Bima (ANTARA) - Seorang mahasiswa tewas tertimpa pohon tumbang saat hujan lebat disertai angin kencang melanda Kabupaten Bima dan sekitarnya, Kamis (—), yang juga mengakibatkan banjir serta gangguan akses jalan di sejumlah kecamatan.

Korban meninggal dunia diketahui bernama Rizki Aditya (20), mahasiswa asal Desa Wora. Ia tertimpa pohon saat melintas di jalan raya lintas Wera–Bima, tepatnya di Desa Nangawera, Kecamatan Wera, Kamis malam.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima Nurul Huda mengatakan cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang terjadi sejak pagi hingga dini hari.

“Angin kencang menyebabkan pohon berukuran besar tumbang dan menimpa dua mahasiswa yang sedang berboncengan sepeda motor. Satu korban meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya mengalami luka kritis dan sedang menjalani perawatan medis,” ujar Nurul Huda.

Baca juga: Cuaca ekstrem rusak rumah warga dan Jembatan di Dompu

Ia mengatakan peristiwa tersebut sempat melumpuhkan arus lalu lintas Wera–Bima karena batang pohon menutup badan jalan. Kemacetan juga terjadi di beberapa titik lain, seperti di Desa Mandala, Kecamatan Wera, serta Desa Mawu, Kecamatan Ambalawi, sebelum akhirnya pohon tumbang berhasil dievakuasi oleh petugas bersama warga.

Selain menimbulkan korban jiwa, cuaca ekstrem juga menyebabkan kerusakan rumah warga. Di Desa Ranggasolo, Kecamatan Wera, satu unit rumah panggung mengalami kerusakan pada bagian atap dan dinding akibat terjangan angin kencang. Satu kepala keluarga terdampak dengan perkiraan kerugian material mencapai Rp10 juta.

Sementara itu, banjir dilaporkan terjadi di Kecamatan Tambora, khususnya di Desa Labuan Kananga, setelah sistem drainase tidak mampu menampung debit air kiriman dari kawasan pegunungan. Sebanyak 48 rumah warga terendam dengan ketinggian air antara 10 hingga 30 sentimeter.

Baca juga: Hadapi cuaca ekstrem, NTB siapkan lima langkah lindungi sentra pangan

Banjir juga merendam SDN 02 Labuan Kananga dan kantor desa sehingga mengganggu aktivitas pendidikan dan pelayanan publik. Namun, tidak terdapat laporan pengungsian karena air berangsur surut.

“Sebanyak 48 kepala keluarga terdampak banjir. Saat ini warga melakukan pembersihan lumpur, sementara kerugian pada lahan pertanian dan infrastruktur lainnya masih dalam pendataan,” kata Nurul Huda.

BPBD Kabupaten Bima mencatat kebutuhan mendesak di wilayah terdampak meliputi bantuan tanggap darurat, logistik, serta peralatan pendukung penanganan bencana. Tim BPBD bersama TNI-Polri dan pemerintah desa telah melakukan kaji cepat, pendataan, serta penanganan darurat di lokasi terdampak.

BPBD juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi dan dapat memicu bencana susulan seperti banjir bandang, angin puting beliung, dan tanah longsor, terutama di wilayah rawan bencana.

Baca juga: Langit yang tak lagi tenang
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Langit NTB dan ujian ketangguhan
 


Pewarta : Ady Ardiansah
Editor : Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026