Jakarta (ANTARA) - Hubungan historis Nusantara dan Tiongkok yang telah terjalin selama berabad-abad menyisakan jejak di berbagai sisi termasuk budaya, khususnya dalam bidang seni dan tradisi.
Jejak itu, misalnya, ada pada kain batik. Interaksi dua budaya yang melintasi lautan dan daratan tersebut kemudian tercermin dalam wastra yang memadukan motif, simbol, dan estetika Tiongkok dengan kearifan lokal.
Sebagian dapat dilihat dalam pameran “Batik Silang Budaya di Atas Kain: Kisah Batik dan Pengaruh Budaya Tiongkok” di Museum Tekstil, Jakarta, yang diadakan dalam memperingati Hari Raya Imlek.
Sebanyak 81 koleksi batik dan sulaman batik milik Museum Tekstil dipamerkan hingga Mei 2026, seperti dikatakan Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Sri Kusumawati.
Di antara koleksi batik yang dipamerkan, salah satu yang menarik yakni Tok Wie, yakni kain penutup altar dalam upacara-upacara di Tiongkok. Kain ini aslinya berbahan sutera dengan sulaman mewah, menggunakan benang-benang berwarna.
Tok Wie
Tok Wie dipenuhi figur-figur mitologi Tiongkok seperti burung hong, naga, dan kilin (terkadang dikira singa barong), yang semuanya berhubungan dengan simbol kebaikan.
Burung hong melambangkan permaisuri, keindahan, dan perdamaian. Kemudian naga yang melambangkan kaisar, kewibawaan, dan ketegasan. Sementara kilin merupakan perpaduan beberapa hewan rusa atau kuda (badan), sisik naga, singa (kepala), dan rusa (tanduk).
Kilin menurut kepercayaan masyarakat Tiongkok hidup berdampingan dengan api. Walaupun digambarkan sebagai figur berparas seram atau jahat, namun ia selalu membawa kebaikan.
Pada Tok Wie juga bisa dijumpai figur burung bangau yang dipercaya mengandung makna panjang umur. Masyarakat Tiongkok meyakini burung bangau bisa hidup lebih dari 100 tahun.
Ada juga delapan dewa yang menggambarkan delapan kehidupan di dunia seperti muda-tua, kaya-miskin, rakyat jelata-kaum ningrat, dan pria-wanita.
Tok Wie menggunakan warna merah yang dipercaya membawa keberuntungan karena asosiasinya dengan kehidupan dan matahari.
Niverga, salah seorang pemandu magang di Museum Tekstil mengungkapkan Tok Wie paling banyak menarik perhatian pengunjung dari kalangan pelajar sekolah dasar dan menengah pertama. Mereka penasaran dengan figur kilin yang kerap disangka barongsai.
Adapun saat Tok Wie dibawa orang Tiongkok ke Nusantara terutama ke pesisir Jawa seperti Lasem, Jawa Tengah. Di sana, motif itu dibikin menjadi batik dengan bahan katun.
Batik-batik dari Lasem pun identik dengan warna cerah seperti merah, namun berbeda dengan merah pada umumnya. Faktor air dan tanah di Lasem memunculkan warna merah yang kerap disebut merah darah ayam.
Warna cerah juga bisa ditemukan di Pekalongan dan Cirebon dan sebenarnya menjadi ciri khas batik-batik pesisiran. Ini karena dipengaruhi budaya luar akibat interaksi dagang dengan Tiongkok, India, Arab, dan Eropa.
Seorang pengunjung Museum Tekstil yang menggemari batik, Deviana (27), mengaku mengagumi batik asal Lasem. Selain karena menyukai warna yang cerah, eye catching, unsur Tiongkok dalam batik juga menjadi daya tarik baginya.
Wanita penganut gaya kasual itu kerap menjadikan batik Lasem sebagai pelengkap busana di acara-acara yang mewajibkan pemakaian batik. Misalnya saat menghadiri acara kantor atau bertema budaya, dia menjadikan batik sebagai wrap skirt, rok yang dikenakan dengan cara melilitkan kain mengelilingi pinggang.
Dari Lasem, mari beralih ke Cirebon yang juga mendapat pengaruh dari Tiongkok. Batik Cirebon, yang identik dengan motif mega mendung terinspirasi dari unsur budaya Tiongkok. Motif ini melambangkan ketenangan, kesabaran, dan pengendalian diri seperti awan mendung yang tenang namun membawa kesejukan dan hujan yang menyuburkan.
Warna yang sering digunakan, antara lain, biru, merah, hijau, dan abu-abu dengan gradasi khas yang menambah kesan dinamis. Ketua Satuan Pelaksana Koleksi, Informasi, dan Edukasi Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Ardi Hariyadi menyampaikan, batik Cirebon umumnya terdiri dari lima hingga tujuh lapisan gradasi warna paling gelap di bagian dalam, lalu semakin terang ke arah luar.
Berpadu dengan mega mendung, ditambahkan juga motif bunga teratai yang melambangkan kemurnian. Bunga teratai bisa hidup mekar atau hidup dengan cantik walaupun tumbuh di lumpur.
Piring selampad
Masih dari Cirebon, ada juga motif piring selampad yang terinspirasi dari porselen Tiongkok yang dipakai sebagai hiasan di dinding Astana Gunung Jati Cirebon. Piring selampad merupakan piring untuk sajian selamatan. Merupakan piring terbaik milik raja-raja Tiongkok yang diberikan kepada Raja Cirebon.
Menyusuri lebih dalam Batik Cirebon, ada motif banji di sana, yang berbentuk persegi bersilang. Motif ini terinspirasi dari ornamen Swastika di India, kemudian diadopsi masyarakat Tiongkok dan dibawa ke Nusantara.
Banji sebenarnya berasal dari kata "ban" yang berarti sepuluh dalam Bahasa Mandarin, dan "dzi/zi" berarti ribu, sehingga banji atau banzi artinya 10 ribu.
Masyarakat memaknai banji sebagai kebahagiaan dan rezeki yang berlimpah. Karenanya motif ini terus diulang-ulang di kain dengan harapan rezeki bisa terus berlimpah.
Dari Cirebon, mari beralih ke Pekalongan yang dikenal memiliki motif batik buketan (buket bunga). Ada tambahan kupu-kupu di kain yang melambangkan keindahan.
Kupu-kupu ini terinspirasi dari cerita rakyat masyarakat Tiongkok tentang sejoli yang tak bisa bersatu karena perbedaan status sosial, hingga kematian memisahkan mereka. Masyarakat percaya sejoli itu kemudian berubah menjadi kupu-kupu dan akhirnya bisa bersama.
Tak melulu batik, jejak akulturasi Nusantara-Tiongkok juga diabadikan dalam busana pengantin Tiongkok di Sumatra. Busana dengan dominasi warna merah atau hijau itu diadopsi menjadi baju kurung dengan tambahan motif seperti burung hong.
Interaksi yang bahkan melintasi lautan dan daratan lalu membentuk pertukaran budaya dapat meninggalkan jejak yang masih bisa disaksikan hingga saat ini, termasuk dalam batik. Mari menyusuri kisah sejarah khususnya akulturasi budaya Nusantara dan Tiongkok yang terekam dalam batik.
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026