Serang, Banten (ANTARA) - Integritas adalah fondasi yang tak bisa ditawar dalam dunia pers yang kian kompleks. Di tengah arus disinformasi digital, polarisasi politik, dan tekanan terhadap independensi redaksi, kepercayaan publik menjadi mata uang utama yang menentukan keberlangsungan jurnalisme.
Dewan Pers mencatat indeks kemerdekaan pers masih menghadapi tantangan serius. Situasi ini menuntut lebih dari sekadar profesionalisme teknis; ia membutuhkan keteguhan nilai dan kepemimpinan yang memberi teladan.
Dalam konteks itulah buku Langkah Sunyi Menuju Puncak karya wartawan ANTARA Abdul Hakim menemukan relevansinya. Biografi setebal 266 halaman yang diperkenalkan pada rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Serang, Banten, ini tidak berhenti pada deretan jabatan.
Ia menelusuri fondasi nilai yang membentuk integritas seorang jurnalis. Akhmad Munir, yang pernah memimpin Perum LKBN ANTARA periode 2023–2025 dan kini dipercaya sebagai Ketua Umum PWI Pusat periode 2025–2030, digambarkan bukan semata melalui capaian struktural, melainkan melalui proses panjang yang membentuk karakter.
Salah satu sisi paling menarik adalah fase masa muda Munir yang lekat dengan semangat Rock n’ Roll. Musik keras dan panggung sederhana menjadi ruang ekspresi yang menumbuhkan keberanian bersuara.
Rock n’ Roll dihadirkan bukan sekadar genre, melainkan energi perlawanan terhadap batas dan ketakutan. Dari sana terbentuk mentalitas untuk berdiri tegak di hadapan publik, menerima kritik, dan mengelola tekanan.
Pengalaman panggung itu menjadi latihan awal menghadapi dinamika ruang redaksi. Di atas panggung, seorang musisi belajar tentang disiplin, solidaritas, dan konsistensi.
Di ruang jurnalistik, pelajaran tersebut menjelma keberanian menyampaikan fakta, sekalipun tidak populer. Transformasi dari musik ke jurnalisme menunjukkan bahwa integritas tidak selalu lahir dari jalur yang linear. Ia sering tumbuh dari pergulatan identitas dan pengalaman yang beragam.
Namun biografi ini tidak berhenti pada romantisme masa muda. Dunia jurnalistik menjadi ruang pengabdian yang sesungguhnya. Fase sebagai reporter lapangan, tekanan tenggat, serta tuntutan akurasi menjadi sekolah integritas yang membentuk keyakinan bahwa berita bukan sekadar produk informasi, melainkan tanggung jawab moral. Dalam negara demokrasi, kepercayaan publik terhadap media adalah fondasi yang menentukan kualitas kehidupan berbangsa.
Buku ini juga mengingatkan bahwa tantangan pers tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam. Komersialisasi berlebihan, kecepatan tanpa verifikasi, dan fragmentasi organisasi profesi menjadi ujian nyata.
Dalam situasi demikian, kepemimpinan tidak cukup dimaknai sebagai simbol jabatan. Ia harus hadir sebagai teladan integritas dan komitmen menjaga etika.
Istilah “langkah sunyi” menjadi metafora penting. Ia menandai konsistensi tanpa gemerlap, kerja keras tanpa sensasi, dan kesetiaan pada nilai di tengah godaan pragmatisme.
Saat memimpin kantor berita negara dan organisasi wartawan, Munir dihadapkan pada realitas bahwa pers bukan sekadar industri, melainkan institusi publik dengan dimensi kebangsaan.
ANTARA, sebagai kantor berita negara, memikul mandat pelayanan publik yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Kepemimpinan yang menempatkan integritas di atas kepentingan sesaat menjadi syarat mutlak.
Refleksi yang ditawarkan buku ini melampaui kisah personal. Ia mengarah pada kebutuhan regenerasi pers yang lebih sistematis. Pendidikan jurnalistik perlu diperkuat, literasi media masyarakat harus ditingkatkan, dan organisasi profesi didorong membangun budaya kolaboratif.
Negara pun berkewajiban memastikan keberlanjutan media berbasis kepentingan publik tanpa mengurangi independensi redaksi.
Rock n’ Roll memberi energi, jurnalisme memberi arah. Di persimpangan keduanya, integritas menemukan bentuknya sebagai proses panjang, bukan hasil instan.
Tantangan pers ke depan bukan sekadar mencapai puncak, melainkan menjaga kepercayaan publik agar tetap tegak. Langkah sunyi, dalam makna itu, menjadi kompas yang relevan bagi masa depan jurnalisme Indonesia.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Kemiskinan NTB: Turun, tapi rentan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Di balik layar NTB Makmur Mendunia
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Bali dan Lombok: Gerbang wisata di bawah bayang Nipah
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menjaga pantai Mataram dari rob dan abrasi
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Membaca arah remitansi pekerja migran NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menguji batas legalisasi tambang rakyat di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata Udayana, Menata wajah kota
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Lakey Dompu dan gagalnya ruang aman bagi anak
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menakar arah keterbukaan informasi NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Alarm BPK dan ujian tata kelola NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tragedi Sekotong dan retaknya nurani keluarga
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Surplus padi NTB dan tantangan menjaganya
COPYRIGHT © ANTARA 2026