Mataram (ANTARA) - Kakao selama ini tumbuh sebagai tanaman harapan di negeri-negeri tropis. Ia menghidupi jutaan keluarga petani, mengisi rantai pasok industri cokelat dunia, sekaligus menjadi bagian dari diskursus perdagangan adil dan nilai tambah global. 

Namun pola lama tak pernah benar-benar berubah. Daerah penghasil kerap berhenti pada bahan mentah, sementara keuntungan terbesar dinikmati pada tahap pengolahan dan pemasaran.

Struktur rantai nilai global memperlihatkan betapa rapuh posisi petani. Ketika suplai meningkat di negara produsen utama, harga internasional turun. Dampaknya menjalar hingga kebun-kebun kecil di pelosok desa. 

Fluktuasi ini bukan sekadar angka di bursa komoditas, melainkan realitas pendapatan keluarga tani. Dalam situasi seperti itu, hilirisasi bukan lagi pilihan kebijakan, melainkan kebutuhan struktural.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), konteks tersebut menemukan wajah konkretnya. Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, menjadi salah satu sentra kakao yang kini kembali ditata. Ribuan bibit ditanam ulang, disertai komitmen pemerintah daerah agar komoditas unggulan tidak berhenti sebagai bahan mentah. 

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB menunjukkan sekitar 60 persen perkebunan kakao berada di Lombok Utara, dengan produksi 1.669 ton biji kering per hektare dan melibatkan sekitar 4.600 kepala keluarga.

Angka itu menjanjikan, terlebih ketika harga sempat menyentuh Rp140 ribu per kilogram pada Desember 2024. Namun pasar kakao global tak pernah stabil. 

Pada November 2025, harga referensi internasional turun 14,53 persen menjadi 6.374,80 dolar AS per metrik ton akibat kenaikan suplai global, terutama dari Pantai Gading. Harga patokan ekspor ikut terkoreksi. Fakta ini menegaskan ketergantungan pada pasar global menyisakan kerentanan.

Karena itu, wacana hilirisasi yang didorong Pemerintah Provinsi NTB harus dibaca sebagai langkah strategis. Konsepnya jelas, yakni komoditas tidak berhenti di kebun, tetapi diolah menjadi produk bernilai tinggi. Logika yang sama yang mendorong pengolahan kelapa menjadi berbagai turunan industri, semestinya diterapkan pada kakao.

Lombok Utara memiliki kekhasan genetik yang layak diangkat. Varietas Ijo Kajuman dikenal produktif dan tahan penyakit. Persilangan yang melahirkan Beneng Jomot menunjukkan inovasi lokal terus berkembang. 

Langkah BRIDA NTB mendorong sertifikasi varietas unggul ke BRIN dan Kementerian Pertanian patut diapresiasi. Perlindungan hukum atas varietas bukan sekadar administrasi, tetapi instrumen daya saing agar kekayaan lokal tidak diklaim pihak lain.

Meski demikian, hilirisasi tidak boleh berhenti pada sertifikat dan seremoni. Pengalaman program Kampung Kakao 2018 menjadi pelajaran penting. Saat itu, pengembangan lahan dan rencana produksi cokelat bermerek Lombok digagas, bahkan pengolahan direncanakan di luar daerah demi efisiensi. Jika biji tetap dikirim keluar untuk diolah, NTB hanya menikmati margin primer. Rantai nilai terbesar tetap berada di luar.

Hilirisasi sejati menuntut keberanian membangun industri pengolahan di dalam daerah, meski bertahap dan berbasis koperasi. Rumah produksi skala desa yang terstandar lebih realistis dibanding menunggu investor besar. Nilai tambah harus berputar di desa, bukan keluar sebelum sempat dinikmati petani.

Akses pembiayaan menjadi simpul penting. Skema closed loop yang didorong OJK NTB bersama perbankan perlu diperluas agar petani tidak terjerat pembiayaan informal. Tanpa dukungan modal sehat, sulit membangun unit fermentasi, mesin pengolahan, hingga pengemasan premium. 

Di saat yang sama, standar mutu harus ditingkatkan. Pasar specialty chocolate menuntut fermentasi terkontrol, kadar air presisi, dan ketertelusuran asal produk.

Kakao NTB berada di persimpangan. Potensi lahan, inovasi varietas, dan dukungan kebijakan membuka peluang. Namun tanpa integrasi industri, riset terapan, dan penguatan koperasi, ketergantungan pada harga global akan terus membayangi. 

Integrasi dengan sektor pariwisata Lombok Utara pun dapat menjadi strategi diferensiasi, menjadikan cokelat lokal sebagai bagian dari identitas daerah.

Pilihan ada pada keberanian daerah keluar dari jebakan bahan mentah. Menjual biji berarti mengikuti grafik dunia. Menjual produk olahan, cerita varietas, dan identitas geografis berarti membangun kemandirian. 

Masa depan kakao NTB ditentukan oleh keputusan hari ini: berhenti sebagai pemasok bahan baku atau melangkah menjadi pemain dalam rantai nilai yang lebih adil dan berkelanjutan.

Baca juga: Ikuti Tajuk ANTARA NTB, Wawasan lengkap soal NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Pusat riset Teluk Ekas: Ambisi atau slogan?
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ramadhan di sekolah Mataram: Antara seremoni dan substansi
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Skandal narkoba Kapolres Bima Kota, Ujian integritas
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ketahanan pangan NTB di ambang Ramadhan: Stok aman, harga berguncang
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Bawang Putih NTB vs impor: Ujian kedaulatan pangan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Darurat Narkoba di Bima: Benteng hukum retak dari dalam
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Pers sehat menuju Indonesia Emas
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Akhmad Munir: Rock n' Roll dan langkah sunyi seorang jurnalis
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Kemiskinan NTB: Turun, tapi rentan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Di balik layar NTB Makmur Mendunia
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Bali dan Lombok: Gerbang wisata di bawah bayang Nipah





COPYRIGHT © ANTARA 2026