BRIN sebut pendekatan molekuler dapat mencegah penyakit tanaman
Selasa, 22 Oktober 2024 19:06 WIB
Ilustrasi: Petani menunjukkan tanaman jeruk pamelo yang mengering akibat serangan penyakit jamur di Duwet, Bendo, Magetan, Jawa Timur, Senin (25/3/2024). ANTARA FOTO/Siswowidodo/rwa (ANTARA FOTO/SISWOWIDODO)
Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ahmad Fathoni menyatakan pendekatan molekuler memungkinkan deteksi patogen lebih dini untuk mencegah risiko kemunculan penyakit pada tanaman.
Ia menyoroti perubahan iklim memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian, terutama yang berkaitan dengan produktivitas. Oleh karena itu upaya pengembangan informasi genetik terus dilakukan guna mengurangi risiko penyakit pada tanaman.
“Melalui riset dan pemantauan yang intensif, kami dapat memahami bagaimana penyakit berevolusi dan melakukan pengelolaan yang berkelanjutan,” kata Fathoni dalam keterangannya di Jakarta pada Selasa.
Baca juga: Distan Lombok Tengah menyiapkan obat pengendalian penyakit kresek
Sementara itu peneliti dari Malaysia Wong Mui Yun yang menjadi visiting researcher di PRMT BRIN memaparkan pendekatan molekuler dapat membantu dalam mengembangkan pengelolaan penyakit tanaman yang berkelanjutan.
Wong menekankan pendekatan manajemen tanaman berkelanjutan menjadi hal penting dalam memastikan produksi pangan lebih aman, berkualitas, dan berkelanjutan. Ia menjelaskan pengelolaan penyakit tanaman berkelanjutan juga memberikan manfaat terhadap perlindungan lingkungan.
Baca juga: Karantina Mamuju pantau penyakit hewan brucella
“Adanya upaya dalam mengurangi penggunaan bahan kimia secara berlebihan, memungkinkan kesehatan tanaman secara jangka panjang, sehingga tanaman menjadi lebih kuat, secara ekonomi efisien karena mengurangi biaya penggunaan pestisida dan ketahanan terhadap perubahan iklim,” tuturnya.
Yun memproyeksikan peluang riset pada masa depan melalui penerapan bioteknologi dalam upaya perlindungan tanaman. Beberapa pendekatan bioteknologi terkini, seperti penggunaan RNAi (RNA interference) non-transgenik dan genome editing dengan CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats) dapat menjadi salah satu metode potensial untuk memproduksi tanaman resisten penyakit di masa depan.
Metode ini berpotensi menjadi alternatif dalam menghasilkan tanaman resisten penyakit yang sebelumnya dilakukan dengan teknologi transgenik berbasis penggunaan agrobacterium.
Ia menyoroti perubahan iklim memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian, terutama yang berkaitan dengan produktivitas. Oleh karena itu upaya pengembangan informasi genetik terus dilakukan guna mengurangi risiko penyakit pada tanaman.
“Melalui riset dan pemantauan yang intensif, kami dapat memahami bagaimana penyakit berevolusi dan melakukan pengelolaan yang berkelanjutan,” kata Fathoni dalam keterangannya di Jakarta pada Selasa.
Baca juga: Distan Lombok Tengah menyiapkan obat pengendalian penyakit kresek
Sementara itu peneliti dari Malaysia Wong Mui Yun yang menjadi visiting researcher di PRMT BRIN memaparkan pendekatan molekuler dapat membantu dalam mengembangkan pengelolaan penyakit tanaman yang berkelanjutan.
Wong menekankan pendekatan manajemen tanaman berkelanjutan menjadi hal penting dalam memastikan produksi pangan lebih aman, berkualitas, dan berkelanjutan. Ia menjelaskan pengelolaan penyakit tanaman berkelanjutan juga memberikan manfaat terhadap perlindungan lingkungan.
Baca juga: Karantina Mamuju pantau penyakit hewan brucella
“Adanya upaya dalam mengurangi penggunaan bahan kimia secara berlebihan, memungkinkan kesehatan tanaman secara jangka panjang, sehingga tanaman menjadi lebih kuat, secara ekonomi efisien karena mengurangi biaya penggunaan pestisida dan ketahanan terhadap perubahan iklim,” tuturnya.
Yun memproyeksikan peluang riset pada masa depan melalui penerapan bioteknologi dalam upaya perlindungan tanaman. Beberapa pendekatan bioteknologi terkini, seperti penggunaan RNAi (RNA interference) non-transgenik dan genome editing dengan CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats) dapat menjadi salah satu metode potensial untuk memproduksi tanaman resisten penyakit di masa depan.
Metode ini berpotensi menjadi alternatif dalam menghasilkan tanaman resisten penyakit yang sebelumnya dilakukan dengan teknologi transgenik berbasis penggunaan agrobacterium.
Pewarta : Farhan Arda Nugraha
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Faperta UMMAT dorong inovasi pangan fungsional melalui kuliah pakar tanaman teratai
11 November 2025 8:28 WIB
DLH Mataram petakan RTH sebagai lokasi penanaman bibit tanaman ucapan selamat
25 February 2025 11:38 WIB