Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan lima langkah konkret untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang diprakirakan melanda kawasan sentra produksi pangan di wilayah lereng Gunung Rinjani dan Gunung Tambora.
Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik mengatakan kelima langkah tersebut mencakup penguatan peringatan dini, pemetaan titik rawan, perlindungan sektor pertanian, kesiapan evakuasi, dan edukasi kewaspadaan masyarakat.
"Kami memastikan informasi BMKG diteruskan secara cepat melalui kanal resmi pemerintah dan jejaring di daerah, agar masyarakat di lereng Rinjani dan Tambora bisa melakukan antisipasi sejak dini," ujarnya di Mataram, Kamis.
Ahsanul menuturkan lokasi rawan banjir bandang, longsor, dan luapan sungai, termasuk jalur yang sering terdampak bencana terus dipetakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruangan (PUPR) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar penanganan bisa dilakukan dengan cepat ketika terjadi gangguan akses.
Baca juga: Cuaca ekstrem, empat pelajar di Lombok Timur tertimpa pohon tumbang
Pihaknya menegaskan komitmen perlindungan terhadap sektor pertanian dan perkebunan di lereng Rinjani serta Tambora mengingat kawasan itu adalah sentra produksi pangan daerah.
"Kami mendorong penyesuaian jadwal tanam, penguatan saluran pembuangan air di lahan, mitigasi risiko erosi, dan pendampingan teknis kepada petani agar produktivitas tetap terjaga" kata Ahsanul.
Dalam aspek evakuasi dan logistik, lanjutnya, pemerintah memastikan kesediaan logistik dasar dan skema respon cepat bila ada warga yang perlu dievakuasi akibat terdampak bencana hidrometeorologi.
Pemprov NTB mengimbau masyarakat selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama yang berada dekat tebing, bantaran sungai, dan daerah dengan riwayat longsor.
Baca juga: Pemprov NTB siaga cuaca ekstrem, Komando Terpadu dikerahkan
Sebelumnya, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan lebat di wilayah lereng Gunung Rinjani hingga Gunung Tambora pada dasarian III Januari 2026 atau periode 21-31 Januari.
Analisa BMKG menyebut ada potensi hujan dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per dasarian sebesar 70 hingga lebih dari 90 persen yang diprediksi terjadi di sekitar wilayah Sembalun, Bayan, Labuhan Badas, Pekat, dan Tambora.
BMKG menetapkan status Level Siaga curah hujan tinggi kepada Kecamatan Sembalun dan Sambelia di Lombok Timur, Kecamatan Labuan Badas di Kabupaten Sumbawa, dan Kecamatan Pekat di Kabupaten Dompu.
Adapun status Level Awas untuk Kecamatan Tambora di Kabupaten Bima dengan peluang besar diguyur hujan ekstrem selama periode 21-31 Januari 2026 mendatang.
Baca juga: Cuaca ekstrem, Banjir dan angin kencang landa sejumlah daerah di NTB
Baca juga: Sejumlah perairan NTB masuk zona merah gelombang tinggi
Baca juga: Bibit Siklon Tropis 97S picu cuaca ekstrem di NTB
Baca juga: Damkartan lakukan penanganan tiang listrik roboh di Lombok Tengah