Mataram (ANTARA) - Di Pulau Sumbawa, tradisi Mangan Roa tidak terpusat pada satu desa tertentu, melainkan tersebar di sejumlah wilayah komunitas Samawa dengan variasi lokal. Praktik ini tercatat dijalankan di kawasan pedalaman maupun pesisir, antara lain di wilayah sekitar Empang, komunitas pegunungan seperti Batu Rotok (Kecamatan Batu Lanteh), serta sejumlah desa lain yang mempertahankan tradisi membawa dulang makanan ke ruang komunal, biasanya masjid. Persebaran ini menunjukkan bahwa Mangan Roa bukan ritus milik satu kampung, melainkan praktik kultural lintas komunitas dalam lanskap budaya Sumbawa. Waktu pelaksanaannya pun tidak tunggal: paling sering dilakukan menjelang Ramadan, tetapi di beberapa tempat juga muncul pada Idul Fitri, Idul Adha, atau momentum syukuran kolektif lain.
Tulisan ini memandang Mangan Roa bukan sebagai folklor lokal, melainkan sebagai jendela untuk memahami struktur terdalam kehidupan sosial manusia. Sebuah bentuk ekspresi dari kebutuhan manusia untuk mengatasi keterpisahan eksistensial.
1. Makan sebagai Fakta Biologis, Makan Bersama sebagai Fakta Sosial
Émile Durkheim pernah menyatakan bahwa fakta sosial adalah cara bertindak yang berada di luar individu namun mengikat individu. Makan adalah kebutuhan biologis; tetapi makan bersama adalah fakta sosial. Tidak ada hukum alam yang mewajibkan orang makan berkelompok, itu pilihan budaya.
Dalam Mangan Roa, transformasi itu tampak jelas: makanan yang semula milik rumah tangga privat dipindahkan ke ruang komunal. Tindakan sederhana ini mengandung logika sosial yang kuat: kepemilikan dilonggarkan, identitas dipertemukan, jarak sosial dipendekkan. Tanpa pidato moral berbusa-busa, masyarakat sudah mempraktikkan etika berbagi.
2. Tata Bahasa Simbolik di Balik Dulang
Antropolog struktural seperti Claude Lévi-Strauss mengajarkan bahwa praktik budaya dapat dibaca seperti bahasa. Jika Mangan Roa adalah kalimat, maka unsur-unsurnya adalah kosakata simbolik: dulang → wadah kolektivitas; makanan rumah → identitas keluarga; makan bersama → penghapusan sementara batas sosial
Ritual ini bekerja seperti tata bahasa: orang mungkin tidak sadar strukturnya, tetapi mereka mengikutinya. Justru karena tidak disadari, ia efektif. Ia menanamkan rasa kebersamaan bukan lewat teori, melainkan pengalaman tubuh.
3. Komensalitas sebagai “Teknologi” Sosial
Dalam antropologi pangan, praktik makan bersama disebut commensality. Para peneliti melihatnya sebagai teknologi sosial purba, yakni mekanisme untuk menghasilkan solidaritas tanpa institusi formal. Dalam masyarakat modern, fungsi serupa dijalankan oleh kontrak hukum, birokrasi, atau sistem kesejahteraan. Dalam masyarakat komunal, satu “meja makan” sudah cukup.
Mangan Roa menjalankan fungsi itu melalui tiga proses sekaligus:
|
Dimensi |
Proses |
Hasil |
|
Ekonomi |
berbagi makanan |
redistribusi informal |
|
Sosial |
duduk bersama |
penguatan relasi |
|
Moral |
makan kolektif |
rasa setara |
Dengan kata lain, satu ritual menghasilkan tiga efek sistemik. Ia adalah “lembaga sosial mini” yang tidak pernah didirikan secara resmi tetapi selalu berfungsi.
4. Fenomenologi Kebersamaan
Pendekatan fenomenologi membantu memahami mengapa pengalaman makan bersama terasa berbeda dari makan sendirian. Tubuh bukan hanya alat biologis; ia juga medium relasi. Ketika orang makan bersama, ritme mengunyah, aroma makanan, suara percakapan, dan gerak tangan menciptakan sinkronisasi pengalaman. Tubuh menjadi selaras.
Sinkronisasi ini menghasilkan sensasi yang sulit dijelaskan secara rasional tetapi mudah dikenali: rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Itulah pengalaman kebersamaan dalam bentuk paling konkret.
5. Tradisi Lokal, Pola Universal
Yang menarik, pola seperti Mangan Roa muncul di berbagai peradaban: pesta panen, kenduri, jamuan ritual, perjamuan sakral. Bentuknya berbeda, strukturnya sama. Ini mengisyaratkan bahwa praktik tersebut bukan sekadar kebiasaan budaya tertentu, melainkan ekspresi kebutuhan manusia yang lebih dalam, kebutuhan untuk menegaskan bahwa hidup tidak dijalani sendirian.
Antropologi menyebut pola berulang lintas budaya seperti ini sebagai struktur mendalam kehidupan sosial: bentuk yang terus muncul karena ia menjawab persoalan dasar manusia, yaitu bagaimana hidup bersama tanpa tercerai.
6. Kritik Sunyi terhadap Individualisme
Di dunia modern, makan semakin sering menjadi aktivitas soliter: cepat, efisien, personal. Dalam logika ekonomi, ini masuk akal. Dalam logika sosial, ada sesuatu yang hilang. Praktik seperti Mangan Roa tidak menolak modernitas secara terbuka, tetapi ia menyimpan kritik sunyi: kehidupan manusia tidak cukup ditopang oleh efisiensi; ia juga membutuhkan persekutuan.
Tradisi ini mengingatkan bahwa sebelum manusia menjadi makhluk ekonomi, ia adalah makhluk komunal. Sebelum ada pasar, sudah ada meja makan bersama.
7. Penutup: Ontologi Sebuah Hidangan
Jika harus dirumuskan secara filosofis, makna terdalam praktik seperti Mangan Roa bukan terletak pada makanannya, melainkan pada relasinya. Makanan hanyalah medium; kebersamaan adalah pesan. Manusia makan untuk bertahan hidup. Manusia makan bersama untuk menegaskan bahwa hidup itu layak dijalani karena ada orang lain di sekelilingnya.
*) Penulis adalah Koordinator Tim Peneliti BRIN untuk Pengkajian Keberadaan Masyarakat Adat di Sumbawa
COPYRIGHT © ANTARA 2026