Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyetujui pembukaan sedikitnya 160 program pendidikan dokter spesialis dan sub-spesialis, baik di kampus negeri maupun swasta untuk memenuhi kebutuhan sektor itu di Indonesia.

"Dari target 148 program pendidikan dokter spesialis baru, kami telah menyetujui sebanyak 160 program studi baru," kata Direktur Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia Mukhamad Najib di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, Presiden Prabowo Subianto sempat menyampaikan satu amanat yaitu membutuhkan banyak dokter spesialis, karena selama ini dokter spesialis sangat jarang. Sehingga kata Najib, Presiden RI menargetkan kepada Kemdiktisaintek agar bisa membuka 148 program pendidikan dokter spesialis dan sub-spesialis supaya dapat mencetak dokter spesialis di Indonesia.

Pada saat itu, lanjut Najib, pihaknya ragu dengan apa yang diinginkan oleh Presiden, namun karena itu merupakan amanat sehingga Kemdiktisaintek terus berupaya memenuhi target tersebut.

"Ini cukup berat, tapi setelah diupayakan dan menunjuk sejumlah universitas yang dianggap mampu, maka sampai saat ini sudah ada 160 program pendidikan dokter spesialis yang terdiri dari 128 spesialis dan sisanya sub-spesialis," ujarnya.

Ia berharap dengan semakin banyaknya universitas negeri maupun swasta yang membuka program tersebut dapat menghasilkan dokter-dokter yang berkompeten.

Selain itu, Najib juga meminta agar dokter senior supaya tidak memberikan tekanan yang berlebihan kepada dokter yang mengambil program pendidikan dokter spesialis.

"Jangan sampai ada perundungan, apalagi ada yang sampai bunuh diri, untuk itu, kami berpesan agar jangan sampai ada hal itu," katanya saat meluncurkan program pendidikan dokter spesialis yaitu Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Universitas Katolik Atma Jaya dan Universitas Pelita Harapan (UPH) itu.

Data penelusuran ANTARA menyebutkan, hingga saat ini jumlah dokter spesialis di Indonesia tercatat sekitar 51.949 orang atau masih jauh dari kebutuhan ideal. 

Baca juga: Kemendiktisaintek mengkampanyekan program Mahasiswa Berdampak di Undiksha
Baca juga: Mendiktisaintek menekankan kolaborasi antar-perguruan tinggi

Berdasarkan perhitungan ideal rasio dokter spesialis 0,28 per 1.000 penduduk maka Indonesia masih kekurangan sekitar 30.000 dokter spesialis untuk memenuhi standar pelayanan kesehatan. 

Sementara itu, produksi dokter spesialis melalui program pendidikan saat ini hanya sekitar 2.700 lulusan per tahun atau jauh di bawah kebutuhan yang diperkirakan mencapai 32.000 per tahun untuk mengejar target ideal tersebut.-


 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026