Mataram (ANTARA) - Inaq Sari mengernyitkan kening saat seorang pembeli meminta tambahan sambal. Pedagang nasi campur yang membuka lapak di Mataram, Nusa Tenggara Barat, itu menyampaikan harga cabai rawit sebagai komponen utama pembuatan sambal sedang melambung tinggi.

Siasat untuk menekan biaya produksi adalah dengan mengurangi porsi cabai, sehingga masakan terasa kurang pedas.

Fenomena seperti itu umum terjadi setiap awal tahun. Musim penghujan yang berlangsung sejak Oktober hingga Maret membuat lahan-lahan pertanian dipenuhi padi, sehingga produksi cabai turun drastis.

Di kalangan pemandu wisata ada kelakar bila ingin menikmati cita rasa pedas otentik dari makanan Lombok yang dominan rawit, maka datanglah saat musim kemarau karena harga cabai rawit terbilang murah hanya sekitar Rp20.000 per kilogram.

Namun, jika liburan saat musim penghujan cita rasa makanan Lombok cenderung kurang pedas sebab harga cabai rawit lebih mahal daripada harga beras, daging ayam, ikan, bahkan daging sapi.

Pada Maret 2025, harga cabai rawit merah di Lombok sempat menyentuh angka Rp200.000 per kilogram dan menjadi isu nasional yang disoroti oleh sejumlah menteri hingga Presiden Prabowo Subianto.

Saat pertengahan Februari 2026, harga cabai rawit di Lombok sudah memperlihatkan gelagat kenaikan. Harga eceran tertinggi cabai rawit Rp57.000 per kilogram.

Di pasar induk Mandalika Bertais, Kota Mataram, harga rawit merah berada dalam rentang Rp90.000 hingga Rp95.000 per kilogram. Sedangkan, di pasar-pasar kecil telah menyentuh angka Rp110.000 per kilogram.

Apabila pemangku kebijakan tidak segera mengendalikan harga tersebut, maka bisa jadi harga rawit kembali mencapai Rp200.000 per kilogram pada tahun 2026 mengingat ada momentum Imlek, Ramadhan, dan Lebaran dalam waktu berdekatan yang berkorelasi terhadap tingginya permintaan pasar.


Penyebab utama

Nusa Tenggara Barat adalah salah satu produsen cabai rawit terbesar secara nasional, namun harga rawitnya selalu mahal setiap awal tahun. Lonjakan harga tersebut bukan kebetulan, tapi akibat struktur pasar yang mengalami defisit pasokan.

Puncak musim penghujan yang terjadi pada Januari hingga Februari berdampak langsung terhadap produksi cabai karena banyak tanaman busuk dan terserang penyakit.

Lahan becek akibat diguyur hujan mengganggu proses panen. Faktor cuaca menyebabkan pasokan turun sementara permintaan konsumen tetap tinggi.

Di sisi lain, pola tanam yang tidak merata membuat denyut suplai cenderung rendah. Petani menanam cabai serempak saat musim kemarau karena saat itu penyakit tanaman relatif sedikit, seperti layu, busuk batang, keriting daun hingga serangan hama kutu putih.

Ketika musim penghujan jarang ada petani yang menanam cabai, karena itu adalah musim menanam padi. Fenomena peralihan komoditas lumrah terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki lahan pertanian sempit, terkhusus daerah kepulauan.

Dalam setahun, satu petak lahan pertanian bisa untuk tiga komoditas yang ditanam bergantian, yakni enam bulan tanam padi, tiga bulan tanam jagung/bawang, dan tiga bulan tanam cabai/tomat. Beberapa daerah juga acapkali melakukan tumpangsari tembakau dengan cabai.

Walau produksi sedang menurun di tingkat petani, para pedagang besar tetap menjual stok ke luar daerah karena harga lebih menarik. Kondisi itu menyebabkan pasokan lokal semakin menipis dan harga kian mahal.

Efek psikologis pasar turut mendongkrak harga lantaran cabai merupakan komoditas yang cepat rusak dan rentan terhadap perubahan cuaca. Ketika ada kabar gagal panen, maka pedagang cenderung menahan stok dan bermain margin.

Kombinasi tiga tekanan sekaligus tersebut berupa cuaca, pola produksi, dan rantai distribusi berperan besar dalam kenaikan harga cabai di Nusa Tenggara Barat.


Solusi hulu ke hilir

Harga cabai rawit merah melambung setiap awal tahun merupakan sinyal kuat adanya persoalan mendasar dalam bidang pengelolaan pangan daerah.

Solusi untuk mengatasi masalah yang selalu berulang tersebut tidak cukup hanya dengan satu atau dua kebijakan, tetapi harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu sampai hilir.

Kegiatan operasi pasar adalah solusi jangka pendek yang bertujuan menambah suplai di level masyarakat secara cepat agar harga komoditas menurun. Gerakan pangan murah harus dilakukan simultan dan rutin di semua daerah.

Pemerintah perlu mengendalikan distribusi dengan melakukan pembatasan sementara terhadap penjualan cabai ke luar daerah. Para pedagang besar hingga eksportir harus dirangkul agar mereka mau memprioritaskan pasar lokal terlebih dahulu.

Kebijakan pembatasan distribusi tersebut agak sensitif secara politik, namun sangat efektif secara ekonomi karena stok barang di daerah produsen melimpah.

Kalender pertanian yang terkoordinasi antar daerah juga perlu disusun dengan berbasiskan data saintifik agar musim tanam terjadwal sesuai kondisi cuaca, sehingga mengoptimalkan produksi hasil panen dan meminimalkan risiko kerugian.

Fenomena perubahan iklim membuat cuaca kini berubah cepat dan La Nina menjadi lebih sering datang menghantui para petani. Situasi itu berdampak terhadap sektor pertanian yang sangat bergantung terhadap kestabilan cuaca.

Petani tidak bisa lagi menjalankan praktik budidaya cabai secara tradisional di lahan-lahan pertanian terbuka yang hanya berpatokan terhadap kalender musim. Mereka harus dibekali dengan greenhouse hingga varietas tanaman tahan penyakit, sehingga petani bisa terus menghasilkan cabai sepanjang tahun.

Masalah utama budidaya cabai adalah petani takut rugi bila menanam saat musim penghujan. Oleh karena itu, asuransi harus tersedia agar petani berani menanam komoditas cabai.

Skema insentif yang memadai membuat petani merasa terlindungi, sehingga mereka bisa totalitas bekerja menghasilkan komoditas rawit yang sangat sensitif terhadap cuaca.

NTB butuh gudang pendingin atau cold storage skala besar yang berfungsi sebagai jaring pengaman untuk mengantisipasi lonjakan permintaan tidak terduga atau gangguan rantai pasok. Fasilitas cold storage membutuhkan banyak energi listrik, sehingga pemerintah perlu memberikan subsidi agar biaya listrik tidak menjadi beban operasional.

Harga cabai mahal tidak selalu menguntungkan petani karena hasil panen saat musim penghujan turun sekitar 30 sampai 50 persen ketimbang hasil panen saat musim kemarau. Belum lagi, tambahan biaya penanganan hama dan penyakit tanaman juga membengkak.

Selama persoalan hilir hingga hulu tersebut belum dibenahi oleh pemangku kebijakan, maka kenaikan harga cabai akan selalu menjadi pola tahunan yang terjadi saat puncak musim penghujan.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ketahanan pangan NTB di ambang Ramadhan: Stok aman, harga berguncang
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Bawang Putih NTB vs impor: Ujian kedaulatan pangan