Mataram (ANTARA) - Dinas Pertanian Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat melakukan sosialisasi terkait ancaman penyebaran penyakit ternak LSD (lumpy skin disease) yang merupakan penyakit eksotik kulit akut hingga kronis dan menular.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Mataram Lalu Hapiludin di Mataram, Rabu, mengatakan, gejala penyakit itu hampir mirip dengan PKM (penyakit mulut dan kuku), namun penyebarannya melalui serangga pengisap darah seperti lalat, nyamuk, dan caplak.

"Di Kota Mataram, kasus LSD belum ditemukan. Tapi karena sudah terdeteksi di Bali, jadi kami harus waspada dan antisipasi," katanya.

Upaya antisipasi yang dilakukan dengan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para peternak dan pedagang di pasar hewan dengan menyebar brosur serta membuat spanduk di titik-titik strategis.

Baca juga: Polda NTB membantu pemerintah tangani penyakit ternak di Lombok Tengah

Ia mengatakan, penyakit LSD menyerang ternak berkaki belah seperti sapi, kerbau, dan kambing. Penyakit ini dapat dilihat dari kulit ternak yang mengalami benjol-benjol dan ruam.

Ternak yang terindikasi terserang LSD ditandai dengan gejala demam tinggi, benjol pada kulit, lemah lesu, dan nafsu makan berkurang.

Sementara untuk pencegahan, katanya, dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang, mengendalikan serangga, melakukan penyemprotan disinfektan peralatan dan kandang, isolasi ternak yang sakit, dan pemberian vaksin LSD.

"LSD merupakan penyakit yang bisa sembuh dengan sendiri ketika imun ternak bagus. Karena itu, ternak kami berikan vitamin dan antibiotik untuk meningkatkan imun dan mencegah terjadinya infeksi," katanya.

Baca juga: Vaksinasi PMK di Dompu capai 36.300 ekor ternak sepanjang 2025

Di sisi lain, ia meminta para peternak atau masyarakat yang menemukan gejala LSD, harus segera melapor ke pusat kesehatan hewan (puskesawan), atau langsung ke kantor Dinas Pertanian agar bisa segera di tangani.

Selain itu, dia mengimbau peternak dan masyarakat tidak panik terhadap penyakit LSD tersebut, sebab LSD bukan termasuk penyakit zoonosis sehingga tidak menular ke manusia.

Karena itu, daging ternak yang mengidap penyakit LSD masih bisa dikonsumsi seperti halnya ternak yang memiliki penyakit PMK.

"Tapi sebaiknya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, masyarakat mengonsumsi daging yang Asuh (aman, sehat, utuh, halal)," katanya.

Baca juga: Disnakeswan gerak cepat tangani dugaan PMK di Doroncanga Dompu
Baca juga: Distan Mataram belum temukan penyakit pada hewan kurban