Penjabat presiden Myanmar alihkan tugas ke junta
Rabu, 24 Juli 2024 6:11 WIB
Pemimpin junta Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, menghadiri parade militer untuk memperingati 78 tahun angkatan bersenjata Myanmar di Naypyidaw, Myanmar, Senin (27/3/2023). ANTARA/Xinhua/Myo Kyaw Soe/am.
Ankara (ANTARA) - Penjabat Presiden Myanmar Myint Shwe telah mengalihkan tugasnya kepada kepala junta setelah mengalami sakit parah, lapor media setempat pada Selasa.
Pemimpin Myanmar berusia 73 tahun itu sudah tidak mampu mengatur urusan negara atau melakukan tugas pokok sehari-hari, setelah diketahui menderita kelainan saraf yang parah serta kekurangan gizi.
Tugas-tugasnya yang berkaitan dengan urusan pertahanan dan keamanan nasional telah diserahkan kepada ketua Dewan Pemerintahan Negara Myanmar, yaitu junta militer yang memerintah sejak kudeta 2021, menurut laporan media berita Myanmar, Eleven.
Pekan lalu, kementerian informasi negara itu mengumumkan bahwa Swe menjalani perawatan medis secara reguler dari tim dokter spesialis. Swe didiagnosis menderita perlambatan psikomotor dan gizi buruk sejak awal 2023.
"Dia menderita gangguan neurologis dan neuropati perifer,” kata kementerian tersebut, seraya mengungkapkan bahwa Swe tidak dapat melakukan aktivitas normal sehari-hari, termasuk makan.
Baca juga: Piala AFF U-19 : Australia dipastikan juara Grup B
Baca juga: Will support Malaysia role in resolving Myanmar issue: Indonesia
Perkembangan itu diketahui sepekan sebelum dewan negara menjadwalkan pertemuan untuk memperbarui keadaan darurat yang diberlakukan sejak militer Myanmar merebut kekuasaan pada Februari 2021.
Sebelumnya, Swe menjabat sebagai wakil presiden di bawah pemerintah demokrasi terpilih Aung San Suu Kyi. Suu Kyi, penerima Hadiah Nobel Perdamaian, adalah pemimpin de facto Myanmar sebelum ia digulingkan dalam kudeta militer pada Februari 2021.
Pascakudeta, militer menunjuk Myint Swe sebagai penjabat presiden, yang berarti mendepak Suu Kyi beserta partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang dipimpinnya.
Sumber: Anadolu
Pemimpin Myanmar berusia 73 tahun itu sudah tidak mampu mengatur urusan negara atau melakukan tugas pokok sehari-hari, setelah diketahui menderita kelainan saraf yang parah serta kekurangan gizi.
Tugas-tugasnya yang berkaitan dengan urusan pertahanan dan keamanan nasional telah diserahkan kepada ketua Dewan Pemerintahan Negara Myanmar, yaitu junta militer yang memerintah sejak kudeta 2021, menurut laporan media berita Myanmar, Eleven.
Pekan lalu, kementerian informasi negara itu mengumumkan bahwa Swe menjalani perawatan medis secara reguler dari tim dokter spesialis. Swe didiagnosis menderita perlambatan psikomotor dan gizi buruk sejak awal 2023.
"Dia menderita gangguan neurologis dan neuropati perifer,” kata kementerian tersebut, seraya mengungkapkan bahwa Swe tidak dapat melakukan aktivitas normal sehari-hari, termasuk makan.
Baca juga: Piala AFF U-19 : Australia dipastikan juara Grup B
Baca juga: Will support Malaysia role in resolving Myanmar issue: Indonesia
Perkembangan itu diketahui sepekan sebelum dewan negara menjadwalkan pertemuan untuk memperbarui keadaan darurat yang diberlakukan sejak militer Myanmar merebut kekuasaan pada Februari 2021.
Sebelumnya, Swe menjabat sebagai wakil presiden di bawah pemerintah demokrasi terpilih Aung San Suu Kyi. Suu Kyi, penerima Hadiah Nobel Perdamaian, adalah pemimpin de facto Myanmar sebelum ia digulingkan dalam kudeta militer pada Februari 2021.
Pascakudeta, militer menunjuk Myint Swe sebagai penjabat presiden, yang berarti mendepak Suu Kyi beserta partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang dipimpinnya.
Sumber: Anadolu
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Pertemuan hangat Megawati-Putra Mahkota Abu Dhabi, Bung Karno jadi topik utama
05 February 2026 18:56 WIB