Mataram (ANTARA) - Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk menyerap komoditas pangan setara beras sebanyak 240.660 ton sepanjang 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional dan stabilitas harga di tingkat petani.

Pemimpin Wilayah Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, menjelaskan target tersebut menjadikan NTB kembali sebagai salah satu daerah dengan pengadaan beras terbesar secara nasional, menyusul capaian serapan pada tahun sebelumnya yang melampaui target. 

Penugasan tersebut mencakup pengadaan gabah dan beras secara simultan guna mengoptimalkan serapan saat musim panen raya.

Ia mengatakan pengadaan dilakukan melalui berbagai skema untuk memastikan percepatan penyerapan hasil panen petani di seluruh wilayah kerja Bulog NTB.

"Target serapan tahun ini sebesar 240.660 ton setara beras. Pengadaan tetap dilakukan untuk gabah dan beras sekaligus agar Bulog dapat memaksimalkan penyerapan pada saat panen raya bersama mitra pengadaan," katanya.

Baca juga: Bulog NTB pastikan stok pangan aman selama momen Nataru 2025-2026

Berdasarkan rincian target pengadaan, Bulog NTB merencanakan penyerapan gabah kering panen (GKP) sebesar 407.443.000 kilogram, gabah kering giling (GKG) 24.196.001 kilogram, serta beras sebanyak 18.315.000 kilogram. Jika dikonversikan, total pengadaan tersebut setara dengan 240.660.505 kilogram beras.

Target serapan itu tersebar di sejumlah wilayah sentra produksi pangan di NTB, meliputi Kantor Cabang Sumbawa, Bima, dan Lombok Timur, yang selama ini menjadi lumbung produksi padi utama di daerah tersebut.

Untuk mendukung pencapaian target, Bulog NTB menyiapkan strategi penguatan sarana logistik, salah satunya dengan menambah kapasitas penyimpanan melalui pemanfaatan gudang sewa milik mitra dan pihak swasta.

"Kami menyiapkan gudang sewa dari mitra maupun swasta agar target serapan dapat tercapai sesuai penugasan pemerintah," kata Siregar.

Baca juga: Bulog NTB simpan 167.644 ton beras kebutuhan warga sampai 2027

Selain itu, Bulog NTB juga memperkuat koordinasi lintas sektor dengan TNI dan pemerintah daerah melalui pembentukan Tim Jemput Pangan (TJP), pemantauan lokasi panen, serta pengawasan harga gabah dan beras di tingkat petani agar tidak berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Terkait kebijakan harga, Bulog memastikan HPP tahun 2026 masih mengacu pada ketentuan sebelumnya, yakni Rp6.500 per kilogram untuk GKP, Rp8.200 per kilogram untuk GKG, dan Rp12.000 per kilogram untuk beras, dengan syarat mutu sesuai standar yang ditetapkan.

Baca juga: Stok beras di NTB aman, 167,64 juta kilogram tersimpan di gudang Bulog

Pada 2025, Bulog NTB mencatat realisasi serapan setara beras mencapai 189.862 ton atau sekitar 104,36 persen dari target 181.925 ton.  Menurut Siregar, capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara Bulog, pemerintah daerah, petani, serta mitra penggilingan padi di Nusa Tenggara Barat.

Dengan pengalaman tersebut, Bulog NTB optimistis target serapan tahun 2026 dapat direalisasikan sekaligus menjaga stabilitas harga dan pendapatan petani di wilayah tersebut.

Baca juga: Beras 750 ton tenggelam, Bulog NTB pastikan kerugian ditanggung asuransi


Pewarta : Awaludin
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026