia
Sebab, 66 tokoh yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) itu terbelah menjadi dua kelompok.
Ada kelompok yang ingin Indonesia menjadi negara nasionalis sekuler dan ada kelompok yang ingin Indonesia jadi negara Islam.
"Sebagai pembicara terakhir, Bung Karno mengusulkan jalan tengah, bukan negara nasionalis sekuler, tapi bukan negara islam. Bung Karno mengusulkan negara ketuhanan yang maha esa, di mana semua umat beragama diakui dalam bingkai hukum negara Pancasila," katanya.
Baca juga: Basarah mengkhawatirkan Medsos ambil alih pembentukan karakter bangsa
Pewarta : Narda Margaretha Sinambela
Editor : Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Anggota DPD RI Lia Istifhama apresiasi program revitalisasi sekolah, Jatim tertinggi usulan Nasional
30 January 2026 17:35 WIB
Intervensi selektif AS di Indo-Pasifik ciptakan tantangan, peluang Indonesia
30 January 2026 6:28 WIB
Jelang Ramadhan, Senator Mirah dorong distribusi ikan dan stabilisasi harga di NTB
29 January 2026 18:46 WIB
Indonesia pastikan program konservasi terumbu karang dengan AS tetap berjalan
28 January 2026 4:17 WIB
DPR nilai Board of Peace menjadi jalur diplomasi alternatif Indonesia untuk Gaza
28 January 2026 4:01 WIB
Terpopuler - Politik
Lihat Juga
Efek beruntun di OJK, Wakil Ketua Dewan Komisioner Mirza Adityaswara mundur
31 January 2026 15:30 WIB
Tanggung jawab moral, Mahendra Siregar mundur dari jabatan Ketua Dewan Komisioner OJK
31 January 2026 15:27 WIB